7 Tanda Kalau Kita Terlihat Kuat Dari Luar Tapi Rapuh Dari Dalam

7 Tanda Kalau Kita Terlihat Kuat Dari Luar Tapi Rapuh Dari Dalam

pura pura strong, fake smile, senyum palsu, pura pura bahagia, kuat dari luar tapi rapuh dari dalam

By: Cold-ReMo on DevianArt

“Daku bisa mengatasinya sendiri”, “Daku berani, kok!”, “Daku ini ‘kan strong?”, dsb. Kalimat-kalimat demikian terdengar begitu tegar dan “jantan”. Namun hal tersebut tak menjamin kukuhnya jiwa. Siapa tahu dia itu hanya pura-pura?

Pura-pura kuat kerap dipilih karena ego kita yang cukup tinggi. Hal ini biasanya terjadi pada kaum laki-laki. Padahal menurut hasil studinya Universitas Rutgers, ternyata laki-laki yang terbiasa “berlagak kuat” memiliki ancaman cukup serius.

Studi tersebut diterbitkan dalam jurnal Kesehatan Psikologi. Intinya, peneliti menyimpulkan kalau lelaki yang pura-pura tangguh cenderung jarang mengunjungi dokter. Sekalinya datang, mereka lebih memilih dokter pria. Yang perempuan dianggap kurang kompeten. Mereka juga biasanya tak akan terlalu menyampaikan gejala penyakitnya secara rinci.

Kecenderungan itu kemudian dikaitkan dengan fenomena “laki-laki meninggal, rata-rata 5 tahun lebih cepat, dari perempuan”. Betapa tidak, mereka menunda-nunda proses pemeriksaan medis. Mereka juga enggan menyebutkan gejala atau keluhannya secara detail.

Eh, jadi postingan ini hanya berlaku untuk kaum adam?

Enggak juga. Banyak kok perempuan yang berpura-pura tangguh, namun ternyata dari segi mentalnya cukup rapuh. Nah, daku cukup tertarik akan pembahasan Amy Morin, seorang psikoterapis. Ada ciri-ciri kalau kita ini sebenarnya kuat dari luar, namun rapuh dari dalam. Apa saja?

Jom!

#1. Hobi Memakai Topeng

“Daku baik-baik aja, masalah ini masih bisa ditanggung”.

Orang yang “berakting” tangguh menggunakan aneka topeng untuk menyembunyikan kerapuhannya. Salah-satunya dengan perkataan seperti di atas. Namun di balik kata-kata itu ternyata jiwanya sendiri ragu-ragu. Cara lain yakni senyum palsu. Padahal, senyum palsu itu masih “saudaraan” sama tangisan, bukan?

Hal ini sebenarnya bisa menjadi siksaan batin. Padahal kuat bukan berarti tak mengaku lemah. Sikap kuat justeru bisa dibangun dengan mengetahui kelemahan, lalu berusaha mencari jalan untuk menghadapinya.

#2. Anti Kegagalan

Seperfeksionis apapun seseorang, bukan berarti ia selalu sempurna. Sehingga ia memilih untuk fokus pada skill yang sudah dikuasai. Enggan rasanya untuk mencoba hal baru, lantaran mereka benci kalau nantinya gagal atau mengecewakan.

Kalau orang tersebut kuat luar-dalam, tentu kegagalan tidak musti jadi sesuatu yang ditakuti. Kegagalan justeru menjadi bahan pembelajaran. Mereka juga begitu terbuka akan hal-hal baru yang belum diketahui atau dikuasai.

#3. Melihat Nilai Diri dari “Kacamata” Orang Lain

Kita begitu peduli pendapat atau apa kata orang. Kalau menangis, takut dikira lembek. Kalau curhat atau minta tolong, takut dikira tak berdaya. Karena itu mereka memoles penampilan se-strong mungkin.

Padahal orang yang mentalnya kuat tak berpikir demikian. Opini orang lain tidak jadi patokan. Mereka malah bersedia bertanya atau minta saran, sebab keinginan untuk lebih baik begitu kuat.

#4. Kita Menahan-nahan Emosi

Figur yang menutupi sisi lemahnya memang pandai menyembunyikan emosi, kecuali kalau marah-marah. Mereka cukup nyaman mengekspresikannya. Sedangkan emosi yang senantiasa ditutupi yaitu berupa ketakutan, kesedihan, kecemasan, atau juga kegembiraan.

Sosok yang mentalnya tangguh malah sudi mengakui gejolak emosinya. Entah ketika mereka was was, berduka, takut, dsb. Mereka tidak mengabaikan emosi tersebut, melainkan memonitornya. Ada kesadaran bahwa emosi itu bisa memberi dampak terhadap pikiran dan tingkah laku seseorang.next-page-RD-300x100-1

4 Comments
  1. prajuritkecil99
    • deeann
    • prajuritkecil99
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *