Kita Tidak Butuh Pendidikan, Tidak Butuh Pengendalian Pikiran

Kita Tidak Butuh Pendidikan, Tidak Butuh Pengendalian Pikiran

hari pendidikan nasional, lagu barat tentang pendidikan, kritik pendidikan, kita tidak butuh pendidikan, kita tidak butuh pengandalian pikiran, lagu another brick in the wall 2 pink floyd, maksud lagu another brick in the wall 2 pink floyd, makna lagu another brick in the wall 2 pink floyd,

Via: Youtube [edit]

Serius. Di Hari Pendidikan Nasional seperti ini, daku menulis judul postingan yang mengundang amarah sebagian orang? Hhh… tapi bagi yang merasa familiar, ya, tajuknya memang diambil dari petikan lagu Pink Floyd – Another Brick in the Wall bagian kedua.

Sebagai mantan mahasiswi fakultas pendidikan, daku masih selalu mendengarkan lagu ini. Betapa tidak, karya Abah Waters Cs ini memang ada di playlist, ya. Bahkan daku menobatkan “Another Brick in the Wall” (semua bagian) sebagai salah-satu dari daftar lagu terbaik dan favorit sepanjang masa. Walau semula begitu “menyeramkan”, namun pesan di balik liriknya memang layak untuk jadi bahan renungan. Khususnya bagi guru, pengajar, tutor, atau para pegiat pendidikan.

Jika ditelisik lebih dalam lagi, lagu yang satu ini bukanlah tipikal yang “Pink Floyd banget”. Ada disko-diskonya, gitu. Ada beat yang mengundang kita untuk berjoget, gitu. Hal ini tentu mengundang reaksi kurang positif, ya. Tapi ternyata single ini melejit. Popularitasnya menanjak seiring dengan kontroversinya juga.

Lirik Lagunya yang Kontroversial

lagu another brick in the wall 2 pink floyd, maksud lagu another brick in the wall 2 pink floyd,, makna lagu another brick in the wall 2 pink floyd, tentang lagu another brick in the wall 2 pink floyd, di balik lagu another brick in the wall 2 pink floyd, inti cerita lagu another brick in the wall 2 pink floyd, kisah lagu another brick in the wall 2 pink floyd, lirik dan terjemahan another brick in the wall 2 pink floyd, arti lagu another brick in the wall 2 pink floyd,

Meski bukan tipikal orang yang mudah nge-judge, maklum saja kalau ada yang langsung menganggap kalau lagu ini bersifat “anti pendidikan”, “pembenci guru”, dan “ngomporin siswa agar berontak”. Secara tersurat, liriknya memang membuktikan hal yang demikian. Namun namanya juga karya seni, khususnya yang satir, tentu kita tak bisa langsung memberi penghakiman begitu saja.

Perlu penelusuran dan penjabaran lebih lanjut, ya. Kita musti melihat gambaran singkat dalam video klipnya, membaca cerita di balik penciptaan lagu ini, menghubungkannya dengan konteks sejarah pendidikan di masa rilisnya, dsb. Setelah itu, baru bisa ditarik benang merahnya. Lagu ini, ehm… justeru menunjukkan kepedulian tinggi terhadap pendidikan?

Frustasi Akan Pendidikan

Daku tak berani men-generalisir keadaan pendidikan zaman sekarang. Rasanya kurang bijak juga. Namun kita masih bisa menebaknya, ya.

Betapa kualitas pendidikan belum terasa merata, betapa siswa masih seperti didikte, betapa para siswa masih menjadi “korban” gonta-ganti kurikulum pendidikan, betapa para siswa belum mendapat kebebasan penuh untuk menjadi sesuatu yang mereka dambakan, betapa guru masih dihormati karena siswa takut bukan takdzim, betapa guru selalu menyepelekan skill non-akademis para siswanya, betapa guru tanpa sadar sudah menyakiti dan menciptakan dendam di benak para muridnya, betapa guru hanya bisa menyuruh/ membebani tanpa bisa mengapresiasi, betapa guru sudah menjadi diktator di mata para siswanya, atau betapa ironisnya pendidikan yang mencetak manusia-manusia dengan titel tinggi dan (mungkin) otak pintar (saja), sementara moral atau soft skillnya… kita tahu sendiri.

Penghargaan Tinggi

Di momen spesial seperti ini, kami mengucapkan Selamat Hari Pendidikan Nasional. Penghargaan setinggi-tingginya dilimpahkan kepada para guru yang ada di pedalaman, yang tetap perkasa di tengah gaji kecilnya, yang tak menyerah di tengah fasilitas mirisnya, atau justeru yang semangatnya tetap membara walau tak ada apresiasi nyata sama-sekali. Daku yakin usaha kalian tak sia-sia.

Paling tidak, di tangan kalian… cahaya harapan akan pendidikan masih menyala. Kita Tidak Butuh Pendidikan, Tidak Butuh Pengendalian Pikiran. #RD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *