Karena Kebodohan Seorang Ibu (2)

Karena Kebodohan Seorang Ibu (2)

karena kebodohan seorang ibu, ibu, cerita ibu, ibu dan anak, ibu sudah tua, ibu sudah udzur, ibu sudah uzur

By: ~burnt-sticks on deviantART

Seorang ibu itu rela babak belur demi anak, tapi anak?” seorang ibu melampiaskan kekesalannya di hadapanku, “Sekalinya anak ngasih sesuatu, dia sampe ingat terus. Sementara ibu itu enggak perhitungan.”

~

Ibu.

Kita sudah menaburkan banyak sebutan untuk sosok yang satu ini. Ada yang memanggilnya sebagai “malaikat”, “hadiah terindah”, “wanita terhebat”, “pahlawan terkuat”, dsb. Realitanya ibu merupakan “perempuan yang paling sering kita sakiti hatinya”, “perempuan yang paling sering kita peras uangnya”, “perempuan yang paling sering kita peralat tenaganya”, “perempuan yang paling sering kita bodohi kepercayaannya”, dsb.

See? sosok ini justeru sering mendapat perlakuan buruk dari anak-anaknya. Ya Allah…

Di saat yang sama, sebagian besar anak mendeskripsikan peran dan kasih ibu dengan begitu kerennya. Tak terhingga, sepanjang masa. Tidak sempurna, tapi memang dialah yang terbaik. Lagipula, perempuan mana yang paling pengertian dan mau memanja kita setotal beliau?

Kalau sedang “waras”, kita begitu ingin menjadi sumber di balik senyumnya. Kalau para setan sedang menjauh, kita begitu ingin melindungi dinding-dinding hatinya, agar tak remuk lagi. Kalau sedang sholeh-sholehah, kita selalu berlindung dari perkataan atau perbuatan yang membuatnya murka kecewa. Jauh di hati yang paling dalam , naluri anak juga pengin membahagiakannya.

Apa iya, kita ini bisa menjadi sumber kebahagiaan beliau?

Kalau kata Pak Arif Subiyanto dalam status fesbuknya, begini,

Buat seorang mahluk Tuhan yang bernama IBU, tak ada yang lebih indah dan membahagiakan selain anak yang cinta dan patuh kepadanya. Kepatuhan total, kepatuhan yang polos tanpa syarat dari seorang anak yang rela menjalani perintah dan menjauhi hal-hal yang dibenci ibunya.”

Bagaimana caranya untuk patuh seperti itu?

Masih kata Pak Arief,

Menunjukkan kepatuhan seperti ini memang butuh keberanian dan landasan iman. Anak yang beranjak dewasa dan punya modal ilmu serta pendidikan acap kali gamang dan meragukan kecerdasan dan rasionalitas ibunya.

Tak jarang dengan dalih ilmu dan kepintaran yang dia miliki sang anak mulai ingkar, berpaling dari kiblatnya, abai pada perintah dan larangan ibunya. Alasannya sederhana saja: sang ibu perempuan lugu, dangkal ilmunya. Malu hatinya untuk patuh tawadhu kepada perempuan itu, sebab dia bodoh dan tak tahu apa-apa. Ingat nak, ibumu mungkin dungu dan tidak rasional.”

Kenapa kok bisa begitu?

Pak Arief melanjutkan,

Dan itu dia tunjukkan dengan keputusannya untuk mengandungmu di perutnya selama sembilan bulan sekian hari, lalu melahirkanmu dengan taruhan nyawanya sendiri. Kebodohan itulah yang membawamu menghirup udara dan melihat terang hari. Kedunguan perempuan yang dituntun naluri keibuan sehingga lahirlah kalian jadi manusia hebat mengagumkan.

Sejarah hidupmu diwarnai dan dibentuk oleh keputusan tolol itu. Jadi sungguh mulia dan terpuji jika kau rela menanggalkan kesombonganmu dan sesekali tirukanlah kebodohan ibumu: patuhi perintah dan pantangannya, sekonyol apapun itu. Waktu akan menunjukkan bahwa keputusan bodohmu itu tidak pernah keliru.”

ibu, patuh pada ibu, cerita ibu, ibu tua, ibu jadi nenek, ibu tua dikerudung, old mother, old mom

Via: durdoor.com

Ada kata kunci yang bisa kita tangkap untuk membuat beliau bahagia?

Cinta dan patuh.

Bagaimana kalau beliau menyuruh pada jalan keburukan? Duh, kita sudah sama-sama tahu, ajakan keburukan itu diperbolehkan bahkan diwajibkan untuk ditentang. Siapapun yang mengajaknya.

Dan bicara soal ini, daku jadi ingat ketika tengah asyik menulis dan berselancar di dunia maya. Wifi mengedip-ngedip dengan deretan lampu indikatornya yang hijau. Komputer menyala, dan jari-jemari ini asyik menari. Pokoknya daku sedang larut dalam hobi dan kesibukan tersebut. Enggan diganggu.

Padahal waktu itu keadaannya hujan lebat.

Sementara Mimih (ibu) sudah rewel sejak suasananya masih gerimis. Beliau meminta “matikan semua aliran listrik, takut kena petir”. Tapi daku tak manut, menganggap beliau terlalu mendramatisir keadaan, dan mengatakan “semua akan baik-baik saja”.

Tak sampai beberapa menit, suara seperti jepretan terdengar. Layar komputer blank. Ketika wi-fi dinyalakan pun, akses jaringannya sudah putus. Resmi, layanan internet ini tersambar petir. Nah…

Masih banyak contoh lain, akibat dari ketidakpatuhanku terhadap sosok ibu.

Beliau memang tidak tahu banyak soal komputer, laptop, internet, dunia maya, blogging, media sosial, dsb. Beliau juga mungkin saja begitu mudah kita “tipu”. Berdalih meminta pulsa data internet untuk membantu melancarkan tugas, padahal digunakan hal lain yang sifatnya sunah bahkan terlarang.

Beliau perempuan yang polos, kolot, sederhana, daya ingatnya mulai terkikis, kulitnya mulai keriput, dan usianya semakin uzur saja. Tapi setinggi apapun jabatan kita, sepintar apapun pengetahuan kita, sekekinian apapun pergaulan kita, se-update apapun teknologi yang kita terapkan, semua itu berkat siapa?

Ibu, sang perempuan yang kita anggap lugu itu.

Hhh… ibu, ibu, ibu… ampuni semua anakmu. Karena Kebodohan Seorang Ibu (2). #RD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *