7 Ciri Seseorang Kurang Mementingkan dan Memerdulikan Diri Sendiri

7 Ciri Seseorang Kurang Mementingkan dan Memerdulikan Diri Sendiri

mementingkan diri sendiri, sikap kurang mementingkan diri sendiri, mementingkan orang lain daripada diri sendiri, mengorbankan kebahagiaan diri sendiri demi orang lain

Karya: pascal Campion

Apakah kita termasuk orang yang mementingkan diri sendiri, atau justru terlalu fokus pada orang lain?

Menolong, memudahkan, membahagiakan orang, atau melancarkan pekerjaan memang mengalirkan kepuasan. Sehingga banyak orang-orang super baik yang dermawan dan rela berkorban. Kebutuhan diri sendiri mah belakangan. Yang penting senyum orang lain bisa mekar.

Hal itu tentu sangat mulia. Mengagumkan, malah. Superhero sejati!

Tetapi kita juga manusia, yang sama-sama memiliki kebutuhan untuk dipenuhi. Tak apa-apa mengatakan “tidak” ketika kita memang tak bisa. Tak masalah mengakui kalau kita tak bisa meminjamkan uang, lantaran uang tersebut akan dipakai membeli beras dan lauk-pauknya. Tak masalah untuk istirahat sejenak dari pekerjaan yang menumpuk, dan memenuhi hak tubuh untuk tidur beberapa saat.

Tak perlu merasa bersalah atau tak enakan. Wajar saja.

Kita juga memiliki amanah besar berupa diri sendiri, yang harus dirawat dan dipenuhi hak-haknya. Lalu apa kita termasuk orang yang mengabaikan atau tidak memikirkan kepentingan diri sendiri? Jom!

#1. Tidak Acuh Sama Kebutuhan Dasar

Yang satu ini jadi kewajiban tak terelakkan. Tak baik rasanya kalau menganggap diri sudah terbiasa berangkat kerja atau sekolah tanpa sarapan, dengan alasan takut terlambat atau mual. Tak baik juga untuk merasa tak aneh jika harus begadang dan hanya tidur beberapa jam. Semua itu jadi contoh “tipuan” terhadap diri sendiri.

Efeknya bisa terasa. Kita jadi kehilangan kesempatan untuk memperlakukan diri sendiri dengan baik. Ada hak-hak tubuh yang sudah dilanggar. Tak ayal kalau kita mudah lelah, kurang fokus, moody, dsb.

#2. Menjadi Robot

Banyak orang yang merasa kalau siklusnya begitu-begitu saja. Bangun – makan – kerja keras – tidur – diulang. Seperti halnya robot. Tetapi hal tersebut sebenarnya manusiawi. Semuanya baik-baik saja kalau kita memang menikmatinya.

Namun ada saatnya kita ada di titik jenuh dan lelah luar biasa. Muak karena rutinitas itu. Karenanya, kita bisa meluangkan waktu juga untuk memenuhi kebutuhan lain. Entah itu untuk mendapat siraman rohani, piknik, quality time bersama keluarga, dsb.

#3. Melakukan Sesuatu Hanya Demi Orang Lain

Tak ada salahnya untuk memberi atau melakukan sesuatu demi orang lain. Kita malah dianjurkan untuk bersikap demikian. Tetapi sesuatu bisa terjadi kalau sikap itu berada di level “keterlaluan”, level yang sudah bisa mendatangkan bahaya. Apalagi kalau orang-orang mulai memperalat atau memanfaatkan.

Orang-orang yang baik memang sangat lemah ketika dihantui oleh perasaan tak enak atau merasa bersalah. Tetapi kita harus pandai-pandai “mengendus” saat-saat di mana orang yang keterlaluan. Ada kalanya kita memang harus memberikan opsi jawaban “maaf, tidak bisa” terhadap mereka. Khususnya ketika kita memang tak bisa, atau karena kita tak mau mereka terlalu ketergantungan.

mementingkan orang lain, itsar, contoh mendahulukan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi, mementingkan orang lain daripada diri sendiri, mengorbankan kebahagiaan diri sendiri demi orang lain

Karya: Pascal Campion

#4. Hilang Kontak dengan Keluarga atau Sahabat

Apa hari ini, minggu ini, bulan ini, atau mungkin tahun ini, kita sudah menikmati kebersamaan dengan orang-orang tersayang?

Rasanya hampa juga begitu menyadari kalau kita terlalu menguras waktu bersama pekerjaan, bos atau majikan, serta rekan-rekan kerja saja. Kita rela pulang larut malam demi pekerjaan, tetapi merasa sayang jika menyisihkan beberapa menit saja untuk sarapan bersama keluarga. Kita siap-siap saja ketika lembur di waktu libur, tetapi merasa sayang jika sahabat ngajak reunian.

Secara tak langsung, kita sudah mencekoki diri dengan beban saja ketika lebih lama berkutat dengan pekerjaan, ketimbang meluangkan waktu beberapa menit untuk ngopi dengan sahabat atau bercanda dengan keluarga. Sesekali kita bisa menyisihkan urusan karier, untuk kemudian menikmati kebersamaan. Bagaimanapun, hal itu bisa jadi kebutuhan juga.

#5. Tak Ingat Kapan Terakhir Bisa Seru-Seruan

Kapan terakhir bisa gila-gilaan? Kapan terakhir bisa tertawa lepas sampai berurai air mata?

Jika tak ingat kapan, berarti ada yang tak beres. Mungkin kita memang sudah terlalu lama berkutat dengan sumber stress. Kerja, kerja, kerja, uang, materi, prestasi, reputasi, dsb. Semua itu memang penting, sebab bisa menunjang kehidupan. Tapi bukan berarti kita harus “menghamba” pada dunia.

Tak perlu berat hati untuk mengatur waktu, bepergian bersama orang-orang tersayang. Atau kita juga bisa rehat sejenak dengan menikmati makanan kesukaan, datang ke konser musisi kesukaan, gokil-gokilan bersama teman-teman, menonton film yang menghibur, dsb. Ada kalanya kita flashback  ke masa kecil atau masa di mana kita belum terjun ke “dunia nyata”, dan mengapresiasi betapa bahagianya masa itu.

#6. Merasa Sudah Berubah, Tak Jadi Diri Sendiri Lagi

Kita sudah mengabaikan atau bahkan lupa untuk memikirkan kebutuhan, hasrat hati, dan kebahagiaan diri sendiri. Bukan hal aneh kalau kita lupa, kita ini siapa dan kenapa ada. Dari bangun sampai tidur lagi, untuk apa melakoni semua ini?

Oh! Kita perlu me time juga untuk merenungi semuanya, dan mengembalikan kita pada track yang seharusnya.

#7. Merasa Asing Dengan-Nya

Kapan terakhir mengangkat tangan untuk berdoa? Merasakan getar hati karena membaca ayat-ayatnya? Atau merasa kerdil ketika bersujud di hadapan-Nya?

Jauh dari pencipta menjadi salah-satu wujud ketidakpedulian kita terhadap diri sendiri. Hati ini selalu gelisah, depresi, merasa ada yang kurang, dan pokoknya seperti hilang arah. Kita jadi linglung, tak tahu apa-apa. Tak merasakan ketentraman di tengah gejolak kehidupan.

~

Semua ini bisa jadi tamparan atau mungkin renungan, tentang bagaimana kita mengapresiasi diri sendiri. Memikirkan, memerdulikan, mementingkan, memahami, dan mencintai diri sendiri menjadi tugas utama kita, bukan mereka. Demikian, 7 Ciri Seseorang Kurang Mementingkan dan Memerdulikan Diri Sendiri. #RD

One Response
  1. Beby

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *