Tahan! Bunuh Dirinya Besok Saja, Ya!

Tahan! Bunuh Dirinya Besok Saja, Ya!

bunuh diri, waktu bunuh diri, bunuh diri dalam islam, bunuh diri demi cinta, cara bunuh diri, cara bunuh diri paling cepat, cerita bunuh diri, cerita bunuh diri nyata, ingin bunuh diri, ingin bunuh diri tapi takut mati, rasanya ingin bunuh diri

By: William Faulkner via IG: @deeannrose

Ada yang sudah berencana melakukan bunuh diri?

Senja kemarin, daku menulis sebuah topik yang sebenarnya kurang disukai dan juga dikuasai. Namun sebagai content writer untuk blog lain juga, tentu daku mesti menepis sejenak semua rasa dan selera itu. Daku harus menggantinya dengan sikap yang kata orang, profesional. Paling tidak, passion menulis tetap menyala. Dan daku, sangat berterima kasih untuk itu.

Tak terbayangkan bila daku bekerja atau beraktivitas tanpa passion. Tak terbayangkan bila daku sudah mendapat job sesuai selera, namun orang yang ingin dibahagiakan justeru sudah tiada. Tak terbayangkan jika kita menanggung beban, tapi tak kuasa berbagi pada siapa-siapa. Tak terbayangkan kalau kita seperti memiliki segalanya, namun jauh di lubuk hati justeru merasa hampa. Sangat hampa.

Tak terbayangkan… kalau kita menjalani hidup dengan makruh. Masih hidup, tapi pengin sudahan saja. Iya pengin mati, tapi masih ragu. Takut dosa, takut sakit, takut justeru lebih buruk, dan takut… karena kita sama-sekali tidak tahu, apa iya kematian itu mengakhiri segala penderitaan selama ini? Apa iya dengan kematian itu adalah keadaan yang lebih baik? Kita TIDAK TAHU.

Di Usia Dini Sudah Terobsesi untuk Mati

hidup itu singkat, ilustrasi hidup itu singkat, cara bunuh diri, hidup ini sangat singkat, singkatnya hidup di dunia, perjalanan hidup yang singkat, hidup ini sangat singkat, singkatnya hidup di dunia, hidup ini terlalu singkat, hidup ini singkat tidak ada waktu, motivasi hidup

By: Lom Heng Swee via IG: @deeannrose

Pikiran itu membuat aktivitas menulisku yang sudah selesai jadi berganti. Daku memilih “berkunjung” ke berbagai blog, dan hinggap lama di salah-satu blog yang ada. Ceritanya si empunya blog yang masih muda bilang secara terbuka, ia pengin bunuh diri saja. Ia begitu terobsesi dengan kematian.

Daku tak akan menghakimi dia sebagai seseorang yang super tolol, tak tahu diri, atau pendosa besar yang tak layak mendapat ampunan. Tidak. Daku bukan dia. Daku tak tahu detail ceritanya, sehingga tak memahami bagaimana kalau menjadi dia.

Disimak dari kisah yang ia uraikan, kehidupannya malah terlihat sempurna. Latar belakang kenapa ia pengin bunuh diri bukanlah masalah ekonomi, cinta, rasa cemburu, problem keluarga, dsb. Simpel, tapi rumit. Karena ia merasa tak bahagia, merasa hampa, dan merasa… hidup memang untuk mati. Dan dia memproklamirkan kesiapan dirinya untuk mati detik itu juga. Mati muda.

Uraiannya panjang. Intinya di bagian paling bawah blog, ada catatan tambahan bahwa blogger itu masih hidup dan aktif menulis di berbagai media, khususnya tentang masalah kejiwaan dan semacamnya.

Ending yang cukup melegakan. Tapi…

Komentar-komentar yang masuk di blog itu sangat banyak. Pokoknya banjir respons. Dan yang mengejutkan, sebagian besar dari mereka malah sama-sama memiliki niat seperti sang blogger. Oh… daku tak membaca satu per satu, hanya random saja. Di dalamnya ada rasa jengah, kesakitan parah, dan kebingungan tak tahu arah.

Daku pengin ikut komentar, tapi apa dan bagaimana? Rata-rata kehidupan mereka sedang kacau. Daku tak tahu pasti seberapa efektifnya nasihat atau bualanku untuk meredakan emosi mereka yang bergejolak. Ternyata tak semudah itu untuk berada di posisi “hey teman, daku ngerti kamu, kok!”.

Yang jelas, daku yakin rasa sakit atau kehampaan mereka terhadap kehidupan ini sudah mencapai ubun-ubun. Daku juga yakin, mereka belum menemukan atau merasakan “suatu kekuatan” yang Maha Besar untuk bertahan. Sehingga kemauan yang tumbuh hanya… mengakhiri segalanya.

Waktu yang Tepat untuk Bunuh Diri

lukisan, lukisan tentang waktu, lukisan salvador dali, lukisan karya salvador dali dan keterangan, lukisan karya salvador dali beserta keterangannya, lukisan aliran surealisme karya salvador dali, lukisan salvador dali the persistence of memory, karya salvador dali yang terkenal, lukisan salvador dali yang terkenal

By: Salvador Dali via IG: @deeannrose

Pikiran dan pelaksanaan itu tidak mesti kompak. Kalau kita sempat terpikir untuk bunuh diri detik ini, bukan berarti kita harus mempraktikkannya detik ini juga. Kalau masih ada jeda, berarti masih ada keraguan. Masih ada peluang untuk kita berpikir ulang.

Daku pernah menonton tayangan televisi, namun mohon maaf, acaranya lupa lagi. Siapa yang berbicara juga lupa. Hanya ingat intinya saja. Bahwa suatu saat ia pernah menghadapi seseorang yang pengin bunuh diri, lalu katanya,

“Bunuh dirinya besok saja.”

Orangnya datang lagi. Pertanyaannya masih sama. Inti jawabannya masih sama juga,

“Tahan. Besok saja, ya…”

Pertanyaan dan jawaban itu terus berulang. Orang yang mau bunuh diri sampai capek sendiri. Niatnya mulai luntur, tapi ia terus bertanya,

“Rasanya daku pengin bunuh diri. Tapi kapan sih waktu yang tepatnya?”

Akhirnya orang yang ditanya memberi jawaban sedikit lain,

“Pokoknya tiap kali ada niatan untuk bunuh diri, tunda saja sampai besok. Begitu seterusnya. Besok, besok, dan besok. Sampai suatu hari nanti, kematian itu akan datang sendiri…”

Wah… daku agak tercenung mendengarnya. Bukan karena jawaban simpel namun cerdasnya saja, melainkan efektivitasnya juga. Ketika seseorang datang padanya untuk menyatakan keinginan bunuh diri, dia tidak lantas memarahi. Dia tidak menghujani orang tersebut dengan makian, sumpah serapah, kutukan, dsb. Tidak juga menceramahi. Apalagi kalau kata-kata yang disemburkannya terlampau berat.

Dia hanya “menjitak” sekaligus “mengelus” dengan caranya sendiri… bahwa sebenarnya orang tersebut masih dalam taraf ragu-ragu. Bahwa keinginan untuk meninggal itu bukanlah sesuatu yang ia yakini betul. Masih ada yang menahannya. Itu artinya, ia masih memiliki alasan untuk bertahan. Paling tidak, sampai nanti… nanti kalau sudah waktunya pulang pun, ia akan segera menemui kematian. Ya, ajal sebagai sesuatu yang paling misterius itu sebenarnya semakin mendekat. Tak perlu dijemput pun ia akan datang.

“Katakanlah, “Duhai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas akan diri mereka sendiri, kamu jangan putus asa dari rahmat Allah Swt. Sungguh, Allah itu mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia adalah Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

[QS. Az-Zumar : 53]

“…dan jangan bunuh dirimu sendiri, sesungguhnya Allah Swt itu adalah Dzat yang Maha Penyayang padamu.”

[QS. An-Nisaa’ , ayat 29]

Apapun yang terjadi, di waktu luang atau sempit, semoga kita selalu setia dalam rengkuh Allah Swt. Bukan justeru terpikir untuk bunuh diri. Kita berlindung dari godaan itu.  Tahan! Bunuh Dirinya Besok Saja, Ya! #RD

2 Comments
  1. Marfa
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *