Karena Kebodohan Seorang Ibu (1)

Karena Kebodohan Seorang Ibu (1)

karena kebodohan seorang ibu, cerita perjuangan ibu yang mengharukan, cerita anak perempuan dan ibunya, cerita anak dan ibu, cerita orang tua, kisah inspiratif ibu dan anak perempuan

By: Vickie Wade on ETSY

Seorang ibu jika dihadapkan pada dua pilihan; antara hidup dan bayinya meninggal atau meninggal dan bayinya hidup, ibu akan memilih yang kedua. Paling tidak, sebelum meninggalkan dunia bisa bilang dulu ibu sayang kamu. Kalau bayinya yang meninggal duluan, dia belum bisa bicara apa-apa. Kasian…”

Mungkin hal itulah yang ada di benak para ibu, kalau suatu ketika menghadapi dilema seperti itu. Tapi banyak juga yang terpaksa mengorbankan buah hati, lantaran keluarga atau suami lebih berat pada sosok si ibu. Hhh… pilihan yang sangat sulit, ya?!

Daku pernah mendiskusikan hal tersebut dengan seorang ibu. Dan mendadak, kepalaku pening juga memikirkannya. Situasi itu pasti jadi salah-satu yang paling menggalaukan. Fiyuh..!

~

karena kebodohan seorang ibu, cerita perjuangan ibu yang mengharukan, cerita anak perempuan dan ibunya, cerita anak dan ibu, cerita orang tua, kisah inspiratif ibu dan anak perempuan

By: Vickie Wade

Kemarin angkot yang kutumpangi sedikit menyebalkan. Bukan masalah angkotnya yang bapuk, bau badan penumpang lain, bukan juga karena uang ongkos ketinggalan. Sopirnya itu selalu tak fokus. Mohon maaf, entah pendengarannya terganggu atau bagaimana, tapi beberapa penumpang musti turun lebih jauh dari tujuan utamanya. Malah ada yang sudah menjulurkan kaki, tapi si sopir tetap saja mau ngeloyor. Jika demikian adanya, ‘kan bahaya, ya?

Daku bersama Mimih (ibu). Giliran kami yang akan turun. Namun sekitar 50 meteran sebelum sampai, seorang penumpang naik dari depan sebuah apotek dekat rumah sakit. Dia menggendong seorang anak memakai kain selendang. Karena memakai anting, daku asumsikan kalau dia merupakan anak perempuan. Posisi anaknya membelakangiku, jadi wajahnya tak terlihat.

Daku juga langsung menebak kalau sang anak tengah sakit. Soalnya dia digendong sang ibu. Padahal badannya mencerminkan kalau dia sudah besar, mungkin sekitar 5-7 tahunan.

Karena tujuan sudah dekat, daku siap-siap akan teriak “kiri” atau “di depan, Pak”, lebih keras. Tak mau juga kalau nanti berujung di tempat yang lebih jauh dari target. Tapi tiba-tiba, daku dengar suara cekikikan. Suara itu membuatku lirik kiri-kanan, yang ujungnya mendarat pada anak yang tengah digendong.

“Mohon maaf,” ujar ibunya, “Anak ini sedikit lain…”

“Oh…” Daku, Mimih, dan penumpang lain mengangguk, mencoba mengalirkan pemakluman.

“Tadinya dia tidak seperti ini…” katanya lagi.

“Memang kenapa, Bu?” Mimih yang bertanya.

“Jatuh dari motor, terus syarafnya kena,” ungkapnya lagi, yang langsung mencekik hati, “Dia jadi ketawa-ketawa sendiri, marah-marah…”

“…”

“Semua orang emang beda-beda ya, Bu?” Sang ibu yang daku taksir masih berusia muda (30-an) melanjutkan, “Tadi Si Neng ini enggak sengaja menjambak kerudung seorang ibu dari belakang, daku sudah minta maaf, tapi dia malah tetap marah-marah…”

“Ya ampun…” Kata kami serempak.

“Ibu dari mana?” tanya Mimih.

“Dari xxx.” (sekitar 20 km dari kota Kuningan)

Mendadak rasa penasaranku muncul. Daku ingin melihat orang yang sudah memarahi ibu ini. Padahal sang ibu sudah meminta maaf. Itu pun karena perlakukan anaknya, bukan dirinya sendiri. Heck, anaknya bersikap begitu pun karena dia memang… sakit. Bukan sengaja, bukan juga karena usianya masih sangat kecil. Dia sendiri mungkin tak sadar atas apa yang tengah dilakukannya.

“Pak sopir! Daku kasih limaribu, tapi kembaliannya duaribu, ya!” seru sang ibu, “Uangnya takut enggak cukup buat ongkos…” sambungnya.

Setelah kupalingkan wajah dari ibu muda itu, kutengok sopir yang nampak sibuk menyedot rokok sambil mencari mangsa. Tak ada gelagat kalau dia mendengar atau menangkap maksud salah-satu penumpangnya.

Aish!

“Kiri!” Mimih menyahut.

Aish!

Sebelum bisa apa-apa, kami sudah turun.

Sesudah turun dan berjalan ke tempat tujuan, hatiku tak tenang. Benar-benar tak nyaman. Serasa ada yang terus terngiang-ngiang. Pengin update status, ah… rasanya enggak, deh.

Tapi daku terus tak tenang. Ada rasa bersalah, cemas, dan penasaran. Pengin memastikan kalau sang si ibu dan anaknya selamat sampai rumah. Tapi, bagaimana? Daku hanya bisa mengandalkan ketidakberdayaan dengan berdoa saja.

~

ibu dan anak, karena kebodohan seorang ibu, cerita ibu dan anak, gambar ibu dan anak perempuannya, kisah tentang orang tua yang mengharukan

Via: parent-solo.club

Daku tidak tahu pasti, kenapa sang ibu muda itu menggendong anaknya dan pergi jauh… dengan uang pas-pasan, bahkan mungkin kurang. Entah dia sudah melakukan check up ke rumah sakit atau menebus obat, yang jelas keputusan untuk pergi sendirian itu tentu tak tepat. Tak tahu dia terlalu bodoh, atau terlalu tak peduli dengan keadaan. Yang ada di benaknya mungkin hanya sang anak. Bagaimana agar dia sembuh, membaik, mendapat perawatan, mengkonsumsi obat yang pas, dan bisa kembali ke rumah.

Karena Kebodohan Seorang Ibu, dia rela membopong sang anak. Saking bodohnya, dia legowo dimarahi orang. Saking bodohnya, dia segera meminta maklum pada orang-orang yang sudah menyaksikan keanehan anaknya. Saking bodohnya, dia sudah mengesampinkan gengsi untuk nego ongkos pulang.

Saking bodohnya, seorang ibu sudah menyelamatkan dan menciptakan kenyamanan bagi seorang anak. Ah, ibu… ibu… ibu… #RD

2 Comments
  1. itz
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *