Hikmah; Tidak jadi Menyebarkan Kejadian Penipuan

Hikmah; Tidak jadi Menyebarkan Kejadian Penipuan

belanja online, cerita penipuan online, hikmah, cerita hikmah, cerita hikmah ditipu online, penipuan kaos desain sendiri

Via: marketeur-web.com

Ketika curiga kalau kita sudah terjebak penipuan, apa yang akan dilakukan?

~

Ceritanya, daku ingin memesan kaus panjang dengan desain sendiri. Soalnya senang juga ketika mengenakan kaus The Corrs, yang desainnya memang tak dijual bebas. Daku ingin membuat yang versi Pink Floyd-nya.

Setelah dicari-cari, ternyata ada akun twitter yang menawarkan jasa tersebut. Daku kemudian meng-invite pin BBM-nya. Kebetulan alamat yang tertera di sana sudah tak asing. Agak jauh dari tempatku, tapi masih bisa disusul. Nah, kami kemudian ngobrol ini-itu, termasuk tentang desain kaos yang diinginkan. Obrolan juga sampai pada harga, yang dibanderol sebesar Rp105.000,00.

20160604_095936

Mumpung masih ada uang dan kebetulan ingin segera mengenakan kausnya, daku pun segera transfer keesokan harinya. Tepat pada 4 Juni 2016. Ekspektasiku tentu saja pihak mereka akan segera beroperasi. Daku pun sudah membayangkan kedatangan Pak Pos, JNE, TiKi, dsb, selambat-lambatnya pada akhir Juni 2016. Tetapi…

Screenshot_2016-07-17-07-53-34

~

Screenshot_2016-07-17-07-53-48

Selama menunggu, daku kadang ingat, kadang juga lupa. Tetapi sekalinya ingat, daku akan segera mengkonfirmasi kepastian pengirimannya. Mereka menjanjikan. Setelah meminta maaf, lalu kita diminta menunggu lagi. Begitu terus. Btw, screenshoot ini enggak lengkap. Tapi daku pilih saja yang sekiranya perlu dipublikasikan.

Nah sampai akhir Juli, kaus yang daku pesan tak kunjung datang. Daku tentu saja emosi. Ingin rasanya untuk membuat woro-woro di media sosial, atau blog, tentang identitas dan kelakuan mereka. Benar-benar tidak profesional.

Sampai suatu hari, di saat mood-ku sedang anjlok, pemilik usahanya ganti DP BBM. Daku pun segera “menyemprotnya”. Well, sebenarnya paling enggak enak kalau harus “adu mulut” via teks. Tetapi mau bagaimana lagi, hanya media itu yang tetap menghubungkan. Dan daku juga sedikit lega, sebab kontak BBM-nya masih aktif, enggak hilang begitu saja.

Dengan terpaksa daku melancarkan “ancaman”, sesuatu yang sebenarnya enggak nyaman dilakukan. Malu juga ketika harus melakukannya. Tetapi daku hanya pengin tahu, bagaimana reaksinya. Lagipula, daku rasa dia memang perlu “digertak”. Kalau bisnis ya harus menjunjung kepercayaan. Mau produk atau jasa, rasa percaya dan kepuasan pelanggan harus diprioritaskan. Apalagi kalau masih transaksi perdana. Dia benar-benar bikin kapok.

Screenshot_2016-07-17-07-53-55

~

Screenshot_2016-08-19-17-30-10

Daku agak frustasi menghadapinya. Beruntung, pekerjaan demi pekerjaan berhasil mengalihkan pikiran. Ancamanku untuk menuliskan postingan khusus tentang mereka pun tak kunjung dilakukan. Daku memang mendokumentasikan berbagai screenshoot, tapi tak sempat menulis tentang kasus ini.

Sampai kemudian pada 13 Agustus kemarin, hatiku sedang tenang. Daku sedang cukup stabil. Dan kebetulan lagi, si pemilik usaha itu kepergok mengganti DP BBM-nya. Tanpa ragu-ragu, daku segera pijit tombol like, dan memulai percakapan.

Daku ingin berperan sebagai protagonis ala sinetron, yang berhati besar memaafkan aneka kesalahan. Haha… Karena itu, daku buat judgement dalam hati kalau orang tersebut memang tak memiliki uang untuk membayarnya. Sebab itulah, rasa ibaku perlahan muncul. Intinya, mumpung sedang baik.

Ada hikmahnya juga daku belum memanfaatkan keleluasaan waktu untuk menulis aksi penipuan ini. Entah kenapa daku jadi mempertimbangkan banyak hal. Ya itulah… mungkin mereka enggak punya uang dan sedang butuh, kasihan usaha dan nama baiknya, terus efek positif dari menyebarkan aib itu terbilang sedikit.

Ya sudah daku pun berniat mengakhirinya.

Screenshot_2016-08-19-17-31-30

~

Screenshot_2016-08-19-17-31-36

Nah, lho.

Hasilnya bikin kaget. Dua menit langsung ada respons. Daku benar-benar enggak tahu kalau dia sedang di Bank dan langsung take action. Tetapi alhamdulillah, uang yang daku transferkan sudah kembali lagi. Malah lebihan Rp5.000,00. Tapi sudah diluruskan, kok. Alhamdulillah mereka mengikhlaskannya. Hehe… hatur nuhun pisan!

Berarti dia memang tidak jujur ketika mengatakan “sedang dicetak”. Yowis, enggak apa-apa. Yang penting masalahnya sudah selesai tanpa merambat pada masalah baru lagi. Solusi ini lebih menenangkan. Insya Allah identitasnya juga enggak akan bocor.

Hhh… kejadian ini jadi pelajaran besar juga buatku. Khususnya tentang bisnis online, ya. Dalam transaksi langsung saja, kepercayaan dan kepuasaan itu sangat dipentingkan, apalagi perdagangan di dunia maya atau media sosial? Nah, semoga para entrepreneur atau pelaku bisnis, khususnya yang masih muda nan kecil-kecilan bisa sukses dan berkah sekaligus. Termasuk usaha kaus yang satu ini. Aamiin… Hikmah; Tidak jadi Menyebarkan Kejadian Penipuan. #RD

4 Comments
  1. Fakhruddin
    • deeann
  2. Hastira
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *