20 Catatan Utama Seputar Penyuluhan dan Pencegahan Narkoba

20 Catatan Utama Seputar Penyuluhan dan Pencegahan Narkoba

narkoba, tentang narkoba, pecandu narkoba, hasil penyuluhan narkoba, poin hasil penyuluhan narkoba, cerita pecandu narkoba, cerita pemakai narkoba

Via: medicaldaily.com

“Apa nanti kita bakal nyicipin narkoba?”

Daku dan teman-teman berkelakar sebelum penyuluhan narkoba dimulai. Kami langsung meredakan candaan setelah seseorang bilang “sshh…” dan para pematerinya kemudian datang. Penyuluhannya sendiri digelar pada Sabtu (6 Agustus 2016), tepat jam 2 lebih. Ketika suasana siang sedang cantik-cantiknya.

Acaranya digagas oleh Kemenpora, BNN, dan KPMI alias Komunitas Pemberdayaan Masyarakat Indonesia. Cukup sederhana, tapi fasilitasnya lumayan juga. Kami dibekali buku catatan, pulpen, buku materi anti narkoba, tas, snack, nasi, serta uang sebesar Rp 50.000,00.

MC atau pembawa acaranya Pak Andi, Ketua Karang Taruna Desa. Sambutan perdana dibawakan oleh Pak Totong, Kepala Desa. Sambutan keduanya oleh Pak Anas, Perwakilan KPMI. Sementara pematerinya ada 2 orang, yaitu Bu Rahmai dan Pak Dedi.

Pemateri pertama adalah Bu Rahma, mahasiswi UNIKU yang sudah melakoni pelatihan di Bandung. Dia kemudian menceritakan sedikit tentang pengalamannya. Selanjutnya apa yang disampaikan itu menjurus pada materi seputar narkoba. Berdasarkan pembuatannya, ada narkoba alami, sintesis, dan semisintesis. Lalu berdasarkan jenisnya ada narkotika, psikotoprika, dan zat adiktif.

Selanjutnya pemateri kedua, Pak Dedi. Beliau adalah pegawai BNN Kabupaten yang memegang divisi khusus pencegahan. Karena satu desa, beliau menyampaikan materi dengan super santai. Tak terfokus pada materi yang text book, melainkan seperti sharing saja.

Daku sangat suka dengan gaya penyampaiannya. Materi serumit narkoba dijabarkan dengan sederhana, tak lupa disertai berbagai contoh juga. Tak jauh-jauh, di sekitar saja.

“Mengingat kita ini di desa, narkoba yang beredar bukan ekstasi, heroin, atau obat-obatan terlarang yang mahal lainnya. Diskotek, bar, atau klub-nya juga enggak ada?!” begitu buka kata Pak Dedi, “Rata-rata yang beredar berupa dekstro atau obat-obatan lain yang disalahgunakan. Parahnya, peredaran obat tersebut sudah menjangkau anak-anak di bawah umur.”

Nah, daku kebetulan mendokumentasikan catatan tentang beberapa hal yang dibicarakan Pak Dedi. Hanya saja terakhir daku lihat, kertasnya sudah disobek seorang teman. Dia kemudian menyetorkannya pada notulen rapat, alias orang yang mewakili KPMI. Huft.

Jadi berikut ini yang masih daku ingat. Jom!

  1. Kita tak bisa memberantas narkoba, melainkan hanya menguluran bantuan untuk mengikisnya.
  2. Level konsumsi narkoba itu dari mencicipi, ketagihan, kecanduan, sampai ketergantungan.
  3. Sesuatu yang menggantung, terus dipotong sampai putus, hasilnya bagaimana? Jatuh, ‘kan? Usai sudah… berakhir…
  4. Tiga hal jahat utama dari narkoba yaitu adiktif, toleran, dan habitual
  5. Atas nama coba-coba, penasaran, atau “menghormati pergaulan”, kita mencicipi narkoba dan sejak saat itu juga akan sulit lepas atau jadi ketagihan (adiksi)
  6. Yang awalnya kecanduan 1 pil, lama-lama kita akan memiliki hasrat untuk menambah kuantitasnya jadi 2 pil, 3 pil, bahkan puluhan pil sekali tenggak.
  7. Pemakai yang sudah terjerat akan menjadi pecandu, yang kehidupannya tak akan lepas dari narkoba.
  8. Narkoba itu jadi “mother of crime”, di mana obat-obatan terlarang tersebut menjadi pucuk dari kejahatan lain seperti pencurian atau perampokan.
  9. Sang pecandu akan mengupayakan apa saja demi mendapatkan narkoba. Mereka bahkan rela menguras hartanya. Jika sudah habis, ada kemungkinan untuk memakai harta keluarga, bahkan sampai merampas harta orang lain. Yang penting keinginannya terpenuhi. Baik itu dengan menjual diri, atau bergabung menjadi pengedar.
  10. Ada kondisi yang dinamakan sakaw, di mana sang pecandu sangat menderita lantaran tak bisa mengkonsumsi narkoba. Dia merasakan sakit yang amat sangat.
  11. Ada juga keadaan di mana kondisi tubuh pemakai sedang sangat rendah, namun dosis narkobanya sedang sangat tinggi. Jika tak tertolong bisa overdosis, dan meninggal.
  12. Ada upaya rehabilitasi, yang sebenarnya bukan menyembuhkan, tetapi memulihkan.
  13. Seorang mantan pecandu yang kini bekerja di BNN pun sampai gemetaran dan keluar keringat dingin ketika melihat film yang menampilkan adegan menghisap narkotika.
  14. Sebenarnya pemakai pun sadar kalau narkoba sudah menggerogoti hidupna secara perlahan dan pasti, namun namanya juga sudah terjerat, dia begitu kesulitan untuk menjauhinya
  15. Peradilan masyarakat atau social justice juga memiliki peranan penting. Pecandu merasa kalau masyarakat sudah tak memerdulikan atau tak memberi kepercayaan padanya, sehingga ia semakin jatuh terjerembab pada dunia narkoba.
  16. Belum lagi dengan pertemanan si pemakai, yang semakin hari semakin menyusut, apalagi teman-teman baiknya. Mereka sudah merasa kalau sahabatnya jaga jarak atau menjauh karena takut “tertular” . Padahal mereka sebenarnya sangat membutuhkan tutor sebaya, apalagi kalau tutor tersebut berjumlah banyak dan memiliki pemahaman ilmu agama yang kuat.
  17. Keluarga sangat memiliki andil besar. Yang harmonis bisa jadi solusi manis.
  18. Apa yang bisa kita lakukan? paling tidak, kita terus menebarkan kesadaran akan bahaya narkoba. Bagaimanapun, kita tak bisa serta-merta memberantasnya, melainkan mencegah agar angkanya tidak bertambah.
  19. Hukuman mati memang tidak lantas membuat kasus narkoba jadi turun, namun hal itu tidak boleh memadamkan semangat kita untuk melindungi diri dan orang-orang dari bahayanya.
  20. Kalau sudah tahu, kita akan paham. Kalau sudah paham, apa yang dipahami akan nempel.

Nah daku rasa materinya sangat banyak, tapi tak seluruhnya tercatat. Atau… kalau boleh daku ngeles lagi, buku catatannya sudah dicabut. Hehe… sementara beberapa contoh ceritanya juga tak tertuliskan.

Well, intinya acara penyuluhan ini sangat bermanfaat, semakin membuka lebar kesadaran kita akan sepak terjang narkoba. Bahayanya tak hanya mengintai orang dewasa, kota besar, atau mereka yang memiliki uang. Pergerakannya sudah menjangkau anak-anak, desa terpencil, bahkan para pengangguran. 20 Catatan Utama Seputar Penyuluhan dan Pencegahan Narkoba. #RD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *