Takut Berlebihan Pada Sesuatu yang Belum Terjadi

Takut Berlebihan Pada Sesuatu yang Belum Terjadi

takut, ketakutan, takut kehilangan, takut mati, takut akan tuhan, takut gemuk, kehilanganmu, takut pada sesuatu yang belum terjadi, cara mengatasi kecemasan dan ketakutan

By: Malika Favre via IG: @deeannrose

Apa sih yang paling kamu takutkan?

Takut menjadi salah-satu emosi yang sudah hadir sedari kita kecil. Kita bisa berteriak, menangis, panik, cemas, was-was, atau meluapkan ekspresi lain. Takut kecoa, takut ketinggian, takut kelaparan, takut kesendirian, takut jatuh miskin, takut jatuh cinta, takut kehilangan, takut hidup, takut mati, atau takut… rasa takut itu sendiri.

Sabtu kemarin (13/02/2016), daku menghabiskan senja bersama rekan kerja di lembaga kursus. Ada Ririn, Rudi, dan Adnan. Quality time yang cukup jarang digelar.

Daku pergi ke LKP lantaran hendak mengonfirmasi nilai uji kompetensi anak-anak. Sekalian daku juga hendak membawa pulang honor sebagai pengawas. Oh, di saat yang lain sibuk dengan acara bulan Februarinya, inilah daku yang terus menyicil uang daftar ulang adik. Heuheu…

Rencananya daku tak akan lama di LKP, namun faktanya berlainan. Kami begitu betah, teramat betah, sampai tak menyadari betapa cepatnya detik terus berdetak. Apalagi kami tengah mendiskusikan agenda yang ada di depan; perlombaan pengembangan pengajaran desain web.

Pihak lembaga sudah menunjuk Rudi, sebagai salah-satu “anak komputer”. Namun ia terlihat begitu ragu. Sesekali kami bujuk, dia seperti luluh, tapi dia juga seperti ingin bertahan untuk terus melakukan penolakan.

“Pasti nanti peserta yang lain itu jago-jago,” terka Rudi.

“Lha, kok malah mikirin peserta lain?!” Ririn kurang setuju, “Pikirin diri sendiri aja.”

“Percaya deh, Rud,” kata Adnan, “Orang lain juga mikirin kita, kaliii.”

“Ha ha ha”

“Nanti kebayang jurinya…” Rudi berandai-andai, “Haduh, daku mau ngomongin apa pas pembukaannya, assalamu’alaikum… terus, aaargh!”

“Ya ampun, kejauhan, Rud!” Daku enggak habis pikir, dia sudah mempraktikkan pembukaan untuk presentasi.

“Liar,” ujar Ririn, “Imajinasi Si Rudi udah liar!”

“Heh,” Adnan menepuk bahu Rudi, “Kita-kita mendukung loh! Kalau perlu, kita nonton lah! Datang ke sana…”

“Whoaaa!” Rudi semakin freak out, “Nanti malah semakin grogi, enggak usah lah!”

Begitulah… kami terus memberi motivasi. Minimal, kami meyakinkan Rudi bahwa ia layak ikut perlombaan. Kami lapangkan hatinya dengan iming-iming hadiah, kesempatan berpoto bersama Pak Gubernur Jawa Barat, tidur di hotel mewah, makan enak, dapat uang saku, hadiahnya puluhan juta, atau kami hibur juga dengan mengatakan kalau ia tak perlu pusing menargetkan kemenangan. Setidaknya, ikut saja.

Tapi Rudi tak kalah sengit. Ia cukup mendramatisir keadaan. Bahkan ia sudah membayangkan kejadian-kejadian menakutkan dan menegangkan yang bisa terjadi.

“Rudi mah gitu orangnya,” Adnan berkomentar, “Waktu mau sidang skripsi juga begitu… ugh!”

“Iya, padahal hasilnya enggak sesuai dengan yang kita bayangkan,” aku Rudi, “DIkira sidangnya mau lama, ternyata cuma bentar,” bebernya.

~

Sekelumit cerita di atas belum seberapa. Masih banyak kejadian, di mana kita sudah “kejauhan” mengimajinasikan kejadian-kejadian yang bikin takut, ngeri atau tegang. Padahal faktanya, semua itu belum tentu terjadi. Semua itu kadang hanya menjadi ilusi kita. Tak benar-benar nyata.

Namun hebatnya, “halusinasi” menakutkan tersebut memberi efek hebat pada kita. Walau semuanya tak berwujud kuntilanak, pocong, boneka santet, dsb, tapi kita jadi benar-benar ketakutan. Mental pun ikut terpengaruh.

Hal tersebut sebenarnya wajar. Setiap orang pasti pernah mengalaminya. Namun jika kadarnya sudah enggak masuk akal, kita tentu musti waspada.

Takut secara berlebihan pada sesuatu yang belum terjadi itu melelahkan, tidak menguraikan masalah. Dengan rasa takut, bukan berarti hal yang kita takuti akan hilang. Kita kadang tak bisa lari ke mana-mana. Kita takut kematian, namun maut itu adalah keniscayaan. Kabur ke manapun atau bersembunyi di manapun, jika waktunya sudah tiba, maka ajal akan menjemput dengan sendirinya.

Selain lelah luar-biasa, takut secara berlebihan hanya mendatangkan masalah lain seperti:

  • Panik berat
  • Kecewa tanpa alasan
  • Jadi suka mendramatisir keadaan
  • Tidak bisa memutuskan dengan baik dan bijak
  • Pikirannya keruh
  • Responsnya buruk
  • Konsentrasi atau daya fokus melayang
  • Tidak bisa menyerap apapun, dengan baik
  • Menggumamkan hal-hal yang kadang di luar logika, dan biasanya terlampau liar
  • Deg- degan berlebihan
  • Bingung

Lagi-lagi, semua tanda tersebut wajar adanya. Bahkan selama masih hidup, rasanya manusia akan tetap merasakan yang namanya ketakutan. Namun kita perlu hati-hati juga jika ketakutan itu mengambil alih segalanya. Seyogyanya kita…

  • Menarik napas dengan baik dan benar
  • Berdoa dan hanya menyandarkan diri pada-Nya
  • Menelusuri, “Apa sih yang sebenarnya ditakutkan?”
  • Cek faktanya, apa iya kecoa itu bikin kita lumpuh seumur hidup? Apa iya pengawas ujian itu bisa membuat kita berlumuran darah? Apa iya bertemu dengan bupati atau gubernur bisa meloloskan tulang iga kita? dsb, ataukah semua itu hanya sugesti belaka?
  • Dekati orang-orang suportif
  • Yakinkan, agar tidak memaksakan diri untuk tampil sempurna, melainkan tampil sebaik-baiknya

Nah, postingan ini sekaligus menjadi penguat bagi diriku sendiri. Semoga kita terus merasakan kedamaian demi tercapainya kenyamanan. Takut Berlebihan Pada Sesuatu yang Belum Terjadi. #RD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *