Selamat Jalan Adik-Adik Didikku, Tempuh Hidup Barumu!

Selamat Jalan Adik-Adik Didikku, Tempuh Hidup Barumu!

perpisahan guru dan murid, kata kata perpisahan guru untuk murid, hubungan guru dan murid, kata kata perpisahan guru kepada murid, ucapan terima kasih untuk guru, cerita guru dan murid, cerita ujianSenin, 8 Februari 2016

Adik-adik didikku di lembaga kursus SEA melaksanakan uji kompetensi hari ini. Berhubung libur Imlek, mereka akan menempuh proses dari pagi. Tadinya daku agak tercenung, mengingat tes atau ujian diadakan di waktu libur. Namun rupanya semua itu sudah kesepakatan bersama. Ya sudah…

Pimpinan lembaga, Pak Yudi, dengan baiknya menanyakan jadwal mengawasku pengin jam berapa. Tanpa ragu, daku memilih siang. Kelas manapun, yang daku ajar atau tidak, ndak dipedulikan. Namun di waktu paginya daku mesti mempersiapkan kudapan untuk menyambut tamu dari dinas. Siap!

Daku rasa, ujian hanyalah salah-satu formalitas yang suka tidak suka mesti dilalui. Kecuali kalau ujian tersebut benar-benar menutup jalan kecurangan. Tanggapanku mungkin lain lagi. Tapi daku tercenung mendengar seorang murid, Cindy, berseru pada teman-temannya,

“Ayo! Jangan malu-maluin Teh Ririn atuh!”

Ya, dia adalah salah-satu muridnya Ririn, rekanku di LKP. Seketika daku langsung teringat pada kelas-kelasku sendiri. Well, sebenarnya daku berbagi pengawasan kelas dengan Rudi, rekanku juga di lembaga kursus. Jadwal yang daku kurangi membuatku tak mampu mengelola semua kelas secara utuh. Kini kami berdua tengah mengawas sebagian dari mereka.

“Tuh Si S murid siapa, ya?” tanya Rudi di sela-sela ujian, tentu dengan nada bercanda.

“Murid kamu, Rud,” jawabku, yang langsung menerima lirikan tajam dari S.

“Murid Teh Dian,” kata Rudi lagi.

“Apaan?!” S menyela, “Daku murid kalian berdua.”

“Ha ha ha…”

Don’t get us wrong. S itu menurutku bisa menjadi siswi yang pintar. Hanya saja dia jarang datang, dan nampak jarang memerhatikan. Mungkin dia memang tidak terlalu memprioritaskan. Entahlah, itu terserah dia.

~

Daku tak memiliki kesempatan untuk bertemu “terakhir kalinya” dengan semua murid yang ditangani. Karena itu, daku tanyakan pada pengawas lain tentang proses ujiannya rombongan kelas CPU 1 dan 2. Sementara untuk Processor 1 & 2, daku yang mengawas beberapa diantara mereka. Mereka adalah Een, Lulu, Eli, Nur, Opi, Ica, Ina, Genta, dan Sintia. Sebelum pulang, mereka juga sempat mengutarakan sesuatu yang mungkin dianggap “kata-kata perpisahan”. Haha…

“Maaf kalau ketika mengajar, kami sering enggak bisa…”

“Maaf suka minta pulang…”

“Maaf kalau sering bercanda…”

Oke. Rata-rata mengucapkan “maaf” serta “terima kasih”. Kami kemudian bersalaman, bahkan ada yang berpelukan. Mereka begitu takdzim, dan terus mengulang “maaf” dan “makasih”. Daku membalasnya dengan sedikit bercanda, hanya untuk mencairkan suasana. Tapi permohonan maafku pada mereka memang serius. Disadari atau tidak, daku pun pasti pernah meluapkan kesalahan. Maaf, ya! ^_^

Pertemuan kami hanya sekitar 4 bulan. Itu pun seminggu se-kali, sebab daku serahkan hari lainnya pada Rudi. Jadi kalau dirata-ratakan, kami hanya bertemu sebanyak 16 kali. Selama itu… mereka sudah memberi warna tersendiri. Salah besar kalau daku dianggap sebagai “pihak” satu-satunya yang mengajar mereka. Sebab, daku sendiri belajar banyak dari mereka. Kami memulai pembelajaran, berproses, memecahkan masalah, mengaduk kenangan, dan mencapai titik di mana semuanya mesti selesai.

Kebetulan untuk periode ini murid-muridnya berasal dari kelas XII. Daku harap mereka tetap mempertahankan semangat. Well, selamat menempuh hidup baru sebagai lulusan sekolah menengah atas, sekaligus lembaga kursus yang sudah memberikan setitik kemampuan pada kalian. Berkah selalu hidupmu. Aamiin. #RD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *