Mumpung Masih Hidup, Nikmati Kenikmatan dan Tak Perlu Mentaati Semua Aturan

Mumpung Masih Hidup, Nikmati Kenikmatan dan Tak Perlu Mentaati Semua Aturan

Pascal Campion, Pascal Campion illustration, Pascal Campion illustration drinking coffee, coffee drinker, nikmati kopi, hidup itu nikmat, mumpung masih hidup

By: Pascal Campion

“Ah, daku mah membeli dan memakan apapun yang diinginkan saja. Daripada nanti teh ingat terus, ngerasa lapar, dan kena maag? Nanti teh kalau semakin parah, gimana? Buat apa capek-capek cari uang, kalau ujung-ujungnya malah sakit? Uangnya buat Rumah Sakit, dong? Mahal tahu! Mana enggak enak! Mending sekarang aja dipake buat pedagang makanan. Paling beberapa ribu.”

“Mumpung daku masih hidup. Demikian juga sama suami, anak, dan ibuku. Jadi daku akan semaksimal mungkin membahagiakan mereka. Apapun makanan yang diinginkan, kalau ada, ya akan daku belikan.”

“Saudara-saudaraku bilang, daku mesti irit belanja makanan. Katanya biar bisa jadi barang, ya kendaraan atau benda-benda mewah gitulah. Tapi, enggak ah… enggak akan nargetin apa-apa. Yang penting pas pulang, daku bisa membawa banyak makanan yang keluarga suka. Mumpung hidup, mumpung sehat, mumpung nikmat.”

~~~

Bagi yang penasaran, semua itu adalah perkataan seorang rekan bisnis si Mimih. Sebut saja Ceuceu I. Dia biasa menyuplai perabotan. Kebetulan daku suka ikut kalau mendatangi tempat beliau, jadinya kenal.

Obrolan tersebut bermula ketika daku menemukan seorang pedagang surabi. Daku tanya Si Mimih barangkali pengin beli, mengingat beliau biasanya suka surabi dengan “topping” oncom. Benar saja, beliau langsung mengiyakan. Ya sudah daku belikan. Percakapan pun dimulai dan lumayan panjang. 😀

Jadi di tempat Ceuceu I itu selalu banyak makanan. Kalau ada yang menawarkan makanan ringan, rasanya Ceuceu I selalu beli. Kiosnya ibarat spot yang memanjakan para penjaja makanan.

Daku asumsikan kalau dia dan suaminya memang senang ngemil. Ternyata begitulah jawabannya. Selain untuk dimakan di te-ka-pe, makanan yang sudah terkumpul akan menjadi oleh-oleh lezat bagi anak dan ibunya.

Bagaimana menurut Bro-Sist?

Hmm… untuk beberapa poin, daku pribadi setuju. Misalnya tentang itikad Ceuceu I untuk menyenangkan keluarganya. Baik hati sekali! Daku juga dibikin tercenung dengan keputusannya untuk memakan makanan yang disukai, tak perlu ditahan-tahan atau terlalu mengkhawatirkan efeknya.

Beliau seakan bilang…

Mumpung masih hidup dan masih bisa merasakan kenikmatan, salah-satunya nikmat dari makanan. Iya, ‘kan? Ah, senangnya kalau memang seperti itu. Kita mengesampingkan kadar gula, kolestrol, lemak, kafein, dsb.

Hidup tak perlu terlalu ketat. Semua peraturan umum tak wajib dipatuhi. Kecuali kalau ketetapan agama, sebab Allah Swt Maha Tahu yang terbaik dan terburuk bagi umat-Nya. Bukan dosa besar kalau mencicipi makanan pedas, asam, junk atau fast food,  kopi, jajanan yang dipamerkan di pinggir jalan bercampur dengan asap kendaraan, dsb. Oalah…

Oh, orang-orang yang diet mungkin akan mengernyitkan dahi. Sebab, mereka tentu memiliki banyak pantangan untuk dipertimbangkan. Entah makanannya atau porsinya. Hehe…

Kalau kita ingat-ingat, agama sendiri sudah memberi patokan khusus untuk makanan. Makanannya yang penting halal dan thoyib atau baik. Tidak membuat kita merasa jijik. Selain itu, agama juga mewanti-wanti hal lain yang sangat penting, yakni… jangan berlebihan.

Sesuka-sukanya daku sama kopi tertentu, yang insya Allah halal dan thoyib, tentu konsumsinya tak akan bebas lepas. Bukan berarti karena kita suka dan agama (insya Allah) sudah merestuinya, lalu daku bisa leluasa menenggak cairan tersebut, ‘kan? Enggak begitu. Ada jumlah cangkir tersendiri yang direkomendasikan. Tapi itu lebih baik, ketimbang daku “berlagak” menahan-nahan diri untuk tidak menenggaknya sama-sekali. . Hehe… bisa kering aktivitas menulisku. #peace.

Intinya, riskan juga kalau kita terlalu “membuai” nafsu. Melahap apapun yang sekiranya sesuai selera lidah. Padahal porsinya sudah tak bisa ditoleransi. Bukannya nikmat, potensi sakit dan dosa bisa mendekat.

Mumpung masih hidup dan bisa menikmati beberapa kenikmatan…

Kita masih punya kesempatan untuk bisa lebih bijak, lebih bisa menerapkan segala sesuatunya dengan seimbang, dan pastinya tetap sehat. Tetap bahagia, ya. Aamiin. Mumpung Masih Hidup, Nikmati Kenikmatan dan Tak Perlu Mentaati Semua Aturan. #RD

2 Comments
  1. Bayu Rohmantika Yamin
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *