10 Hal yang Sebenarnya Terjadi Ketika Mengalami Writer’s Block

10 Hal yang Sebenarnya Terjadi Ketika Mengalami Writer’s Block

writer's block adalah, pengertian writer's block, writer's block apa sih, mitos writer's block, hal yang sebenarnya terjadi ketika writer's block

Via: Webs.com [edit]

Writer’s block itu apa, sih?

Writer’s block adalah… alasan.

~

Pengertian yang menohok hati itu datang dari penulis bernama Jeff Goins. Dia mengatakan kalau writer’s block bukanlah penyakit atau virus yang memblok proses kreatif kita, khususnya dalam hal menulis. Ya, writer’s block hanyalah alasan.

Writer’s block menjadi “kekuatan jahat” yang tak terlihat. Sehingga, terkadang kita sulit mengendalikannya. Takluk saja pada pengaruhnya. Kita merasa, oh daku sedang mengalami writer’s block, ya sudah ide dan kreativitasku ikut terblok. Period.

Kekuatan jahat tersebut sudah menyusup di sela-sela produktivitas menulis kita. Ia jadi sesuatu yang sebenarnya kita ciptakan dan besarkan sendiri. Karena itu, kita sendiri juga yang harus menyingkirkannya.

Kita tahu bagaimana alamat atau tandanya fenomena writer’s block. Yang mesti dilakukan bukan saja dengan “mengobati” penyakit yang memang tidak ada itu. Alangkah lebih baiknya kalau kita menyelidiki fakta yang ada. Jika dibuatkan ­list, setidaknya ada 8 hal yang sebenarnya terjadi ketika kita menyangka writer’s block itu ada. Jom!

cara menghadapi writer's block, tips writer's block, writer's block adalah, pengertian writer's block, writer's block apa sih, mitos writer's block, hal yang sebenarnya terjadi ketika writer's block

Via: Mom.Money

#1. Capek

Gejala ini menjadi pertanda kalau tubuh dan pikiran sudah lelah. Kita sebenarnya butuh istirahat, tapi terus saja memaksakan. Sehingga kreativitas atau produktivitas jadi tak maksimal.

#2. Menetapkan Standard Tinggi

Jika bacaan kita berkualitas tinggi, memang otomatis kita ingin menirunya. Kita ingin seperti mereka yang karyanya mendapat review bagus serta menyedot banyak penggemar. Di saat seperti ini, kita bisa jengah dan muak sendiri, karena standard yang terlalu tinggi memang kadang jauh dari jangkauan. Padahal segala sesuatu itu berproses.

#3. Takut Karya Tulisnya Ditolak

Sebelum melempar karya tulis ke publik, mungkin kita sudah membuat konsep sendiri. Karya kita akan bernasib seperti penulis keren nan beruntung lain. Tetapi ada momen di mana kita menarik kembali konsep itu. Kita tiba-tiba berpikiran kebalik. Takut mendapat penolakan, kritik pedas, atau mungkin ejekan.

#4. Perfeksionis

Namanya juga perfectionist,  kita ingin segala sesuatunya sempurna. Masih juga dalam tahap proses, kita sudah mengedit atau merevisinya berulang-ulang. Kita merasa “alergi” dengan yang namanya kesalahan, baik yang besar atau yang kecil. Kita anti akan penolakan. Kita ogah menerima respons negatif. Semuanya ingin berjalan sesuai impian. Padahal semua itu jadi suatu kemungkinan yang tak terhindarkan.

#5. Sibuk

Kesibukan atau waktu yang sebentar kerap dicatut sebagai penyebab dari sulitnya menulis. Kita merasa kalau waktu yang ada itu sudah terkuras oleh berbagai hal. Tak terlalu cukup untuk menulis.

cara mengatasi writer's block, tips writer's block, ketika penulis kehilangan ide, ketika penulis merasa malas, writer's block adalah, pengertian writer's block, writer's block apa sih, mitos writer's block, hal yang sebenarnya terjadi ketika writer's block

Via: Frost Lord

#6. Malas

Musuh produktivitas ini membuat kita ogah-ogahan. Maunya menunda-nunda. Kita merasa harus bersantai dulu. Dan hal ini seringkali terjadi secara natural. Kita sendiri kadang tak tahu kenapa, sampai begitu malas untuk berpikir atau menulis satu paragfraf.

#7. Berantakan

Mau nulis, tapi awalnya gimana dulu?

Pertanyaan yang tak kunjung mendapat jawaban itu terus saja jadi sesuatu yang menggelayut di pikiran. Kita yang belum ahli malah tak membuat skema, struktur, atau susunannya. Ibaratnya, kita mendatangi tempat asing dan tak tahu petanya. Tak ada petunjuknya. Tak pelak kita pun kebingungan sendiri.

#8. Takut

Poin yang satu ini menjadi kegelisahan umum. Kita takut sudah capek-capek menulis, tapi tak ada feedback sama-sekali. Takut sudah berpikir keras, ngemodal banyak, nulis sampai pegal, promo ugal-ugalan, dll, tapi ujung-ujungnya nihil. Tak ada penerbit atau media yang nyangkut, tak ada juga pembaca yang memberi apresiasi. Takut pengorbanan besar itu terasa sia-sia.

#9. Banyak Pertanyaan

Nulis ginian ngapain, sih?

Ngasih keuntungan apa?

Apa ada yang bakal baca?

Mereka suka enggak, ya?

Semua pertanyaan yang mungkin bisa nambah itu menghalangi aliran ide. Kita kadang jadi ter-distract dan malah fokus dulu pada pertanyaan-pertanyaan yang-entah-apa-jawabannya-itu. Ujung-ujungnya, gagasan malah tak dieksekusi dengan indah.

#10. “Teman Imajiner” Sedang Ngambek

Daku tambahkan poin ini lantaran tertarik ketika ada quote yang berbunyi, writer’s block… when your imaginary friends stop talking to you. Apalagi kalau karya kita termasuk fiksi, yang memang perlu kreativitas dan daya imajinasi tinggi. Kita bisa telusuri kenapa dunia imajinasi itu penuh kabut, sehingga sulit ditembus.

~

Jika sudah mengetahui kejadian sebenarnya di balik momen writer’s block, mestinya kita mendapat kemudahan untuk mengatasi semua itu. Oh wajar ide dan produktivitas menulisku keblok, orang hari ini sangat kelelahan. Jika sudah begitu, kita bisa rehat sejenak. Kalau perlu kita bisa tidur, mandi, ke kedai kopi, dsb. Tak perlu memaksakan.

Well, bicara (dan menulis) saja memang mudah. Daku hanya bersyukur sudah sempat membaca ulasan Jeff Groins mengenai writer’s block dan menuliskan 8 poin darinya.

Semoga kita termasuk penulis yang tetap semangat belajar, bisa tahu fakta sebenarnya di balik sesuatu yang kita sebut writer’s block, serta bisa mengatasinya juga. Demikian, 10 Hal yang Sebenarnya Terjadi Ketika Mengalami Writer’s Block. #RD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *