6 Langkah untuk Mendapatkan Kemerdekaan Sejati Bagi Diri Sendiri

6 Langkah untuk Mendapatkan Kemerdekaan Sejati Bagi Diri Sendiri

merdeka, merdeka itu, merdeka quotes, merdeka adalah, merdeka menurut islam, kemerdekaan, arti kemerdekaan, merasa bebas, merasa merdeka

Potografer: Adrian Limani

Akhir-akhir ini, “merdeka” atau “kemerdekaan” tampaknya menjadi kata-kata yang tengah hits di Indonesia. Betapa tidak, tepat pada 17 Agustus ini, kita merayakan kemerdekaan RI yang ke-71. Bersyukur sekali, negeri ini sudah menikmati kebebasan yang cukup panjang.

Namun bagaimana dengan diri sendiri? Apa kita sudah merdeka? Atau justru masih terpenjara?

Kita bisa merdeka menjadi siapapun. Berpikir, berkata, atau melakukan apapun. Tetapi kita tak pernah bisa merdeka dari konsekuensi itu semua.

Bicara tentang kemerdekaan atau kebebasan memang agak njelimet juga. Ada yang merasa terkekang karena banyak utang, ada yang tak bisa menjadi diri sendiri karena status atau pekerjaan, ada yang tak bisa bebas dari jerat zat-zat adiktif, ada yang merasa jadi budak materi atau dunia, dsb. Well, daku enggak akan terlalu dalam menggalinya.

Kita coba memulai dari pola pikir atau mindset, ya. Merdeka bukan berarti bebas berpikir, berbicara, atau bersikap tanpa tanggung jawab. Ketika kita kebablasan, bukan tak mungkin kita akan dipenjara atau dibui beneran. Terkekang… Kemerdekaan justru bisa diraih ketika kita “bersedia diatur atau dibatasi” demi kebaikan diri sendiri dan bersama.

Lalu bagaimana langkah demi mendapatkan kemerdekaan sejati bagi diri sendiri? Jom!

#1. Memaklumi Naluri Manusia yang Tak Kenal Rasa Puas

Manusia banting-tulang demi memenuhi kebutuhan. Setelah mendapatkan sekian rupiah, pengin nambah jadi sekian rupiah lagi. Kebutuhan primer sudah terpenuhi, yang sekunder dan tersier juga terus dikejar.

Belum lagi kalau melihat orang lain berikhtiar lebih keras. Mereka sudah memiliki anu, kita juga pengin menyamai. Lingkungan begitu memanas-manasi. Pokoknya kita merasa “dipekerjakan” oleh kepuasan yang tak mencapai titik akhir. Tetapi pada dasarnya hal ini sudah menjadi naluri manusia. Kita harus sadar, menerima, dan memakluminya. Sebaiknya mengolah sifat ini sebagai pecut atau motivasi, dan menjadikannya sebagai sumber manfaat bagi makhluk hidup lain.

#2. Evaluasi Diri

Poin yang satu ini bisa menyebar luas. Ada banyak hal yang bisa menjadi bahan refleksi. Salah-satunya tentang sesuatu yang kita perjuangkan habis-habisan, semisal harta. Kenapa kita rela berjuang demi memilikinya? Bagaimana cara mendapatkannya? Apakah kita sudah mensyukurinya? Usaha seperti ini bisa membantu kita untuk lebih memahami posisi diri sebagai manusia.

#3. Abaikan Kata-kata atau Pikiran Orang Lain

Kasak-kusuk orang tentang diri kita tampaknya jadi sesuatu yang tak bisa terhindarkan. Terkadang ada baiknya untuk diabaikan saja. Tak perlu didebat atau dituruti. Hidup itu bukan tentang memuaskan seluruh umat manusia.

“Lulusan kuliah kok malah kerja anu?”, “hidupnya menderita ya? Kemana-mana naik angkutan umum saja”, “padahal temannya itu sudah punya pangkat tinggi loh!”, dsb. Omongan nyinyir semacam menjebak kita untuk “masuk penjara”, bersusah payah demi mendapat perhatian dan penghormatan orang lain. Kalau tak suka permainan busuk ini, tak apa, keluar saja. Lakukan hal-hal bermanfaat yang kita suka saja. Jadi diri sendiri dan terus pahat momen indah untuk dikenang di hari kemudian.

#4. Syukuri Apa yang Dimiliki dan Sabar dalam Keinginan

Sesuatu yang diinginkan seringkali bukanlah sesuatu yang dibutuhkan. Keinginan itu sendiri bisa menjadi tantangan atau motivasi, bisa juga jadi ujian berat. Ada yang sampai terjerembab pada keinginan, dan lupa akan kebutuhan.

Susah, memang. Tapi kita bisa membayangkan, bagaimana jadinya kalau kita berhasil memenuhi keinginan tapi malah kehilangan kebutuhan? Bayangan itu saja pasti sudah mengerikan. Misalnya kita memperbudak diri dengan bekerja mati-matian demi membeli mobil, perhiasan, atau rumah mewah. Tetapi di saat yang sama, kita mengesampingkan kesehatan diri dan waktu dengan keluarga. Bisa diprediksi, mending mana antara tak punya kendaraan sama sakit parah.

#5. Tak Perlu Berkhayal Menjadi Orang Lain

Sesekali kita mungkin pernah membayangkan hidup dalam kehidupan seseorang, yang nasibnya “terlihat” lebih beruntung dan menyenangkan. Entah itu artis atau selebritis, pejabat, pebisnis sukses, dsb. Wajar, tetapi harus dihentikan.

Lebih baik kita fokus pada kehidupan sendiri. Setiap orang memiliki opsi untuk berbahagia, walau dengan cara yang berbeda. Tak perlu mahal-mahal, atau meniru kehidupan orang. Cukup hidup sederhana, mensyukuri nikmat yang ada.

#6. Menjadi Hamba Tuhan YME

Seperti yang disinggung sebelumnya, merdeka bukan berarti bebas-lepas melakukan hal apapun sesuai kehendak dan tanpa tanggung jawab. Demi kebaikan bersama, manusia justru harus kembali sadar akan kodratnya. Baik sebagai makhluk sosial, ataupun hamba Allah Swt (bagi yang muslim).

Agama tak tercipta untuk mengekang. Walau kita disebut sebagai “budak Allah Swt”, namun perintah dan larangan-Nya justru jadi yang terbaik untuk diri sendiri. Alquran dan sunnah Rasul memapah hidup agar lebih terarah. Begitu kita jauh dari lingkaran ini, kita malah masuk pada penjara nafsu yang membinasakan. Hati selalu gelisah dan hidup malah jadi tak berkah.

~

Sudah siap memerdekakan diri sendiri? Mari terus belajar. 6 Langkah untuk Mendapatkan Kemerdekaan Sejati Bagi Diri Sendiri. #RD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *