Cerita Ngabuburit; Apa Cinta Mereka Pikun Juga?

Cerita Ngabuburit; Apa Cinta Mereka Pikun Juga?

Cerita Ngabuburit, Cerita Ngabuburit lucu, Cerita Ngabuburit tentang cinta, cinta usia tua, cinta masa tua, kisah cinta kakek nenek, cinta pikun

Via: izismile.com

Pasangan kakek-nenek sangat senang ketika anak dan cucu-cucu mereka datang berkunjung. Maklum, mereka sudah tinggal di rumah masing-masing. Sehari-harinya mereka hanya hidup berdua.

“Nak, kayaknya ada yang salah sama daya ingat bapakmu,” Si Nenek memulai, “Nenek nyuruh beli minyak angin ke warung, eh datang-datang dia malah bawa tisu basah.”

“Ibumu juga,” Kakeknya menambahkan, “Pas udah gosok gigi di pagi hari, dia malah minta ke luar.”

“Keluar?” Si anak kebingungan.

“Iya. Katanya pengin dinner, makan malam di luar, gitu. Padahal ‘kan ibumu baru aja bangun tidur.”

Si anak hanya menggeleng-geleng, tersenyum. Dia menggigit-gigit dinding pipinya, memikirkan bagaimana mengatakannya pada mereka berdua. Keduanya memang sudah uzur, dan mungkin sedang mengalami yang namanya pikun.

“Wajar, Pak, Bu. Kalau sudah tua ‘kan,…”

“Enggak!” seru Kakek dan Nenek berbarengan.

“Pokoknya kami pengin periksa ke dokter,” Si Nenek manyun.

“Tapi, Bu?”

“Titik,” Kakek melipat tangannya, berlagak ngambek, “Kami capek jadi pelupa.”

Sang anak tak melawan lagi. Dia hanya menduga akan reaksi dokter nantinya. Entah penyakit pikun bisa diobati atau tidak, namun tentu saja pengobatannya berbeda dengan penyakit biasa. Dia pun memutuskan untuk menyetujui permintaan itu.

~

Karena ada panggilan mendadak dari tempat kerjanya, si anak hanya bisa mengantarkan ibu bapaknya ke muka sebuah klinik dokter. Namun ia tak lupa menyelipkan segepok uang untuk keduanya. Ia juga tetap menyalami takdzim, meminta keridhoan mereka sebelum pergi bekerja.

“Siapa yang sakit, Pak? Bu?” tanya seorang dokter dengan ramah.

“Kami berdua, Pak Dokter,” Nenek yang menjawab.

“Oh… apa yang Ibu dan Bapak keluhkan?”

“Kami selalu lupa, Pak Dokter,” sahut Si Kakek, membuat dokter mengernyitkan alisnya.

“Maksudnya, kami selalu enggak ingat, Pak Dokter.”

Pak Dokter berpikir keras.

“Oh, Bapak sama Ibu sudah pikun! Ya, masalahnya itu, Pak, Bu.”

“Tolong periksa lagi, Pak Dokter,” Si Kekek keukeuh.

Dokter menimang-nimang jawaban.

Please, Pak Dokter?” pinta nenek, “Kami punya uang banyak, lho?!”

Dokter pun melakukan serangkaian pemeriksaan. Hasilnya sudah jelas. Pasangan lansia itu tidak memiliki masalah apa-apa secara fisik. Mereka sehat wal’afiat.

“Tapi kami mau diobatin, Pak Dokter,” si Nenek memonyongkan bibirnya.

“Pak Dokter sudah nyakitin hati seorang perempuan, tau?” Si Kakek mengompori keadaan, “Dan, perempuan itu adalah isteri saya. Saya minta dokter bertanggung-jawab. Titik.”

Ketiganya duduk berhadapan, dan hanya bersekat meja persegi panjang saja. Sang dokter sedikit terkejut. Tapi bukannya marah, dia lalu tersenyum dan bertanya,

“Kakek dan nenek mengeluhkan sifat pelupa. Tapi kok Nenek enggak bisa lupa Kakek? Dan, Kakek enggak bisa Nenek, hm?”

“Semua karena cinta, Pak Dokter,” jawab nenek dengan cepat, “Ajaib.”

“Pertanyaan dokter terlalu mudah,” sambung kakek, “Ayo mana obatnya?”

Dokter bingung, sebab tak ada tablet atau pil khusus untuk orang tua yang pikun. Kalau pun ia hendak memberikan obat sembarangan, tentu nanti efeknya akan buruk. Dia bisa dituntut.

“Bagaimana kalau saya kasih resep saja, maksudnya saran, gitu?”

Kakek dan nenek beradu pandangan. Empat detik kemudian, mereka mengangguk bersamaan. Keduanya setuju akan opsi yang dokter ajukan.

“Begini saja, kakek dan nenek harus mencatat,”  dokter menganjurkan, “Catatan itu pasti akan sangat membantu. Dengan demikian, kakek dan nenek enggak bakal lupa lagi. Gimana?”

Pasangan di depannya bertepuk tangan.

“Pak Dokter hebat!”

Dokter akhirnya bisa mengelap keringat di dahinya pasca kakek-nenek itu membayar dan keluar. Dia memastikan akan pura-pura tutup kalau suatu saat mereka terlihat kembali mengunjungi dirinya.

~

Saran dari dokter ternyata cukup membantu, sekaligus merepotkan. Kakek dan nenek terus-terusan membawa catatan kecil. Ke mana-mana mereka akan membawa buku kecil dan pulpen. Lama-kelamaan keduanya saling mengeluhkan betapa risihnya rutinitas itu.

Di suatu malam, kakek dan nenek tengah menonton sinetron. Si kakek kemudian berdiri. Tapi sebelum ia melangkah, isterinya bertanya,

“Mau ke mana?”

“Ke dapur?”

“Oh… buatin teh manis hangat, ya?”

“Oke!”

“Bapak enggak menulisnya? Nanti lupa, lho?”

“Ah segitu doang mah Bapak inget, kok!”

“Teh kesukaan ibu kan yang gulanya satu sendok seperempat, terus cangkirnya yang motif bunga mawar itu.”

“Iya.”

“Ditulis dong, Pak?”

“Enggak usah!” si kakek keburu haus, “Ibu minta dibuatin teh, gulanya satu sendok seperempat, terus cangkirnya yang motif bunga mawar, ‘kan?”

“Bapak cakep deh!” seru nenek, tapi malah sambil mengacungkan jari tengahnya ketimbang jempolnya, “Ups! maaf, Pak.”

“Enggak apa-apa, Ibu juga cantik, kok!” Kakek membalas pujiannya, “Ada lagi?”

“Oh ya! Air panasnya setengah gelas, air dinginnya setengah gelas. Jadi biar hangat gitu, Pak. Ehmm… tulis aja, ya? Pesanan Ibu agak panjang.”

Hadeuh… Bapak inget, kok!” Kakek benar-benar melangkah, “Teh manis. Gulanya satu sendok seperempat dalam cangkir motif bunga, terus airnya hangat,” katanya sambil mengomel dan menuju ke dapur.

Dua puluh menit berlalu.

Nenek menoleh ketika mendengar langkah dari arah dapur. Si kakek membawa nampan berisi biskuit dan kopi hitam yang manis – pahit. Melihat hal itu, nenek merengut.

“Lho, kok biskuit sama kopi? Roti tawar yang Ibu pesan mana?”

#tepukjidat. Cerita Ngabuburit; Apa Cinta Mereka Pikun Juga?”

~ TAMAT ~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *