Apa Kita Hanya Pura-Pura Berduka Cita?

Apa Kita Hanya Pura-Pura Berduka Cita?

kesedihan, sedih, pura-pura sedih, sedih palsu, kesedihan sedih, berduka cita, pura-pura berduka cita

Via: vk.com

Berduka cita.

Keadaan seperti ini bisa datang dari berbagai hal. Entah itu kematian, kehilangan, peristiwa tragis, dsb. Seperti sekarang-sekarang ini… “mustinya” kita berduka cita karena bom bunuh diri di Turki, serangan di Belgia, demonstrasi anarkistis para sopir taksi konvensional, kematian tetangga, kesusahan saudara, keroncongannya perut mereka yang diuji kelaparan, atau… hampanya hati sendiri. Oh, dan masih banyak lagi.

Kita sering tergerak untuk mengekspresikan kesedihan itu. Zaman sekarang, agar terlihat kalau kita ikut berduka, media sosial sering menjadi jembatannya. Kita bikin status bernada sedih, membubuhkan emoticon airmata, menuliskan hashtag yang dipopulerkan (#prayforturkey, #prayforworld, #ripxxx, #merasasedih, dsb). Kalau yang dituliskan tak senada dengan apa yang dirasakan, jelas-jelas… kesedihan itu hanya sebatas di mulut atau ketikan belaka.

Siapa Tahu Pengin Baca Juga:

11 Cara Menghibur Orang Sedih atau Berduka Tanpa Perlu Banyak Berkata

Ketika berduka, seseorang bisa begitu rapuh. Pertahanan dirinya diuji. Ia bahkan bisa lupa diri mengungkapkan segala emosi. Ada yang sampai menjerit histeris, ada juga yang tak sadarkan diri.

Jika kita tidak di posisi malang seperti ini, bagaimana?

Daku menemukan status fesbuk Pak Arif Subiyanto yang menarik. Beliau membahas hal ini. Namun daku edit lagi kemasan tulisannya, ya. Jom!

Ucapan Duka Cita Ala Kadarnya

Lazimnya orang merespons berita kematian dengan ungkapan klasik: “Ikut berduka cita…” atau  “turut berbela sungkawa…”. Sungguhkah kita ikut merasakan kesedihan dari mereka yang ditinggalkan? Jika kita karib atau kerabat dekat dari mereka yang sedang berkabung, atau kalau kita kenal akrab dengan yang berpulang, mungkin saja ucapan “ikut berduka cita” itu terdengar otentik dan tulus. Tapi kalau kita tidak begitu mengenal mereka, ucapan atau tulisan kita malah terkesan berbasa-basi dan phony alias palsu.

Cara Memberi Ucapan Bela Sungkawa

Cara yang lumayan aman adalah dengan turut mendoakan semoga yang berpulang diampuni dosa-dosanya dan dianugerahi segala kenikmatan dan kedamaian di syurga. Kalau ucapan seperti itu terlalu mainstream, cobalah berkreasi (tapi harus tetap tulus) menghibur keluarga yang ditinggalkan.

 

Ajaklah mereka merayakan prestasi hidup yang telah dicapai si mati. Yakinkan mereka bahwa si almarhum itu hidupnya sungguh berarti. Jangan latah dan cengeng ikut-ikutan meratapi si mati, sebab cara itu samasekali tidak mengundang simpati dan kering inspirasi.

 

Jangan bilang ikut berbela-sungkawa, sebab setelah mengetik kata ‘ikut berduka cita’ lalu menekan tombol ‘kirim’, anda masih bisa makan enak dan tertawa-tawa, tetap asyik dengan kehidupan Anda…

 

Supaya hati Anda nyaman dan keluarga yang sedang kehilangan mendapat penghiburan dan pencerahan, ajaklah mereka mengenang kebaikan-kebaikan dan kehebatan si mati, pencapaian apa saja yang mereka torehkan dalam buku riwayat hidupnya. Misal anak-anaknya yang saleh dan sukses, keluarganya yang hidup terjamin dan tidak kekurangan, atau setidaknya keharmonisan yang mereka ciptakan selama hidup berkeluarga dengan suami atau istrinya.

 

Tulisan-tulisan yang membesarkan hati itu jauh lebih berarti daripada karangan buku berukuran raksasa yang mengatakan Anda IKUT BERDUKA CITA, padahal anda tidak merasakan apa-apa…

Telusuri Hati Sendiri

Membaca status Pak Arif Subiyanto di atas tentu membuat siapapun terhenyak. Kita jadi dibuat berpikir dan bertanya-tanya sendiri. Soal kita benar-benar “ikut berduka cita” kadang tak bisa ditentukan dari apa yang dilihat secara kasat mata.

Di rumah-rumah duka, kita akan mendapati orang-orang yang tertunduk atau mungkin menitikan airmata. Namun begitu keluar, mereka tertawa seperti biasa. Bahkan bisa bercanda ria.

Tapi baiklah, itu urusan orang lain. Kita bisa kembali pada diri sendiri. Sudah tuluskah ungkapan duka cita kita? Apa penting kita mengetahui asli atau palsunya rasa sedih itu? Hati sendiri yang tahu jawabannya. Apa Kita Hanya Pura-Pura Berduka Cita? #RD

6 Comments
  1. Fakhruddin
    • deeann
  2. Doel
    • deeann
  3. sari widiarti
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *