“Razia Warteg atau Rumah Makan yang Buka Saat Puasa” Jadi Penghormatan Ramadhan yang Gagal Paham

“Razia Warteg atau Rumah Makan yang Buka Saat Puasa” Jadi Penghormatan Ramadhan yang Gagal Paham

razia pedagang makanan di bulan ramadan, razia warteg, bu saeni warteg, bu eni warteg serang banten, satpop pp merazia dan menyita makanan di warteg serang banten

Judulnya panjang banget, ya?

Hhh… Bro-Sist sudah tahu ‘kan salah-satu berita heboh akhir-akhir ini?

Jadi ceritanya, publik dikejutkan dengan pemberitaan terkait razia tempat makan yang buka di Bulan Ramadan. berita tersebut jadi viral di dumay. Daku sih melihatnya di video ini: https://www.youtube.com/watch?v=4Kam9HlUTJs.

Atau, Bro-Sist sudah menonton juga? Siapa yang meneteskan air mata? Kalau begitu, kita sama. Heuheu…

Di dalam video itu nampak Satuan Polisi Pamong Praja Pemkot Serang (Banten) yang tengah “menggerebek” warteg. Kabarnya nama pemilik warteg itu adalah Bu Saeni. Bisa kita lihat ekspresi wajahnya yang panik dan takut ketika rombongan Satpol PP datang, memarahi, dan menyita sumber rezekinya. Demikian juga yang terjadi pada si ibu berkerudung merah. Dia sampai menangis ketakutan ketika dihardik petugas.

Entah karena daku perempuan atau mungkin karena naluri manusia biasa, rasanya kok menyayat banget. Khususnya ketika Si Ibu secara tidak langsung bernegosiasi agar “oke fine warteg bakal ditutup, tapi please jangan ambil barang-barang dagangannya”, namun razia tetap dilakukan. Bahkan ketika dia teriak “tolong~” dan “Ya, Allah!”. Pemandangan itu bikin hati serasa dikucek-kucek.

Betapa tidak, barang dagangan itu merupakan “aset super penting” bagi setiap pedagang. Mungkin di mata kita hanya ada semur telur, lalapan, goreng ikan, dsb, namun di mata si ibu yang dirazia itu beda. Makanan itulah yang menjadi penyambung hidupnya. Wajar kalau ia bersikeras ingin mempertahankannya, tapi di saat yang sama dirinya tak berdaya.

Apa Kata Orang-orang Penting Terkait Berita ini?

Daku sempat berpikir, alangkah senangnya kalau Rasulullah Saw masih hidup. Segala sesuatu yang kontroversial bisa kita tanyakan dan diskusikan dengan beliau. Sabdanya pasti benar dan bijak. Tak perlu ada jajak pendapat.

Namun kita masih memiliki para ulama, atau tokoh agama yang bisa memberikan pandangannya. Dan untuk kasus ini, sebenarnya sudah jadi isu klasik. Namun berikut daku comot ulang pendapat Pak Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus (dikutip dari tempo.co), Pak Jusuf Kalla (dikutip dari suara.com), dan twitter Pak Lukman Hakim (Menteri Agama RI).

gus mus, kutipan gus mus, kata kata gus mus, gus mus quote, kata gus mus tentang razia warteg oleh satpol pp di serang banten

jusuf kalla, kata kata jusuf kalla, jusuf kalla quote, tanggapan jusuf kalla terkait razia warteg atau warung makanan oleh satpol pp di serang banten

menteri agama lukman_hakim_saifuddin

Gubernur Bantennya, Pak Rano Karno – yang sempat jadi bulan-bulanan netizen, juga menyiratkan ketidaksetujuannya akan tindakan sang anak buah. Dalam hal ini, para petugas satpol PP. Dia bilang,

rano karno, rano karno gubernur, kata kata rano karno, rano karno quote, kata rano karno tentang razia satpol pp serang banten pada warteg di bulan puasa ramadhan

Bagaimana Tanggapan Netizen?

meme razia warung makan, meme satpol pp serang banten, meme warteg, meme yang lucu dan menyindir

Via: Brilio.net

Mengingat betapa aktif dan reaktifnya para netizen, mereka pun menyampaikan aneka tanggapan. Ada yang langsung membuatkan memenya, ada yang bersumpah serapah, ada yang berkata bijak, dan ada juga yang mengambil inisiatif untuk menggalang dana untuk ganti rugi pemilik warung makan yang makanannya disita. Aksi ini dipelopori oleh Dwika Putra lewat akun twitternya. Total yang terkumpul adalah… Rp265.534.758,00

dwika putra, dwika putra adalah, siapa dwika putra, dwika putra yang menggalang dana untuk ganti rugi korban razia warteg satpol pp serang banten, twitter dwika putra

Via: @dwikaputra

Namun daku ikut menyebarkan maklumat kalau aksi penggalangan dana ini SUDAH SELESAI. Jadi untuk saat ini tak perlu melakukan transfer lagi ke rekening donasinya. Jumlah yang terkumpul, di luar dugaan, begitu cepat membengkak dan terbilang sudah cukup banyak.

Penghormatan Terhadap Bulan Puasa atau Ramadhan yang Gagal Paham

Well, daku sangat tertarik dengan respons dari Gus Mus. Betapa di bulan Ramadhan ini, kita musti lebih banyak tafakur dan merenung. Bicara tentang “penghormatan Ramadan”, sebenarnya apa itu “penghormatan Ramadan”? Apa selama ini kita “gagal fokus” atau “gagal paham” memaknainya?

Maknanya tidak sesempit pada pelarangan usaha tempat makan untuk beroperasi. Sampai-sampai kita dibuat amnesia, kalau tujuan utama mereka tak lepas dari ikhtiar mencari nafkah (belaka). Barangkali untuk membeli bekal buka dan sahur? Dan ironisnya, di saat yang sama, banyak pihak yang lebih keji dan terang-terangan menistai kesucian bulan ini. Toh, kita diam saja.

Tapi di sisi lain, kita memang hidup di Indonesia. Alhamdulillah adat-istiadat ketimurannya masih kental. Masyarakat juga begitu sensitif. Meski pun tidak ada razia atau penggerebekan, namun para pedagang makanan yang buka terang-terangan di bulan Ramadan sudah mendapat “teguran sosial”. Entah itu dilirik dengan mata-mata yang nge-judge, diomongin orang sekitar, atau dikecam langsung.

Para pedagangnya pun seyogyanya tidak terlalu “mengekspos” dagangan. Banyak yang memberi contoh, misalnya dengan menutup barangan memakai tirai atau menutup pintu dan jendelanya. Bagaimanapun, orang yang berpuasa biasanya lebih sensitif. Ada aroma masakan atau ketika melihat wujud makanannya yang tasty saja saja sudah bikin perut dangdutan.

Nah, tujuan puasa memang untuk mengendalikan diri dari segala sesuatu yang membatalkannya, toh?

warteg tirai, warteg tertutup rapat, pintu wartget tertutup, tirai wartge tertutup

Via: foto.tempo.co

Kembali lagi…

Kita tentunya ingin sikap yang saling menghormati. Siapa yang tahu kalau mereka yang tengah santap siang di bulan Ramadan itu merupakan perempuan yang sedang datang bulan, hamil/ menyusui, para musafir, orang yang sakit keras, yang mengalami gangguan mental/ jiwa, dan mereka yang memang non-Islam.

Oh ya, Satpol PP-nya juga sepertinya dalam keadaan yang dilematis. Di satu sisi mereka memang bertugas untuk menertibkan apapun yang sekiranya mengusik masyarakat. Apalagi sudah ada surat edaran yang acuannya, yakni pada Perda No 2 Tahun 2010 tentang Pencegahan, Pemberantasan, dan Penanggulangan Penyakit Masyarakat.

Mereka bekerja atas titah atasan. Kalau tidak nurut, sumber rezeki untuk keluarga pasti bisa dicabut. Namun di sisi lain, daku rasa mereka juga memiliki rasa iba dan keberatan.

Wallahu’alam.

Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan, ya. “Razia Warteg atau Rumah Makan yang Buka Saat Puasa” Jadi Penghormatan Ramadhan yang Gagal Paham. #RD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *