11 Alasan Kenapa Kita Harus Bersikap Diam Seribu Bahasa

11 Alasan Kenapa Kita Harus Bersikap Diam Seribu Bahasa

diam, diam seribu bahasa, kenapa harus diam, kapan kita diam, sikap diam, diam adalah emas, memilih untuk diam

Via: vk.com

Diam itu bisa bicara lebih keras dan menggema,

ketika mulut dan kata-katanya dirasa tiada berguna.

~

Ada momen di mana kita ingin bicara lantang, atau mungkin menjerit histeris. Kita ingin didengarkan, dan direspons dengan baik. Bagaimanapun, suara kita sudah gatal untuk keluar. Namun di saat yang sama, kita kerap dilema.

Pernahkah Bro-Sist menyesali sesuatu yang sudah diucapkan atau diungkapkan?

Efek dari penyesalan yang lebih besar itu kadang membuat kita segera mengendalikan suara. Kita jadi berpikir berkali-kali. Atau, kita memilih opsi lain untuk bersuara. Entah lewat karya tulis atau karya seni lain. Mau orang lain mudeng atau tidak, yang jelas unek-unek dalam hati sudah impas. Hanya saja, tak semua orang bisa beruntung memeroleh skill itu.

Pada akhirnya, sebagian besar dari kita pun memilih diam.

~

Postingan ini terinspirasi dari statusnya Pak Arif Subiyanto, yang ajaibnya, seakan-akan mendukung tindakanku untuk diam dalam menghadapi hal-hal tertentu. Hehe… Nah, status beliau bakal daku olah kembali, ya. Sengaja daku bentuk dalam list.

Well, kenapa kita harus bersikap diam ketika menghadapi omong kosong seseorang? Jom!

#1. Karena Kita Memang Keliru

Sanggahan maupun koreksi bisa saja terarah pada diri kita. Wajib hukumnya kita menyambut semua itu. Kalaupun apa yang mereka sampaikan memang benar dan ternyata diri kita yang keliru, diam dan terima saja. Itu pertanda kita diperhatikan, diselamatkan, dan dibimbing pada kebenaran. Kita harus lebih banyak belajar lagi.

#2. Karena Kita Bisa Belajar Rendah Hati

Khusus di blog ini, daku sudah menerima berbagai masukan dari pembaca. Ada yang menyampaikan secara datar, dan ada juga cukup sengit. Kata Pak Arif, hendaknya kita merespons semua itu dengan sikap yang rendah hati. Reaksi itu membuktikan: ungkapan kita mungkin keliru, namun topik yang kita sampaikan bukan omong kosong; banyak pihak tersengat atau tergugah untuk menanggapi sebab topik itu membuka peluang bagi mereka untuk berefleksi atau menunjukkan level kepakarannya.

#3. Karena Kita Memang Benar dan Merekanya Saja yang Tak Paham

Ada kalanya yang sudah menyuarakan kebenaran pun ditodong dengan selaan atau sanggahan. Padahal apa yang kita utarakan sudah sesuai dalil, bukti, atau teori yang kuat. Tetapi tetap saja ada pihak yang tak setuju dan mencecarkan serangan. Kalau pun kita dalam posisi tersebut, menurut Pak Arif, diamlah. Hanya itu cara yang anggun dan santun untuk menanggapi omong kosong.

#4. Karena Kita Tak Ingin Nampak Lebih Bodoh

Kalau kita membalas ocehan seseorang dengan mengoceh lagi, apa bedanya kita dengan dia? Apalagi kalau isi bualannya hanya gelembung yang tak berisi. Maka tips aman dan cerdasnya hanyalah diam. Pak Arif bilang, diam bukan berarti kehilangan muka. Justru sebaliknya: kita tidak nampak semakin bodoh.

#5. Karena Kita Tak Mau Baper

Pak Arif bertanya, “coba dihitung berapa kali dalam sehari, sepekan atau sebulan anda diprotes, diejek, diomeli, disindir atau dimarahi orang. Apa yang anda rasakan?”

Emosi yang muncul tentu negatif, ya. Kita akan merasa jengkel, tersinggung, berang, rendah dan dinistakan. Kalau tak pintar-pintar mengolah emosi, aksi mencak-mencak orang-orang itu nyaris tak mencipratkan dampak positif. Karenanya lebih baik diam. Menurut Pak Arif, biarpun orang ngomel atau njeplak, ngotot emosional sampai mampus karena pecah pembuluh darah di otaknya, kalau kita memutuskan untuk tidak berubah, semua kicauan sengau itu sia-sia belaka.

next-page-RD-300x100-1

2 Comments
  1. Yuyu
  2. Maman Supratman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *