Sekolah Dan Kerja; Antara Pilihan Sendiri Dan Pilihan Keluarga

Sekolah Dan Kerja; Antara Pilihan Sendiri Dan Pilihan Keluarga

sekolah, kuliah, dilema kuliah, pilihan sendiri dan pilihan keluarga, jurusan kuliah pilihan sendiri

Karya: Jon Krause

“Coba kasih saran, Dian, mending kuliah jurusan apa?” seorang kakak berkata padaku di hadapan adiknya yang hendak daftar menjadi mahasiswa, “Daku penginnya sama kayak kamu, ngambil Bahasa Inggris.”

“Memangnya kamu suka sama Bahasa Inggris?” Daku bertanya pada adiknya, sebut saja dia Cahaya, dan kakaknya adalah Tongkat.

“Bahasa Inggris dia itu lumayan,” Tongkat yang menjawab.

Jadi mereka sengaja datang ke rumah untuk mendiskusikan hal ini. Mungkin karena daku juga bisa jadi figur kakak bagi Si Cahaya, makanya Tongkat pengin meyakinkan. Kami juga pengin yang terbaik untuk anak perempuan tersebut.

Ceritanya… Cahaya yang awalnya “di-skema-kan” akan mengambil fakultas pendidikan, tiba-tiba mengutarakan niatnya untuk bergabung sama anak-anak perawat. Yang langsung enggak setuju banget ya Tongkat itu. Beliau pengin Cahaya menjadi guru Bahasa Inggris.

Daku mendengarkan dengan seksama bagaimana kehendak Tongkat. Beliau pengin adik perempuannya menjadi guru, demi masa depannya juga. Kalau jurusannya pengin Bahasa Inggris, karena skill bahasa internasional itu dianggap bisa masuk ke mana-mana. Kalau enggak mau menjadi guru di sekolah, bisa buka lembaga kursus atau bekerja di perusahaan yang mengajukan syarat Bahasa Inggris. Begitu katanya.

Cahaya sendiri, daku lihat, banyak terdiam. Dia malah buka-buka smartphone, melihat-lihat aneka display picture di kontak BBM-nya. Tapi daku yakin, dia sebenarnya masih memerhatikan obrolan kami. Sebab sekalinya ada yang menarik, pergerakan tangannya berhenti. Ia juga terlihat langsung waspada.

“Kita harus dengerin apa kata Cahayanya juga,” dalam hal ini daku tak bisa berpihak, “Dia yang bakal melakoni sekitar empat tahunan kuliahnya… kalau hanya menuruti kakak atau orang tua, kemungkinan besar Cahaya akan ogah-ogahan. Suatu saat, kalau dia mengalami kesulitan atau kegalalan, dia bisa menyalahkan pihak keluarga dengan mudah. Tapi kalau dia menjalani sesuatu karena pilihan sendiri, kemungkinan akan terbentuk sikap tanggung jawab dan keinginan untuk membuktikan, bahwa apa yang ia pilih memang yang terbaik baginya…”

“Tapi perawat itu menguras banyak biaya, belum nanti kalau masuk dunia kerja,” Tongkat bersikukuh, “Peluangnya susah, ada shift-shift-an, enggak boleh takut darah, terus bisa jadi ada kemungkinan kasus besar kalau-kalau terjadi malpraktik atau kesalahan penanganan pasien…”

Daku bungkam dulu, kagum juga karena pertimbangannya sudah melanglangbuana.

“Kalau jadi guru ‘kan enak. Apalagi keluarga kami memang mayoritas jadi pengajar, jadi sudah banyak relasi. Waktunya juga leluasa, bisa nyambi bisnis. Syukur-syukur kalau ada kerjaan sampingan kayak kerja di lembaga kursus, atau nulis seperti kamu. Lha kalau perawat, tuh Si xxx sampai sekarang nganggur dan di rumah aja.”

“Daku tahu, Tongkat pasti pengin yang terbaik buat Cahaya… tapi tetap saja, kita enggak bisa mendiktenya.”

~

antara pilihan sendiri dan pilihan orang tua, orang tua mengatur-atur sekolah anak

Karya: Marcy Peterson

Sebenarnya obrolan kami agak njelimet, tapi daku padatkan saja. Intinya kehendak Cahaya berlainan dengan keluarga, khususnya sang kakak, Tongkat. Menurut Cahaya, kedua orang tuanya nurut saja. Mereka kurang paham, dan hanya tahu soal biayanya saja. Perkara fakultas atau jurusan mah terserah.

Daku sendiri tak memberi jawaban pasti, Cahaya harus anu atau Cahaya enggak boleh anu. Daku hanya berbagi cerita apa adanya; tentang jurusan yang daku ambil, yang sebenarnya bukan cita-cita utamaku. Tapi karena orang tua tak merestui, ya sudah daku melepas impian itu.

Rasanya enggak bakal tenang, kalau kita memaksakan sesuatu tanpa restu atau ridho dari sosok ibu.

Adapun alasan mengambil Bahasa Inggris, karena memang tertarik dan menyukainya. Kalau saja daku asal masuk fakultas pendidikan, tapi bukan Bahasa Inggris, rasanya enggak mau. Tak lupa, daku juga sharing soal posisiku kini, yang justeru enggak masuk dunia sekolah dan menjadi guru Bahasa Inggris. Daku justeru menjadi tutor komputer dasar di sebuah lembaga kursus.

Kita memang bisa merencanakan masa depan. Tapi kita juga harus sadar, prediksi itu tak selamanya tepat sasaran. Jangankan nanti lulus kuliah, begitu lulus SMA saja, kita sudah menghadapi banyak hal tak terduga. Salah-satunya yang dialami Cahaya, bahwa… oh ternyata menentukan jurusan kuliah pun enggak mudah. Dilematis.

Daku hanya berpesan, apapun pilihannya – asal baik dan benar, kita musti bertanggung-jawab. Soal tidak bisa atau tidak paham sih wajar. Kita sekolah memang untuk belajar bisa, paham, dan menerapkan ilmunya. Lagipula, hidup memang jadi madrasah abadi. Kita tak bisa pensiun belajar, sebab hidup sendiri tak pernah pensiun memberikan pelajaran.

~

Sejutek apapun anaknya, kalau hubungan dia sama keluarga baik-baik saja, daku yakin dia memiliki niat untuk menjadi yang terbaik demi membahagiakan mereka. Termasuk Cahaya, yang daku percaya, memiliki impian terbaik demi dirinya dan keluarga. Hanya saja dia tengah dalam fase kebingungan, yang harusnya diarahkan, bukan justeru dikeruhkan.

Orang tua atau saudara juga wajar memiliki berbagai kecemasan ketika melepas putera-puterinya untuk belajar. Tapi kalau levelnya sampai terlalu cemas, ya enggak terlalu baik juga. Anak bisa bingung, dan merasa kalau dia kurang dipercaya.

Selama ini, mungkin… ya mungkin, orang tua terlalu mengapresiasi hasil ketimbang proses. Orang tua kadang tak mau tahu si anak sudah belajar dengan guru siapa, sudah keliling ke musium mana saja, sudah baca-baca buku karya siapa saja, sudah ke perpus mana saja, sudah kerja kelompok bareng siapa saja, dsb. Yang orang tua tahu dan apresiasi hanya nilai rapor atau peringkat di kelasnya saja. Sudah.

Pada akhirnya, orang tua atau saudara sebaiknya tak mendikte seorang anak. Apapun usaha terbaiknya harus diapresiasi. Mereka juga bisa jadi jembatan, penerang, atau tangan untuk memapah ke tujuan yang diidamkan. Duduk bersama dan saling mendengarkan bisa jadi solusi yang memuaskan semuanya. Wallahu’alam. Sekolah Dan Kerja; Antara Pilihan Sendiri Dan Pilihan Keluarga. #RD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *