Cerpen; Air Mata Hati

Cerpen; Air Mata Hati

cerpen sedih, laki laki sendirian di waktu senja, laki laki sunset, air mata laki laki, laki laki sedih

Via: photographyinspired.com

“Dia ngeluarin air mata, Den! Bayangin!” senyum Devan tak pernah pudar ketika bercerita dengan sahabatnya, “Aninditaku pasti nangis karena terharu dan bahagia.”

Sebagai sahabat, Alden juga lega mendengarnya. Devan yang beberapa bulan lagi berusia tiga lima memang sudah ingin buru-buru melaksanakan sunah Rasul. Tiap kali bicara tentang kaum hawa, tak ada lagi kosa-kata pacaran atau pendekatan. Niat dan langkahnya sudah mantap. Bidikannya adalah pelaminan, bukan lagi komitmen manis-pahit yang tak berdasar.

Dan, barusan Devan menyampaikan gong dari obrolan panjang mereka. Rupanya ada sesuatu yang terjadi ketika dia menyampaikan lamaran secara pribadi pada kekasihnya kini, Anindita. Gadis yang memiliki rentang usia 10 tahun itu menutup nganga mulut dengan tangannya yang imut. Sejurus kemudian, dia melingkarkan tangan pada leher Devan.

Alden menyeringai ketika Devan mengaku, kalau momen pelukan itu sangat menyiksa. Ada setruman aneh yang bikin bahagia sekaligus menderita. Dia muslim yang cukup taat, sehingga kontak tersebut pasti termasuk dosa. Apalagi Devan tak bisa ingkar soal nafsunya.

Beruntung, tangannya yang otomatis menempel pada pinggul Anindita hanya bertahan selama 3 detik. Semuanya lepas, tapi kemudian dia terhibur, sebab di depan matanya sudah ada bayangan pernikahan. Mereka bisa melakukan lebih dari itu dengan dukungan penuh.

“Jadi si bidadari itu belum nyadar ya sedang pacaran sama makhluk terkutuk?” Alden memutuskan untuk menggoda karibnya, yang kemudian tertawa lepas.

“Kalau untuk bersamanya musti terkutuk dulu, saya rela deh!”

Keduanya terbahak. Alden melihat tawa Devan mirip dengan tawa ketika tim sepakbola kesayangannya menang di final. Mulutnya melebar. Ujung-ujung matanya basah. Ajaib, memang. Tawa bisa bersatu dengan air mata juga.

“Emang mau cepet-cepet, gitu?” tanya Alden ketika tawa mereka reda, “Ada enggak biaya buat prasmanannya, hm?”

“Prasmanan kamu bilang? Saya bahkan bakal lebih giat kerja keras buat ngebangun rumah sama beli mobil kodok, Den!”

Alden tergelak, menganggap kalau Devan mendadak memiliki cara melawak yang lebih galak.

“Santai, Van,” Alden menyeruput kopi hitamnya yang sudah tak berasap, “Tapi seriusan. Kamu udah ngabisin tabungan buat acara lamaran kemarin, sekarang kamu musti fokus nabung buat mahar dan seserahannya.”

Devan ikut membasahi tenggorokan dengan kopi hitamnya juga. Pandangannya tertuju pada jendela yang sejak pagi sudah terbuka lebar. Namun tak ada pemandangan menarik di dekat ruang staf kelurahan. Hanya ada taman kecil dengan air mancurnya yang mampet.

“Saya berhenti ngerokok aja kali, ya?” jari tengah dan telunjuknya mengapit rokok yang masih utuh berukuran sembilan senti.

“Kenapa? Rebutan sama hobi shopping-nya Si Anindita?” tebak Alden, “Tas yang kemarin kamu beli itu bisa dituker sama…” Alden menggerak-gerakkan jemarinya, berlagak tengah menghitung, “Hah! 3 slop rokok kita, Van!”

“Makanya,” Devan mengalihkan pandangan, kembali fokus pada mata Alden, “Saya harus serius, daripada uangnya dibakar terus.”

“Hmm…”

Alden kemudian mengingat ketika pertama kali Devan mengenalkannya pada Anindita. Wajah perempuan itu memang rupawan. Ia tak menampik sempat iri pada sahabatnya. Mungkin karena dirinya memang masih sendiri. Mungkin juga karena luka lama, di mana Devan berhasil merenggut hati orang yang hingga kini masih ia idamkan.

“Ngomong-ngomong kalau di daerah kita ada yang jualan mobil kodok enggak, ya?”

Alis kiri Alden naik. Ini anak sedang bercanda apa serius, sih?

“Saya musti gimana, Den, biar bisa cepet-cepet ngebangun rumah?” Devan berdiri dan menyedot rokoknya kuat-kuat, “Si Babeh sudah ngasih tanah… apa dijual aja, gitu? Terus langsung beli rumah? Tapi uangnya cukup enggak, ya? Lha, tanahnya aja enggak luas-luas amat, paling jatohnya…”

“Hey, hey, tenang dulu, Van,” Alden berdiri juga, menempatkan dirinya di sisi kanan. Ia hampir meluapkan kata-kata yang beberapa bulan kemarin sempat diluapkannya. Namun Devan memotong,

“Enggak perlu nge-judge kalau Anindita itu cewek matre,” pandangannya kembali ke arah air mancur, “Dia cuma nguji totalitas dan keseriusan saya, toh pada akhirnya kita bakal jadi suami-isteri juga. Itu hak dia.”

“Dan, kamu enggak terbebani?” Alden berusaha menenangkan laju napasnya yang semakin cepat, “Aku sekadar mengingatkan kalau kalian belum menikah.”

“Kami sudah terikat pertunangan.”

“Belum akad nikah.”

Devan mengerjap-ngerjap, “Saya pulang duluan.”

“Kebiasaan,” tangan kanan Alden mendarat di bahu sahabatnya, “éling, Van. Kamu sudah kesihir!”

Untuk sementara, Devan mengurungkan langkahnya, “Ayolah, Den. Beginilah cinta. Satu persen terbuat dari logika, dan sisanya memang sihir.

Alden tak menyanggah. Setahunya, sihir membuat seseorang berubah total, bahkan tak menjadi dirinya sendiri. Yang Alden tahu, seorang Devan tak akan melepas ketergantungannya pada rokok. Yang Alden tahu, seorang Devan tak akan mudah mengakui kegilaannya pada perempuan. Yang Alden tahu, seorang Devan akan menyimak segala nasihatnya.

Dan oh, yang Alden tahu, seorang Devan itu menyayangi Riani sepenuh hati. Mustinya ia tak tega menyusun skenario putus, hanya untuk memuluskan pendekatan pada perempuan yang baru beberapa bulan dikenal di media sosial. Devan tahu kalau Riani tak bisa cepat-cepat ditarik menikah lantaran masih memiliki kakak perempuan yang belum bersuami. Spot itulah yang ia serang.

Di suatu senja, Alden menyaksikan betapa kejamnya Devan mencabik hati Riani. Gadis itu dipaksa memilih diantara dua hal, menikah atau menyudahi hubungan. Dan sesuai harapan, jalinan asmara mereka pudar. Sejak saat itu, diam-diam Alden memupuk asa agar bisa membuat Riani lebih bahagia. Sangat bahagia, sampai ia bisa lupa, kalau ia pernah disakiti secara pedih oleh mantan kekasihnya.

~~~cerpen cinta, cerpen cinta sedih

“Ditha sayang…” Devan tak melepaskan pandangan pada punggung kekasihnya. Ia bisa membayangkan kalau gadis pujaannya itu tengah melipat tangan sambil manyun. Oh, manis dan menggemaskan!

“Saya cuma ngelike dan nanya kabar di fesbuknya,” lanjut Devan, “Enggak ada komunikasi lagi di inbox atau bahkan BBM.”

“Tapi Riani itu mantan kamu, masa lalu kamu.”

“Dan, Anindita itu masa depan saya, isteri saya…” ucapan itu berhasil membuatnya balik badan.

Lagi-lagi Devan serasa menuai prestasi besar ketika Anindita kembali mengulum senyum. Sama seperti di awal-awal pertemuannya, senyum itu masih mampu membuat jantungnya bertabuh kencang. Kekencangan. Salahkan saja senyum Anindita yang menyengat kuat.

“Bagus deh kalau kamu sadar,” Anindita menyodorkan kopi hitam yang sudah ia sajikan, “Pokoknya sekarang, kamu milikku seorang, Sayang.”

“Sekarang dan seterusnya, Sayang,” Devan mengerutkan hidung, tapi kemudian tertawa karena Anindita melahap cokelat yang ia bawa dengan lahapnya.

Awalnya ia sendiri ingin muntah dengan sapaan barunya. Belum pernah ia menggunakan sebutan semesra atau semanis itu dengan orang lain. Tidak juga dengan Riani. Namun dengan Anindita, semuanya serasa gula. Bahkan kopi hangat yang ia teguk juga tak mengalahkan rasa manisnya.

Beberapa waktu lalu ketika mengobrol dengan Alden, ia sebenarnya sudah sadar akan kecintaan kekasihnya pada materi. Namun Anindita hanyalah manusia. Dia, Alden, dan bahkan Riani juga tentu memiliki nafsu pada uang dan barang. Lagipula Anindita itu perempuan. Dia terlalu mustahil untuk berwajah cantik sekaligus bersih dari keinginan duniawi. Dirinya hidup di dunia nyata, di mana Syahrini berada, bukan di dunia dongeng yang menampilkan Cinderella.

Hari demi hari, Devan terus belajar mengenai calon isterinya. Sifat kuat lain yang musti ia hadapi adalah cemburuan dan sedikit posesif. Namun dua hal itu justeru jadi favoritnya. Paling tidak, Anindita akan berubah lucu, clingy, dan menggelikan jika ada momen yang berhasil merangsang rasa cemburunya. Ia juga akan terus nempel di sepanjang kebersamaan mereka. Soal yang satu ini, Devan rasa lebih dari siap untuk menjinakkannya.

“Hhh… sebenarnya aku benci kalau kita mainin hp pas lagi berdua, tapi dari tadi kamu diam aja,” suara Anindita membuat Devan sedikit terlonjak, “Ya udah aku mau buka-buka instagram, ah.”

Devan menautkan alis. Kedatangannya di apel hari Minggu bertujuan untuk menghibur dan melepas rasa kangen. Tak seharusnya ia membuat Anindita merasa bosan.

Tapi tadi ia tak bisa menghentikan lamunan. Pikirannya begitu penuh. Segala hal berlalu-lalang. Lagipula isinya pasti tak akan jauh dari Anindita sendiri. Oh, wajah gadis itu sudah terpahat di sudut-sudut memori otaknya.

Devan tersenyum, menyadari betapa calon isterinya memiliki kendali kuat dalam dirinya. Tapi ia tak ambil pusing. Dan lagi-lagi, Devan tersadar kalau mereka tengah berdua saja di ruang tamu,

“Hei, masih belum pede majang poto kita di sosmed?” Devan ikut memandang ke arah layar smartphone, “Sudah seminggu dari lamaran, lho?!”

Anindita terlihat menggigit dinding pipinya, “Apa kata orang? Kita belum lama putus dari mantan masing-masing, ujug-ujug udah masang poto tunangan sama orang lain?!”

“Lha, faktanya memang begitu, ‘kan?” Devan menjauhkan wajah dari layar, “Jadi, saya ini orang lain nih bagi kamu?”

“Apa? Bukan gitu, Cintaku,” Anindita sendiri tersentak atas perkataannya yang meluap tanpa sadar, “Kita harus menghargai perasaan orang. Mereka punya hati juga. Apalagi mantan-mantan kita belum punya pasangan baru.”

Devan menelan ludah, membuat jakunnya naik, lalu turun,

“Keluargaku pengin nentuin tanggal.”

“Cie… ada yang enggak sabar, nih!” cara Anindita mengedipkan matanya terlampau manis dalam pandangan Devan, “Emang rumahnya sudah jadi? Sekalian bikin garasi buat mobil kodok kita nanti ya, Sayang?”

“Ck, kita masih berdua, Ditha. Apa motor matic saya enggak cukup?” Devan kadang tak percaya kalau dia sudah mengeluarkan keluhan di depan seseorang. Tepatnya, perempuan.

“Tapi kita akan berkeluarga, hidup terpisah dari orang tua, terus punya anak sendiri, Sayang,” Anindita tetaplah seorang juwita yang jelita sekalipun ia memonyongkan bibirnya.

Lidah Devan keluar dan membasahi tepian bibir yang ternyata mengering.

“Kamu tahu, bikin rumah itu enggak seminggu-dua minggu, enggak sejuta-dua juta,” Devan masih haus perhatian, “Mungkin saya sudah terlanjur tua pas nanti kita gunting pita!”

“Aw… jagoanku marah, tapi kiyut juga, sih! Hihi…” Dia mencubit dua pipi Devan sekaligus, membuat wajah lelaki itu merona.

Entah untuk ke berapa kalinya, Devan harus mengakui kalau ia luluh dengan mudah di tangan Anindita. Beberapa detik yang lalu hatinya memanas. Namun dalam sekejap, Anindita berhasil menuangkan penawarnya.

“Lihat deh, Sayang!” tangan hangat Anindita merayap di area lengan Devan, “Tunik yang warna blue mint ini cocok enggak buat aku?”

Devan tersenyum, “Udah, udah, berapa harganya, hm?”

Yeay!” Anindita meninju-ninju ke udara, “Kamu pengertian banget, Sayang! Selalu jadi jagoanku.”

“Ya, ya, ya, tenang aja. Saya ini penerjemah kode yang ulung.”

Ada momen di mana dada Devan mengembung dan hampir meletus saat mereka tengah bersama. Apalagi kalau Anindita terang-terangan melayangkan pujian padanya. Ia akan senang hati menjadi seseorang yang menurut gadis itu adalah jagoan. Ia bangga bisa menjadi sosok di balik kegirangan kekasihnya. Persetan rokok dan semua hasil objekannya. Semua akan ia pertaruhkan untuk Anindita. Gadis itu lebih berhak.

“Tahu, enggak? Kamu itu pacar favorit sepanjang masa buatku,” lagi-lagi Anindita membuat dadanya sesak, menghadirkan rasa pengap yang indah.

“Oh, ya?” binar mata Devan tak pernah padam, “Emang kamu udah macarin seluruh pacar sepanjang masa?”

“Ah enggak perlu macarin seluruh pacar sepanjang masa, karena kamu dan aku itu abadi selamanya.”

Usai sudah kewarasan Devan. Ia jatuh semakin dalam. Tapi untuk bangun, ia sendiri merasa enggan.

~~~next-page-RD-300x100-1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *