Alasan Kenapa Kita Masih Peduli Apa Kata Orang dan Apa yang Mereka Pikirkan

Alasan Kenapa Kita Masih Peduli Apa Kata Orang dan Apa yang Mereka Pikirkan

peduli apa kata orang, gak peduli apa kata orang, alasan peduli kata orang, alasan peduli omongan orang, kata kata tak peduli kata orang, kata kata tidak peduli omongan orang, jangan peduli apa kata mereka, kata kata gak peduli apa kata orang, jangan peduli apa orang kata

Via: plannedparenthood.org [Shutterstock ID 104797643]

“My name’s Blurryface and I care what you think…”

Demikian petikan lirik lagu “Stressed Out” dari twenty one pilots. Daku tercenung juga mendengar pengakuan si penyanyi, bahwa ia memang memerdulikan apa yang diomongkan atau dipikirkan orang. Bro-Sist juga begitu, tidak?

Apa iya kita bisa begitu cuek tentang apa yang orang lain katakan atau pikirkan? Sebab jauh di dalam hati, rasa peduli itu rasanya masih ada. Kalau tidak, pasti kita…

  • Tak akan siap-siap ketika harus pergi kondangan, interview kerja, bertemu calon mertua, dsb.
  • Kita juga akan pikir-pikir apa kata orang ketika sembarangan memposting poto atau menulis status di media sosial.
  • Terus ketika ada orang yang bermuka dua, kita akan pikir-pikir jika harus menampar “dua mukanya” kiri-kanan di muka umum.
  • Terus ketika dalam sebuah pertemuan, kita akan menahan diri untuk tidak kentut sembarangan.
  • Belum lagi ketika orang-orang mengenakan pakaian hitam atau berwarna gelap di pemakaman, tentu kita mempertimbangkan lagi jika harus memakai baju pink terang kesukaan.
  • Dsb.

Apa kata dunia? Jangan-jangan nanti mereka teh menjudge kita? Terus kita teh jadi bahan gosip? Terus pandangan orang terhadap kita teh jadi penuh curiga? Terus reputasi kita teh jadi buruk? Terus kita teh jadi enggak punya teman? Terus kita teh jadi sendirian? Dan, seterusnya. Bagaimana pun, kalau bisa sama dengan kebanyakan orang, kita bisa percaya diri dan berpeluang memeroleh teman yang lebih banyak.

Lalu bagaimana? Katanya, jangan pedulikan apa kata orang lain? Tapi sekarang, kita malah peduli?

Well, berarti masalahnya bukan pada peduli atau tidak peduli, melainkan terletak pada keseimbangan. Ada alasan kenapa sewaktu-waktu kita harus peduli, dan kenapa juga di waktu yang lain malah enggak wajib peduli sama sekali. Sebelumnya daku sudah menulis postingan bertajuk “10 Alasan Kenapa Kita Tidak Wajib Peduli Apa Omongan atau Pikiran Orang Lain”.

Kita juga harus menetapkan bagaimana itu yang namanya peduli dan tidak peduli. Kalau kita buang sampah sembarangan tanpa memerdulikan yang lain, itu berarti “tidak peduli” yang keliru. Atau kalau kita meneror penggosip dengan bangkai kecoa, itu berarti “peduli” yang salah kaprah.

Intinya kita harus peduli jika…

Niat, perkataan, tindakan, atau perbedaan kita merugikan diri sendiri dan orang lain. Baik secara materil, moril, ataupun image. Apalagi kalau hal tersebut masih ada dalam kuasa kita sendiri.

Kita bisa cuek bebek kalau kiat, perkataan, tindakan, atau perbedaan kita tak ada sangkut-pautnya dengan orang. Tak perlu pedulikan juga hal-hal yang justru bersifat toxic alias menjadi racun hidup. Demikian, Alasan Kenapa Kita Masih Peduli Apa Kata Orang dan Apa yang Mereka Pikirkan. #RD

2 Comments
  1. Akarui Cha
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *