9 Langkah Bagi Orang Berkepribadian Introvert untuk Menerima Jati Dirinya Sendiri

introvert, introvert adalah, introvert adalah sifat, orang introvert, orang introvert adalah, menerima diri menjadi orang introvert

via: vk.com

Siapa yang termasuk introvert? Atau, masih bingung? Atau mungkin, enggak peduli sama-sekali?

Bagi yang sudah menyadari diri sebagai seorang introvert, selanjutnya kita musti menerima keadaan yang ada.

Jika boleh dibandingkan, dunia ini sepertinya “lebih berpihak” pada para ekstrovert. Haha… Maksudnya kalau ekstrovert itu ‘kan terkesan lebih ceria, terbuka, supel, gaul, berani, cinta keramaian, dsb. Sementara introvert jadi pihak yang dianggap misterius, patut dicurigai, dan “diam-diam berbahaya”.

Orang yang introvert memang beda, lain daripada yang lain. Kebanyakan orang doyan pesta, introvert lebih nyaman sendiri. Kebanyakan orang pengin maju agar jadi pusat perhatian, introvert lebih memilih bekerja di belakang layar. Kebanyakan orang mengeraskan suaranya, introvert justeru memilih diam dan melantangkan pikirannya.

Kebanyakan orang menjalin pergaulan dengan sebanyak-banyaknya teman, introvert lebih membatasi diri dan lebih fokus pada segelintir sahabat-sahabatnya saja. Kebanyakan orang hobi ke luar rumah, introvert mah oke-oke saja di dalam rumah. Kebanyakan orang menunjukkan perhatian secara langsung dan terbuka, introvert memilih mengobservasi secara diam-diam. Dll.

Well, kepribadian introvert memang eksis. Tapi kepribadian ini bukan kelainan atau kutukan. Tak ada yang salah. Hanya saja, kita musti menerima dan memeluk apa yang sudah menjadi jati diri kita. Apa adanya.

Jika diuraikan, berikut ini tahapan orang introvert sebelum kemudian mereka sadar akan kepribadiannya, lalu bisa menerima dirinya sendiri. Jom!

Tahap 1: Kurang Nyaman & Enggak Percaya Diri

Poin ini sudah daku singgung sebelumnya. Ada masa di mana introvert belum tahu kepribadiannya sendiri. Namun kita sudah “mencium” perbedaan dengan kebanyakan orang. Misalnya ketika sekolah… kita merasa tidak perlu untuk jadi siswa populer, kita kurang cocok bekerja kelompok dengan teman-teman yang kurang dekat, kita malas untuk tampil atau unjuk gigi, kita tidak sering nongkrong, kita kurang lihai menjalin pertemanan baru, dsb.

Ciri-ciri di atas sangat kontras dengan siswa mayoritas. Karena itu, beberapa diantara mereka mungkin menganggap kita aneh. Bisa jadi kita juga mendapat sebutan seperti “kurang gaul”, “nerdy”, “cupu”, “kutu buku”, dsb. Bedanya tingkah laku ini diam-diam membuat kita tak nyaman. Kita pun sedikit tak percaya diri ketika bertemu teman-teman baru pas naik kelas, pas ekskul, pas di kantin, dsb.

Tahap 2: Kebingungan

Jika tahap 1 terus berlanjut, semua itu akan mengantarkan kita pada kebingungan. Kadang kita berpikir, kenapa daku agak aneh begini? Kenapa enggak seperti orang lain pada umumnya saja? Apa ada yang salah?

Pokoknya rasanya aneh. Ingin punya teman, tapi kita orangnya begitu kikuk dan sungkan. Kita tak mau merasa kesepian, tapi di saat yang sama kita merasa lebih baik sendirian. Kita pengin curhat ini-itu sampai plong, tapi di sisi lain kita lebih memilih menutupinya dalam hati saja.

Tahap 3: Frustasi dan Menderita

Wew, terkesan dramatis, ya? Nah, orang introvert memang terkenal sensitif dan emosional. Drama queen, gitu. Hehe…

Tapi beneran, masa seperti ini memang kerap dilalui orang introvert. Apalagi ketika kita musti menghadapi sesuatu yang jadi titik kelemahan introvert. Tak jarang kelemahan itu bisa mengantarkan kita pada hasil negatif. Misalnya karena rasa malu, introvert jadi tak bisa mendapat nilai maksimal ketika mendapat tugas membaca puisi di depan kelas. Karena lebih suka suasana senyap, introvert kerap dituding sebagai orang yang enggak asyik lantaran selalu menolak di ajak kongkow. Atau karena tak terlalu ekspresif dan tak pandai bergaul, sering juga orang menganggap introvert itu jutek atau “dingin”. Dsb.

Semua itu kadang membuat kita jengah. Ingin berubah, tapi tak bisa dengan mudah. Bagaimanapun, kepribadian itulah yang sudah dianugerahkan.

Tahap 4: Ada Pencerahan

Seiring dengan berjalannya waktu, kita akan mengenal istilah tentang kepribadian. Bahwa ternyata karakter orang itu bisa termasuk ekstrovert, introvert, dan ambivert. Kita akan mengetahui bagaimana perbedaan diantara jenis kepribadian yang ada.

Tak ada seorang pun yang bisa melabeli kehidupan kita. Misalnya ketika kita menghabiskan hari dengan kopi dan membaca buku, ada orang yang komentar, “hidupmu membosankan dan tak berwarna”. Well, itu menurutnya. Siapa tahu justeru kopi dan baca buku itu membuat waktu seorang introvert jadi lebih fun dan bermakna.

Tahap 5: Mulai Menerima Diri

Orang ekstrovert rata-rata lebih disukai karena mereka lebih asyik, riang, dan cepat beradaptasi. Namun bisa saja orang justeru tak suka sosok ekstrovert lantaran mereka itu berisik, sok kenal sok dekat, atau mengganggu. Itu artinya kita tak bisa men-judge kalau ekstro, intro, dan ambivert itu buruk atau jahat.

Semua manusia memiliki sifat masing-masing yang bisa jadi kelemahan, dan bisa juga jadi pesonanya. Misalnya seorang introvert memang “lemah” kalau dijadikan teman hang out, namun ia bisa unggul ketika mendengarkan curhatan orang. Dalam tahap ini, kita mulai menerima kecenderungan diri sendiri.

Kita baik-baik saja ketika meluangkan me time yang lebih sering, kita baik-baik saja ketika hanya bertemankan buku bacaan atau hewan peliharaan, kita baik-baik saja ketika mengisi waktu lebih panjang di rumah, kita baik-baik saja ketika tak jadi sosok yang terkenal, kita baik-baik saja ketika tak terlibat dalam hura-hura atau keramaian, kita baik-baik saja ketika hanya bisa mengobservasi dari kejauhan, dan kita baik-baik saja ketika orang lain menganggap kita seperti alien; asing, aneh, dan berbeda.

Tahap 6: Merasa Utuh

Ada kelegaan tersendiri ketika kita sudah tahu, oh ternyata daku ini berkepribadian introvert.

Setidaknya kita tak perlu pusing-pusing untuk menjadi orang lain. Introvert memang begini adanya. Introvert sudah merasa bersyukur meski hanya memiliki lingkup persahabatan kecil (asal solider). Introvert lebih nyaman menyepi ketimbang berada di tengah suasana gaduh. Introvert percaya diri mengatakan “tidak” pada acara-acara yang dirasa kurang prioritas. Introvert tak ikut-ikutan mengekspos dirinya di media sosial dan lebih memilih menjaga privasi. Dan, masih banyak lagi tipikal seorang introvert.

Semua itu sudah tak jadi masalah bagi introvert yang sudah merangkul dirinya sendiri. Kita justeru merasa utuh sudah bisa mengenali jati diri yang sesungguhnya. Selama berada di jalan yang benar, apa salahnya?

Tahap 7: Menemukan Berbagai Alternatif

Sudah kodratnya manusia untuk bersosialisasi, bersahabat, mencari pasangan, mengeluarkan unek-nuek, dsb. Termasuk juga dengan introvert. Tetapi untuk memenuhi yang satu ini, kita tak perlu pura-pura jadi pribadi yang lain.

Masih banyak alternatif yang bisa jadi pilihan. Misalnya dalam hal sosialisasi. Radar kita akan dengan sendirinya “menyeleksi” mana orang yang benar-benar mengerti. Kalau sudah ketemu, biasanya kita akan mencurahkan kasih sayang, kepedulian, dan kesetiaan pada sosok itu.

Demikian juga ketika pengin menyampaikan sesuatu. Kita bisa menggunakan media tulisan atau karya seni. Kata-kata itu bisa ditahan dan dikurung dalam hati atau kepala. Tapi isinya diekspresikan dalam bentuk lain. Entah diary, cerpen, lagu, lukisan, poto, dsb.

Tahap 8: Enggak Peduli Anggapan Orang

Poin yang satu ini juga sempat daku ulas. Introvert memang memiliki kecenderungan yang sedikit berbeda. Karenanya ada yang menganggap unik, ada juga yang menilainya aneh.

Tapi kalau sudah menerima diri sendiri, kita tak akan terlalu memerdulikan penilaian orang. Apa salahnya dengan sifat pemalu, pendiam, dan tertutup? Biasanya introvert justeru menjelma menjadi sosok yang pemberani, cerewet, dan terbuka di antara orang-orang yang dekat dan memahaminya (saja). Tak apa jika introvert tak mengeluarkan sisi itu ke semua orang.

Tahap 9: Bersyukur

Segala puji bagi Tuhan YME yang sudah menciptakan makhluk-Nya dengan sedemikian sempurna. 

~

Introvert berhak dan berpeluang juga untuk sukses serta mendapat spot perhatian. Tak perlu berdiri di depan panggung kalau ternyata kita bisa menyokong keberhasilan dari belakang. Oh ya, daku juga sudah membahas sebelumnya, tentang Daftar Artis, Selebritis, atau Tokoh Sukses yang Ternyata Merupakan Seorang Introvert”. Siapa tahu jadi motivasi atau inspirasi?!

Tak perlu malu. Tak perlu rendah diri. Tak ada yang salah. Kita hanya berkepribadian introvert. 9 Langkah Bagi Orang Berkepribadian Introvert untuk Menerima Jati Dirinya Sendiri. #RD

7 Comments
  1. Doel
    • deeann
  2. nemesia
    • deeann
  3. tia
    • deeann
  4. tia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *