Keuntungan dari Pengalaman Penipuan BRI; Jangan Terburu-Buru!

Keuntungan dari Pengalaman Penipuan BRI; Jangan Terburu-Buru!

penipuan, penipuan atm, penipuan bank, penipuan bank terbaru, modus penipuan terbaru

Karya: James Yang

“Pembayaran kredit kakak bermasalah. Yang Bulan Juni tidak termonitor, katanya. Tapi bisa bayar pakai ATM, terus nanti resinya dipakai buat bukti. Karena kakak enggak punya ATM, jadi pinjem punya kamu aja, ya?”

Daku baru bangun siang. Lalu kakakku memberondongkan informasi itu. Intinya beliau sedang bermasalah dengan pembayaran kredit BRI, dan kemudian pinjem ATM.

“Tenang aja, saldonya enggak bakal kepotong, kok,” lanjutnya lagi, dan nyawaku pun mulai utuh.

“Siap, boleh…”

“Ya sudah, besok ke Bank, ya?!”

“Emang kenapa, kok bisa gitu?”

“Jadi kakak itu bayar setoran Juni pada akhir Mei, pas kemarin mau setor yang Bulan Juli malah ditanyain lagi. Katanya pembayaran Bulan Juni tidak termonitor…”

“Kebiasaan. Kakak itu kalau punya uang enggak bisa bayar sebulan dua kali juga,” daku selalu enggak setuju prinsipnya kalau bayar kredit, mumpung ada uang ya bayar dobel.

“Ya ini mah lagi apes aja…”

Mungkin naluriku juga sebagai pembantu kios Mimih. Kalau ada uang mah mending “diolah” dulu jadi modal. Rugi juga kalau jatuh temponya masih lama, tapi kita sudah bayar. Harusnya nyicil sebulan sekali, malah jadi sebulan dua kali. Tapi kakakku memang begitu. Ketika setoran motor pun begitu. Kalau daku bilangin, jawabannya akan konsisten; mumpung ada, bulan depan mah siapa yang tahu.

“Besok sama dakunya?”

“Iya.”

“Oke.”

~

Besok siangnya, daku kembali menerima telepon dari kakak. Namun daku ada di luar rumah, tepatnya sedang belanja barang dagangan. Jadinya kami urung lagi ke bank.

Dalam bayanganku, daku dan kakak akan menghadap pegawai bank. Lalu kami mengobrol sebentar tentang duduk perkaranya, kemudian menggunakan kartu ATM sebagai solusinya. Adapun kakak memintaku datang lantaran dia tidak tahu nomor pinnya. Sekaligus biar daku jadi saksi langsung, begitu.

Di hari berikutnya, kakak datang ketika daku tengah khusyuk menulis. Aktivitasku begitu larut sampai merasa kalau pagi itu bergerak dengan cepat. Tahu-tahu sudah jam sebelas siang saja. Daku pun bersiap diri ala kadarnya, benar-benar pengin urusan kakakku cepat selesai. Jauh di lubuk hati, daku pengin marah lantaran aktivitasku terganggu. Daku benar-benar pengin menyelesaikannya secara damai. Makanya daku musti begerak cepat agar semuanya cepat selesai juga.

Begitu keluar, wuih… cahaya matahari terik sekali. Daku agak kelimpungan ketika dibonceng kakak, lalu menuju bank yang selalu ramai. Ketika hendak masuk ke dalam, kakak menarikku.

“Langsung ke ATM saja.”

“Lho? Kenapa?”

“Kita telepon Pak Rudinya dari bawah sini saja.”

“Oh, Pak Rudinya ada di atas?”

Kakak menatapku sebentar. Ada sangsi di balik matanya. Tapi kemudian dia mengendalikan pandangan itu, dan mengatakan “iya kali” sambil angkat bahu. Daku jadi ikut-ikutan mengangkat bahu.

Daku tak perlu bertanya Pak Rudi itu siapa, alamatnya di mana, dan pekerjaannya apa. Daku hanya berasumsi kalau dia adalah pegawai Bank BRI. Selanjutnya tak ada perlawanan, daku nurut saja.

“Nih, ngomong langsung sama Pak Rudinya,” kata kakakku.

cerita penipuan bri, cerita pengalaman penipuan atm bri, hipnotis penipuan

Via: vinrowe.com

Telepon itu kuambil alih. Pak Rudi itu kemudian menanyakan apakah daku dekat dengan ATM, dan daku mengiyakannya. Kemudian beliau memintaku masuk ke ATM.

“Saya akan memberitahu instruksinya, anda tinggal menjalankannya saja.”

“Oh, baiklah…”

“Ingat, saldo anda tidak akan kepotong sepeser pun…”

“Oke…”

“Nah, sekarang saldonya ada berapa?”

Daku ingat-ingat. Kebetulan sekali transferan biasanya datang di tanggal-tanggal matang, 20 ke atas. Namun sekarang masih tanggal belasan Juli, daku sebutkan saja perkiraan sisa saldonya.

“Dua ratus ribuan, Pak.”

“Tepatnya berapa?”

Daku cek di ATM, “Dua ratus enam puluh ribu…”

“Baik. Sekarang simak dengan baik instruksi dari saya…”

Pilihan bahasa di ATM disuruh Bahasa Inggris. Daku nurut saja. Kemudian tahapan demi tahapan didiktekan. Lagi-lagi daku nurut. Instruksinya terbilang cepat. Mungkin dianya juga sibuk, dan ingin segera mengurusi klien yang lain.

Sampai kemudian Pak Rudi mendiktekan nomor telepon, bukan rekening. Jari-jemari dan pikiranku tak banyak protes. Daku hanya ingin segera keluar, dan mengatakan pada kakak kalau semuanya sudah beres. Tak perlu khawatir.

Resinya muncul. Daku segera mengamankannya, dan memandangnya sekilas. Benar-benar clueless.

“Coba disebutkan nomornya,” titah Pak Rudi.

“Nomor..?”

“Nomor yang ada di resi…” katanya dengan nada yang terburu-buru.

Daku enggak tahu maksudnya nomor apa, tapi daku memilih menyebutkan nomor yang seperti nomor handphone saja. Pak Rudi sendiri tidak menyela, berarti langkahku benar. Daku menyebutkan ke-12 angka tersebut.

“Coba sebutkan lagi…”

Daku mencoba tak mengeluh, dan memilih menurutinya saja. Mungkin dia pengin konfirmasi lebih lanjut. Namun ketika menyebutkan angka terakhirnya, daku tersadar akan satu hal.

“Oh, Pak! Nomornya salah satu angka. Harusnya 299, malah jadi 199!”

“Hmm…”

“Bagaimana?”

“Ya sudah, nanti akan dilakukan komplain dulu…”

“Kapan bisa dihubungi lagi?”

“Nanti dihubungi lagi. Sekarang enggak usah menunggu, boleh pulang saja dulu. Tapi jangan melakukan transaksi dulu.”

Mungkin beliau tahu daku sedang mengoprek-oprek kartu ATM, sebab mesinnya memang mengeluarkan bunyi. Daku hanya ingin memastikan jumlah saldonya yang memang terpotong. Dan sayangnya, urusan bukannya selesai, malah jadi tambah rumit. Daku jadi menyalahkan keteledoranku sendiri. Bisa-bisanya memijit angka 1, tetangganya angka 2. Huft!

“Iya, Pak,” kataku sambil tetap mengoperasikan kartu ATM.

“Jangan melakukan transaksi apapun dulu,” katanya, mengingatkan.

Telepon terputus. Daku keluar dengan raut muka datar. Tadinya pengin menyampaikan kabar baik pada kakak, eh malah urusannya bertambah. Hanya saja, mau tidak mau, daku tetap menyampaikan apa yang terjadi. Kakakku sedikit menggerutu, tapi beliau terlihat masih pandai mengendalikannya.

“Biasanya kita dulu yang menghubungi Pak Rudi, dia enggak suka nelepon. Jadi kalau enggak ditanyain mah ya kita enggak tahu apa-apa.”

“Ya sudah nanti aja…”

“Iya deh, kamu mah tidur ya tidur deh…

“Ok.”

~

Daku tak berhubungan lagi dengan yang namanya Pak Rudi. Tapi menurut kakakku, Pak Rudi meminta agar ada yang melakukan transfer ke nomor rekeningku. Setelah berdiskusi, daku kemudian mendapat kiriman uang sejumlah yang kemarin ditarik dari kakakku yang lain.

Kami kemudian ke ATM lagi. Di waktu dzuhur, nomor Pak Rudi tidak aktif. Menurut kakakku sih sedang jam istirahat, jadi wajar dinonaktifkan. Tapi begitu jam setengah 3-an, nomor tersebut kembali tak menunjukkan tanda-tanda keaktifannya.

“Mumpung Bank masih buka, kakak bikin kartu ATM sajalah,” kata kakakku lemas.

Daku nurut saja, dan mengikuti beliau ke dalam gedung bank. Kami kemudian berhadapan dengan petugas bank, dan kakak kemudian menceritakan apa yang dialaminya. Sang petugas memberikan respons yang membuatku mendadak pusing.

“Pak Rudi? Di sini mah enggak ada yang namanya Pak Rudi,” kata petugas bank tersebut, yang kemudian diiyakan oleh Pak Satpam.

“Wah… ini sih penipuan!” Pak Satpam langsung menyimpulkan, “Lagipula, mana ada pembayaran kredit lewat ATM? Terus jumlahnya seadanya?”

Kepalaku langsung pening.

“Iya, nih. Masuknya udah jadi voucher pulsa!” tambah sang petugas BRI.

“Terus, BRI juga enggak melakukan komunikasi via sms atau telepon, begitu. Jadi kalau ada apa-apa, paling lewat kantor langsung. Jadi Pak Rudi yang disebut itu pasti bukan orang sini. Lebih lagi urusan kredit ‘kan tanggung jawab unit BRI ini, enggak mungkin menyuruh orang dari kantor BRI lain.”

Kepalaku masih pusing.

Daku hanya pengin mengetuk jidatku sendiri, dan jidat kakakku sih… tentang betapa kami enggak berpikir logis. Lagipula daku beneran enggak tahu kalau Pak Rudi itu “fiktif”. Daku kira memang petugas bank-nya. Tapi ya sudah, percuma juga menyalahkan kakak yang sama-sama berwajah masam.

Dia laki-laki, tapi tak bisa menyembunyikan keinginannya untuk menggerutu. Yang daku tahu, pekerjaannya tengah lumayan menyita waktu. Jadi pas ada urusan begini, dia pengin segalanya lekas kelar.

Karena sikap terburu-buru inilah kami semua jadi teledor. Fokus kami hanya ingin segalanya beres tanpa memikirkan ini-itunya. Semuanya benar-benar buyar. Padahal masih ada waktu untuk berpikir logis dan mempertimbangkan segala sesuatunya.

“Emang dasar penipu, kaliannya sendiri kayak yang terhipnotis…” ujar Pak Satpam yang membuat keningku mengerut.

Kami, Pak Satpam, dan petugas bank terus diskusi. Sampai akhirnya tercetus kalimat “untung dua ratus ribu, bukan dua atau dua puluh juta ke atas”. Daku sendiri langsung ingat “untung salah nomor, ke nomor yang belakangnya 199 bukan 299!”. Setidaknya semua ini jadi pelajaran untuk ke depannya.

Hhh… dulu daku enggak habis pikir ada orang yang bisa kena tipu dari “mama minta pulsa” atau dari “undian BRI dan Telkomsel”. Tapi kini daku bisa mengalami hal seperti ini. Hanya saja modusnya yang berbeda.

Nah, kita memang harus tetap waspada, ya. Enggak ada salahnya untuk menajamkan naluri rasa curiga ketika ada sesuatu yang dirasa janggal. Semoga ada hikmanya… Keuntungan dari Pengalaman Penipuan BRI; Jangan Terburu-Buru! #RD

5 Comments
  1. Kornelius ginting
    • deeann
  2. Ivan
    • deeann
  3. Indonesia Banking School

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *