3 Kebohongan Pada Diri Sendiri yang Menguntungkan

Posted on

3 Kebohongan Pada Diri Sendiri yang Menguntungkan

kebohongan, bohong pada diri sendiri, kebohongan pada diri sendiri, bohong demi kebaikan, bohong yang menguntungkan
Via: npr.org

Kebohongan.

Mayoritas dari kita tak menyukainya. Bagaimana pun, berbohong itu memiliki konotasi yang jelek. Berbohong itu dosa, dilarang Mamah Papah, menyimpang, dan kita wajib menghindar. Sebaliknya, kita harus menjunjung tinggi kejujuran. Setidaknya jujur terhadap diri sendiri.

Tetapi kemudian, ada yang namanya “bohong putih”, atau kebohongan yang mendapatkan keistimewaan atau toleransi. Kebohongan tersebut dianggap sebagai kebaikan, alasan yang membenarkan. Misalnya orang tua berbohong pada anak kalau es krim langganannya sudah habis, dokter yang berbohong pada keluarga kalau pasiennya baik-baik saja, seseorang yang berbohong pada orang tuanya kalau rumah tangganya merasa bahagia, pelatih yang berbohong pada anak didiknya bahwa mereka adalah yang terbaik di dunia, dsb.

Tanpa terasa, kita memang hidup dalam kebohongan atau ilusi belaka. Namun karena kebohongan itulah kita bertahan.

Well, hal ini diungkapkan Ian Leslie, dalam bukunya yang berjudul “Born Liars – Why We Can’t Live Without Deceit”. Kita coba ulas bagaimana penjelasannya, ya.

Menurutnya ada 3 positive illusions  atau semacam kebohongan-kebohongan halus yang bisa jadi memberi dampak positif pada diri kita. Jom!

#1. Pede Berlebih Pada Skill atau Kualitas Diri Sendiri

Kadang kita meng-underestimate diri sendiri, tapi kita sering juga meng-overestimate-nya. Tanpa disadari, kita “berbohong” dengan menganggap kemampuan diri sendiri sebagai yang “ter-…” dari yang lain. Ada perasaan kalau kita ini lebih seksi nan hot, lebih merdu, lebih keren, lebih setia, lebih cerdas, lebih berkualitas, dsb, yang bisa jadi tak sesuai dengan kenyataan.

#2. Merasa Optimis yang Kadang Tak Masuk Akal

Kita juga kerap terjebak pada keyakinan yang tidak realistis. Misalnya dengan memprediksi masa depan yang amat sangat gemilang. Kita optimis kalau “someone special” yang sekarang bakal jadi pasangan hidup yang setia dan membawa kebahagiaan selama-lamanya, kita percaya kalau bisnis yang sedang dibangun akan membawa kesuksesan super besar, kita yakin akan tetap masuk surga sekalipun menjadi hamba yang jarang beribadah, dsb. Padahal, siapa yang tahu?

#3. Kontrol Diri yang Tidak Realistis

Ada sesuatu yang membuat diri kita merasa memiliki kontrol atau power. Begitu menyandang gelar sarjana, pasca sarjana, atau profesor, kita yakin akan mendapat jabatan tinggi dan gaji selangit. Ketika kita memiliki hobi menulis, kita yakin akan menjadi penulis yang menelurkan banyak karya, kaya-raya, dan memiliki fanbase yang besar. Ketika kita memiliki hidung mancung, kita yakin bisa menjadi model atau selebgram yang laris-manis menjadi endorser berbagai produk atau jasa. Dan masih banyak lagi.

bohong, bohong terhadap diri sendiri, bohong demi kebaikan, bohong putih, white lies adalah, kebohongan pada diri sendiri
Via: slate.com

Terus, apakah “kebohongan” terhadap diri sendiri seperti contoh di atas itu… buruk?

Jika kadarnya tidak bersifat keterlaluan, berbagai contoh di atas bisa menjadi “ilusi baik”. Mereka memang menjauhkan kita dari realita yang ada, tetapi sekaligus menjaga kita untuk tetap positif memandang segalanya. Kita jadi semangat dan antusias. Kita juga jadi memiliki alasan kuat untuk “mau melanjutkan hidup”.

Bisa dibayangkan kalau kita terlalu jujur dan terlalu realistis?

Meski realitanya tak semua lulusan sekolah bisa “kerja enak”, tapi hal tersebut tak membunuh semangat kita untuk melanjutkan pendidikan. Meski realitanya banyak pernikahan yang berujung perceraian, tapi hal tersebut tak mengendurkan niat kita untuk naik ke pelaminan. Meski pun realitanya berbisnis itu amat sangat sulit, tapi hal itu tak memadamkan passion kita untuk menjadi entrepreneur. Dan masih banyak lagi.

Kita percaya kalau semua kemalangan itu tak akan datang menimpa diri kita.

Jika diibaratkan, Ian Leslie mengambil contoh wortel yang diikat menggelantung di depan keledai. Hewan tersebut semangat begitu melihat wortel. Ia terus maju dengan harapan untuk mendapatkannya, meski memang tidak tergapai. Yang penting melanjutkan hidup. Bergerak. Mau cepat atau lambat.

Wah, pemikiran sang penulis buku ini menarik juga, ya? Daku harap judulnya tidak disalahtafsirkan. Hehe… 3 Kebohongan Pada Diri Sendiri yang Menguntungkan. #RD

2 thoughts on “3 Kebohongan Pada Diri Sendiri yang Menguntungkan

  1. Kalo saya secara pribadi tidak setuju dengan bentuk kebohongan apapun pada diri sendiri walaupun kenyataannya dengan melakukan hal tsb akan membuat hati dan fikiran saya merasa lebih tenang untuk sementara dalam menghadapi apa yang akan menjadi kenyataan dimasa depan karna dengan menipu fikiran sendiri untuk menstabilkan emosi dalam hati itu haya sementara dan untuk selanjutnya hanya akan ada sebuah pertentangan batin karna pada dasarnya manusia walaupun bisa membohongi fikirannya tapi tidak pernah bisa membohongi hatinya sendiri jadi saya lebih suka belajar untuk menerima dan menjalani saja perasaan2 yang menyiksa tsb seperti kecewa, rasa takut dan kecemasan dan yang paling penting adalah untuk belajar melihat lebih luas dan lebih dalam tentang kenyataaan terutama tentang kenytaan siapa dan bagaimana diri kita itu membuat hati saya lebih kuat tapi saya juga bukan orang yang terlalu realiatis karna sebenarnya orang yang terlalu realiatis bukan orang yang realistis karna orang yang realistis adalah orang yang melihat dan menerima apa yang ada sesuai dengan yang apa adannya tidak dilebih lebihkan. Itulah pendapat saya untuk saya sendiri.

  2. Hello, Nemesia. Terima kasih banyak selalu hadir di blog ini. Terima kasih juga sudah membagikan pendapat atau komentarnya. Kami rasa bisa mengerti penjelasanmu. Pendapatnya menarik dan masuk akal juga. Bisa sangat bermanfaat bagi pembaca yang lain. 🙂

Comments are closed.