Waktu Terbaik untuk Pamit

Waktu Terbaik untuk Pamit

waktu, waktu sekarang, manajemen waktu, menghargai waktu, perpisahan, kata-kata perpisahan, ucapan perpisahan, pamit, pamitan, kata pamit, kata pamitan

By: Federica Bordoni [Behance] on IG: @deeannrose [edit]

Adakah yang lebih pahit ketimbang pergi tanpa pamit?

Kita bisa berada di dua posisi yang berbeda. Kita yang ditinggalkan tanpa pamit. Atau, kita yang meninggalkan tanpa pamit. Semuanya (mustilah) sakit.

Baik atau jelek pikiran ini, namun daku kadang berpikir… khususnya ketika melangkah ke luar dari rumah; oh siapa tahu nanti di luar terjadi sesuatu. Karena itu, daku musti memastikan diri untuk pamitan lebih dahulu. Khususnya pada Si Mimih, sosok ibu yang punggung tangannya wajib dikecup dulu. Paling tidak, ketika apa yang dirisaukan itu terjadi, kita sudah “pamitan” dengan takdzim.

Mewajibkan diri untuk pamitan, khususnya sebelum bepergian, daku wajibkan pada diri sendiri pasca banyaknya kasus orang-orang yang “dipanggil” dalam perjalanan. Alasannya bisa macam-macam. Daku hanya membayangkan, betapa getir dan tersiksanya jika kita harus pergi tanpa pamitan. Atau, jika kita ditinggal pergi tanpa pamitan. Sebab, siapa tahu, kata pamit itu terlontar untuk yang terakhir kalinya… di dunia.

Berlebihan?

Daku masih ingat, tetangga kampungku yang seorang bocah pernah ngeloyor ke luar rumah. Dia mengendarai motor. Namun jarak yang ditempuh tidak sampai 2km. Tak dinyana, pulang-pulang… bocah tersebut tinggal nama. Kecelakaan menghantamnya, merenggut nyawanya.

Sebagian mungkin menganggap apa yang daku pikirkan ini hanyalah sangkaan negatif. Iya bisa jadi. Tapi daku menempatkannya sebagai “kehati-hatian”. Sebab lagi-lagi, kematian diri sendiri pun menjadi misteri. Waktunya, tempatnya, atau caranya. Kita tak pernah tahu. Tak ada bocorannya. Firasat pun jarang yang disadari. Paling-paling setelah tiada, barulah beberapa tanda yang dirasa firasat itu mulai diungkap.

“Daku pamit…”

Mengatakan hal sederhana itu, sambil mencium tangan, tentu tak menyita waktu lama. Tapi gesture itu bisa jadi sangat menancap dalam ingatan. Pamit di sini bermakna… kalau kita dan dunia akan terpisah. Mungkin dalam waktu cukup lama, mungkin juga tidak. Tapi kita akan saling merindukan. Dan yang jelas, kita juga akan bertemu kembali. Suatu saat nanti. Oh, mudah-mudahan di tempat terbaik. Aamiin.

Jadi, kapan waktu terbaik untuk pamit?

Entah.

Rasanya tak perlu menunggu sakit dulu, pun tak perlu menanti waktu di mana ajal ada di hadapan. Sebab sedikit pun… Kita tak pernah tahu. Entah kapan waktu yang lebih baik dari sekarang. #RD

2 Comments
  1. Gilang Maulani
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *