6 Ujian atau Perjuangan Sulit yang Dihadapi Orang-orang Super Baik

6 Ujian atau Perjuangan Sulit yang Dihadapi Orang-orang Super Baik

orang baik, ujian orang baik, perjuangan orang baik, orang baik itu seperti apa, orang baik selalu diuji, orang baik adalah, orang baik cepat dipanggil allah, orang baik akan mendapatkan jodoh yang baik

Via: commondreams.org

Orang baik itu seperti apa, sih?

Orang baik itu adalah orang jahat yang belum ketahuan. Haha… bercanda, kok.

Kata orang, enggak ada yang sempurna. Orang baik belum tentu benar. Orang baik belum tentu tak punya aib. Tapi kita bisa rasakan sendiri, kok, bagaimana dan seperti apa orang baik itu. Mungkin yang sedang membaca postingan ini pun merupakan orang baik, hm?

Masih kata orang, menjadi orang super baik itu enggak baik. Katanya suka dimanfaatkan, disia-siakan, sering disakiti, mengesampingkan senyum diri sendiri, mementingkan kebahagiaan orang lain, dan kadang-kadang justru kebingungan. Wew.

Tapi tak ada kebaikan yang sia-sia. Enggak perlu pensiun jadi orang baik. Yang sering jadi sumber sakit itu bukan baik atau tidaknya, tapi kitanya saja yang diam-diam terlalu menaruh harapan pembalasan. Apalagi kalau harapan itu tak terwujud nyata. Kita pun bisa kecewa, dan di situ ketulusan kita mulai diragukan. Oleh karenanya, yakini saja, hanya Tuhan YME sebaik-baiknya pemberi balasan.

Menjadi orang super baik itu sudah mendiami tempat istimewa tersendiri, khususnya di hadapan Tuhan YME. Karena itu tak mudah jadi orang baik. Dan setidaknya, berikut inilah ujian atau perjuangan berat yang rutin dihadapi orang-orang super baik. Jom!

orang baik, ujian orang baik, perjuangan orang baik, orang baik itu seperti apa, orang baik selalu diuji, orang baik terlalu mudah memaafkan, memaafkan

Via: projectinspired.com

#1. Memaafkan Orang yang Kesalahannya Enggak Ketulungan

“Tuhan YME saja Maha Pemaaf, masa kamu enggak?”

Nasihat itu sering kita dengar. Mudah untuk diucapkan. Tapi sulit untuk diterapkan. Tergantung kesalahannya. Apalagi kalau keadaan ini sudah kita rasakan sendiri. Entah itu dikhianati, difitnah, didzolimi, diabaikan begitu saja, direnggut haknya, dsb.

Orang-orang super baik cukup tersiksa ketika sosok yang berbuat jahat padanya minta maaf. Di satu sisi dia tak tega, tapi di sisi lain dia merasa orang tersebut tak berhak diberi maaf. Ada keraguan kalau di masa mendatang, kesalahan itu akan terulang dan pemberian maaf itu akan mengulang rasa sakit dan air matanya.

Manusia bisa jadi pemaaf, tapi ia bukanlah pelupa. Orang yang baik akan tetap memberikan pengampunan. Tapi bukan berarti ia bisa melupakan dan menghapus kenangan pahit yang dialaminya. Sebab itu, ia harus tetap berjuang untuk membentengi hatinya dari keretakan dan kehancuran. Sebisa mungkin jangan sampai dikelabui lagi. Harus jaga jarak, dan fokus pada orang-orang yang lebih berhak untuk diapresiasi.

#2. Ketika Tak Dianggap Setelah Kenyang Diperalat

“Wah! dia menghubungi. Ternyata dia sadar juga kalau daku ini ada. Kita lihat, sekarang dia sedang butuh apa?”

Mungkin hal inilah yang ada dalam hati orang baik, pasca sosok yang dia bantu menghilang begitu saja. Begitu ia datang, pasti ada modusnya. Entah itu meminjam uang, mengerjakan sesuatu, meminta sumbangan ide, dsb. Setelah misi mereka berhasil, orang baik itu disia-siakan. Bahkan mereka raib ketika orang baik itu sedang membutuhkan bantuan.

Tapi ketika mereka datang, orang baik mulai dilema. Ia merasa iba, tapi juga tak mau kecewa. Untuk itu, dia harus berjuang “untuk kejam”. Kalau memang sedang tak bisa atau tak punya, bilang saja. Jika perlu, sertai dengan penjelasan. Sehingga kita tak akan merasa begitu bersalah, sekaligus jadi pembelajaran bagi mereka.

next-page-RD-300x100-1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *