Kegalauan; Tetap Idealis atau Berubah Realistis?

Kegalauan; Tetap Idealis atau Berubah Realistis?

kegalauan idealis dan realistis, idealis dan realistis, orang idealis itu seperti apa, ciri-ciri orang idealis, idealis vs realistis, arti realistis dan idealis, pengertian idealis dan realistis, sikap idealis, idealisme adalah, dilemma idealis dan realistis

By: Edit Warton via IG: @deeannrose

Mempertahankan idealisme atau luluh pada realita yang ada?

Kegalauan yang satu ini nampaknya klise. Kita sudah lama dan sering menghadapi dilema ini. Tapi inilah salah-satu topik yang nyelip diantara obrolanku dan dua rekan di lembaga kursus, Ririn dan Ijen.

Meski klasik, namun topik seperti ini selalu menarik. Rasanya kita seperti berjalan dalam lingkaran, tanpa ujung dan pangkal. Nah sebelum jauh, kita diskusikan dulu ya maksud dari sikap idealis dan realistis.

Idealis adalah sikap di mana kita melihat segala sesuatu dengan pandangan yang ideal, sempurna, atau semestinya. Sementara realistis menggunakan pandangan yang riil, nyata, “telanjang”, atau sesuai situasi yang ada di depan mata. Kalau menurut Layman, konsep idealis itu lebih pada “seharusnya begini”. Kalau konsep realistis itu lebih pada “kenyataannya begini”.

Contoh 1

Seorang mahasiswa keguruan biasanya masih menjunjung idealisme mereka. Sebelum benar-benar terjun ke lapangan pendidikan, mereka seperti berikrar sendiri. Kalau nanti menjadi guru akan benar-benar mengabdi, mengamalkan ilmu, akan tepat waktu, mendidik anak dengan baik, mengajar dengan tulus, dsb.

Tapi ketika melangkah ke kelas dan bertemu kenyataan di lapangan, idealisme tersebut kemungkinan terusik. Kenyataannya gaji yang belum besar akan membuat semangat keikhlasan mengajar drop, tuntutan agar anak-anak lulus dengan nilai tinggi akan membuat sistem ujian/ penilaian kita terguncang, kebudayaan “jam karet” membuat prinsip on time terganggu, dsb.

Contoh 2

Sebagai orang yang belajar ngeblog, daku pun kerap menghadapi dilema. Di satu sisi pengin menulis sesuatu yang benar-benar kata hati, pembahasan kesukaan, bermanfaat bagi umat, dsb. Tak peduli pembacanya sedikit atau bahkan tak ada yang mampir sama-sekali.

Tapi di sisi lain kita memiliki pembaca yang merequest ini-itu, mempertimbangkan hits/ trending topic, atau tema yang sekiranya tengah diburu orang. Kalau bagi penulis buku, mereka mungkin akan menghadapi kegalauan antara menulis sesuatu yang pure isi hati dan pikiran, atau mempertimbangkan keinginan pasar.

Contoh 3

Sudah menjadi tugas wartawan entertainment, untuk mencari berita seputar dunia hiburan serta menuliskannya. Syukur-syukur kalau ada “berita buruk”, sebab topik semacam itu justeru selalu menjadi “berita baik” bagi media. Mungkin saja di benaknya, ia sama-sekali tak menyukai ide tersebut.

Ia sebenarnya ingin memburu warta yang lebih berguna. Peliputannya ingin jauh gosip, skandal, wacana, dsb. Tapi realitanya, isu-isu selalu menjadi bahan yang memiliki nilai jual. Lagipula, pemirsa juga lebih menyenangi pembahasan demikian.

Wah… contohnya tentu sangat banyak, ya. Sikap idealis dan realistis memang seperti balik badan. Intinya perbedaan dari orang yang idealis dan realistis itu:

next-page-RD-300x100-1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *