Meninggalnya Seorang Ulama; Padamnya Pelita Umat Manusia

Meninggalnya Seorang Ulama; Padamnya Pelita Umat Manusia

meninggalnya ulama, ulama meninggal, keadaan umat ketika ulama meninggal, meninggalnya seorang ulama, meninggalnya ulama pertanda kehancuran dunia

Karya: Lesley Oldaker

Akhir-akhir ini, orang-orang di desaku tengah dirundung duka. Pasalnya seorang ulama, kyai, ajengan, atau intinya “Bapak” dari jemaah kaum muslim sedang dilanda sakit. Dilihat dari kondisinya, kami sudah mengantisipasi hal terburuk yang terjadi. Segala upaya atau ikhtiar tengah dilakukan, keluarga hanya bisa tawakal.

Sampai kemudian pada hari Jumat (27/05/16), seseorang mengetuk-ngetuk rumah. Daku yang tengah tertidur segera bangun, dan menyadari waktu sudah menunjukkan pukul 03.30 WIB. Begitu kubuka pintu, nampak wajah seorang ibu-ibu yang biasa membeli perlengkapan kain kafan.

“Siapa, Mih?”

“Pak Kyai Haji Endoy, Neng.”

Daku jadi ingat kabar yang terdengar sebelum tidur. Ayah dari seorang teman pun meninggal. Beliau juga merupakan seorang kyai, namun berbeda tempat tinggal.

Innalillaahi wainna ilaihi rooji’uun… semoga Allah Swt mengampuni, menyayangi, dan menempatkan beliau di surga. Aamiin.

~

Dari berita yang kudengar, Pak Kyai meninggal sekitar pukul 02.30 WIB. Beliau meninggalkan isteri dan anak-anaknya. Beliau juga… meninggalkan kami, umatnya.

Di saat umat sedang seperti ini, Pak Kyai pergi. Siapa yang tak bersedih dan ngeri?

Sebagai seorang ulama, beliau menjadi pelita. Ibaratnya kami semua ada dalam kegelapan, atau kebodohan. Kami bergantung pada beliau. Tapi kemudian, salah-satu sumber cahaya itu padam. Siapa yang enggak kelimpungan? Toh, kami semua bodoh.

Siapa yang akan jadi imam? Siapa yang akan jadi panutan atau teladan? Siapa yang akan memberikan fatwa? Pada siapa akan bertanya? Pada siapa akan memetik hikmah? Pada siapa akan meminta nasihat?

Pagi hari ini begitu suram. Keadaan sedang tak hangat. Kami kedinginan.

Tentu musibah besar jika orang tak tahu berguru pada yang tak tahu juga. Semuanya tak akan berdasar pada ilmu, yang nyata-nyata sudah ikut pergi bersama para ulama. Kami sedang sesat, malah berada di tengah-tengah orang yang kesesatan pula.

Buku-buku yang ada pun tentu berbeda dampaknya. Apalah arti dari lembar demi lembar kertas jika tak ada sosok penuntunnya?!

~

Sudah kita ketahui bersama, ulama adalah pewaris pada Nabi. Tentu posisi mereka begitu mulia. Begitu hilang, tak sembarang orang bisa menggantikannya.

Seratus atau seribu dari orang-orang awam macam kita yang meninggal, mungkin perlahan bisa segera terlupakan atau tergantikan. Tapi ketika satu ulama saja yang pergi? Kita amat kehilangan. Dunia amat kehilangan.

Tak heran kalau ada orang bilang, meninggalnya ulama jadi penyebab kehancuran dunia. Meninggalnya ulama menjadi ciri dari hari kiamat atau hari akhir. Wallaahu’alam.

Daku bukan sosok yang amat religius, namun memerhatikan keadaan sekarang, hati siapa yang tidak dilanda kecemasan? Orang-orang kurang mengapresiasi keberadaan para ulama atau kyai. Kita lebih sibuk dan cinta pada urusan dunia. Baru setelah ditimpa musibah atau kemalangan, kita datang pada para pemuka agama.

Kita malah disebut-sebut tengah dalam keadaan “darurat kekerasan seksual”, “darurat generasi penerus yang soleh”, dan bisa dibilang “darurat moral”. Sementara dalam keadaan segenting ini, satu per satu orang-orang soleh dan berilmu dijemput oleh pemiliknya. Mereka mungkin sengaja diistirahatkan dari kelakuan umat yang sudah merepotkan.

Ya Allah…

Walau tak akan sama, namun harapan kami masih ada di tangan generasi selanjutnya. Meninggalnya Seorang Ulama; Padamnya Pelita Umat Manusia. #RD

6 Comments
  1. damarojat
    • deeann
  2. Hermiai
    • deeann
  3. Fadhli
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *