27 Ciri-Ciri Kalau Kamu itu Seorang Penulis Sejati

Posted on

penulis, perempuan penulis, ciri penulis, tanda penulis, pekerjaan penulis, profesi penulis, penulis dan kopi
Via: jackieleasommers.com

#18. (Sebenarnya) Ingin Diapresiasi

Cinta penulis pada dunia literasi atau kepenulisan memang besar. Ada penulis yang berterus terang ingin terjun karena bisa dikomersilkan (mendapat honor atau bayaran), pengin dikenal, diakui eksistensinya, dan pengin karyanya dinilai. Ada juga yang mengatakan kalau menulis itu panggilan hati. Dia terus menulis walau tanpa ada bayaran atau pujian. Dirinya percaya kalau uang, popularitas, atau review bagus dari pembaca itu merupakan bonus atau “efek samping” dari passion yang dijalaninya.

#19. Menulis Sudah Dianggap Sebagai Terapi Tersendiri

Seseorang berpeluang untuk tak stabil. Begitu juga dengan penulis. Dia bisa stress atau depresi, kecewa atau marah, cemas atau takut, dsb. Namun ia memiliki senjata tersendiri untuk mengatasinya, yakni dengan terapi menulis. Jika sesuatu yang mengganjal belum ditumpahkan lewat tulisan, rasanya nyesek.

#20. Banyak Pikiran

Salah-satu nasihat yang sering digaungkan orang adalah… jangan banyak pikiran. Namun bagi penulis, kebiasaan ini tak bisa dihindari dengan mudah. Selalu ada saja yang mengisi pikiran, membuat otak kita jadi tambah sibuk.

#21. Sangat Mengapresiasi Apresiasi Pembaca

“Tulisanmu bagus”, “sangat menginspirasi”, “indah!”, “jatuh cinta sama karyamu”, dsb. Semua lontaran pujian itu sekali atau beberapa kali datang pada penulis. Tentu saja menyenangkan, tetapi si penulis tidak tinggi hati. Ia justeru terkadang merasa takut kalau tulisannya, suatu saat, berubah mengecewakan. Karena itu, semua pujian bukan mengantarkannya pada rasa bangga dan jumawa. Ia justeru semakin tertantang dan termotivasi untuk lebih banyak belajar.

#22. Kebal Kritik

Kritikan pedas-manis atau bahkan olok-olok kemungkinan bisa jadi santapan sehari-hari penulis. Tetapi dia sudah memiliki “saringan” tersendiri. Dari sekian komentar galak yang hadir, ia mencomot sesuatu yang sekiranya memang musti diperbaiki. Untuk kata-kata kasar nan menyakitkannya dibuang saja. Semua itu jadi pembelajaran, bahwa segala gerakan atau perjuangan itu tak akan lepas dari cobaan. Namun ia percaya, selama kegiatannya baik dan benar, Tuhan YME akan menolongnya.

#23. Meracik Rasa Iri Jadi Motivasi

Penulis sudah pasti membaca tulisan orang lain juga. Semakin banyak membaca, semakin ia sadari bahwa banyak sekali yang lebih bagus. Kala itu, perasaan iri atau cemburu datang tak terelakkan. Namun penulis tak berniat untuk menghancurkan atau menjatuhkan seseorang yang lebih baik darinya. Ia justeru serasa “tertampar” untuk terus belajar memperbaiki tulisan serta lebih berkarakter lagi.

#24. Tidak Baper Pada Dunia Menulis

Salah juga kalau ada yang menganggap penulis dan dunia menulis itu bahagia sepanjang masa. Ada momen menyebalkan juga. Katakanlah ketika penulis dicaci-maki atau dipreteli kekurangannya di depan publik, ketika penulis berhadapan dengan fenomena writer’s block, ketika penulis tak mendapat imbalan apa-apa, dsb. Namun semua pengalaman itu tidak lantas membuatnya baper, lalu balik kanan dari menulis. Entahlah, pokoknya dia tidak bisa putus. Tahu saja kalau dirinya tak akan bisa move on dari menulis.

#25. Menjadi Pelajar Abadi

Ada beban tersendiri bagi penulis untuk terus menjaga mutu atau kualitas tulisan. Kalau seorang murid bisa lulus dari sekolahnya, dia justeru menjadi pelajar abadi. Dia tak pernah mencapai kata “cukup” dalam hal belajar. Selalu ada saja yang musti direvisi, diperbaiki, atau ditingkatkan. Baik dari segi penggunaan kosa katanya, tata bahasanya, teknik penyajiannya, pesan tulisannya, dsb.

#26. Mengutus Kata untuk Memberikan Makna

Penulis sudah menelan banyak sekali efek baik dari menulis, dia pun ingin pembacanya merasakan hal yang sama. Untuk itu, sebisa mungkin dia menyajikan karya yang bermanfaat. Selalu ada pesan atau makna kebaikan yang diselipkan di tiap rangkaian katanya.

#27. Konsisten, Tak Bisa Tanpa Menulis

Ada kegalauan tersendiri ketika hari-hari penulis dilalui tanpa menulis. Dia seperti kehilangan separuh jiwanya. Bagaimanapun, dirinya begitu berterima kasih pada menulis. Dengan menulis, dia bisa merasakan kebahagiaan dan kepuasan tersendiri. Menulis mengajarkannya untuk lebih bijak, lebih lembut, lebih tahu, lebih paham, dan pokoknya lebih baik. Karena itu, dia memilih untuk konsisten menulis.

~

Penulis tak wajib memiliki semua tanda di atas, ya. Hanya saja dominannya memang demikian. Nah, daku pungkas postingan ini dengan quote atau kutipan dari Richard Bach, ya. Katanya; penulis profesional adalah penulis amatiran yang tak pernah berhenti atau mengundurkan diri. 27 Ciri-Ciri Kalau Kamu itu Seorang Penulis Sejati. #RD


4 thoughts on “27 Ciri-Ciri Kalau Kamu itu Seorang Penulis Sejati

  1. Hmmmmm…… bnr lgi … bbrpa hal memang ada di saya, tp akhir2 ini lg gak mood menulis postingan, lg doyan membc nyasar dr blog ke blog dan kemudian “nyampah” ngomen disana. Semoga gak keberatan yah…

    Oia. Lam kenal .

    1. Mungkin sedang capek atau bagaimana. Nanti biasanya semangat nulisnya muncul lagi. Aamiin… Wah sangat tidak keberatan kok, Mbak. Haha…

      Salam kenal juga, ya. ^_^

Comments are closed.