Kami Sudah Peka, Miss!

Kami Sudah Peka, Miss!

mengajar, kami sudah peka, mengajar remaja, mengajar anak SMP

Via: buzzle.com

Ketika daku masih SMA, ada semacam seminar atau workshop  tentang hypnotherapy. Waktu itu pematerinya mengatakan kalau konsentrasi kita itu tergantung usia. Semakin muda, cenderung semakin pendek. Hal tersebut menjelaskan kenapa siswa SMA hanya konsentrasi sebentar, setelah itu mereka ter-distract oleh banyak hal. Kalau tidak, mereka akan menguap ngantuk.

Ingatan itu kembali hadir ketika sekarang daku mengajar di sebuah lembaga kursus. Sudah daku beritahu di blog ini, kalau muridku kebetulan merupakan para siswa kelas XII. Tetapi baru-baru ini, pihak lembaga memberi amanah lain berupa murid MTs/ SMP. Sementara yang SD tidak daku terima lantaran ketidaksanggupanku pribadi.

Khusus untuk anak SMP, kami baru empat kali bertemu. Dan mulai dari pertemuan perdana, ada istilah khas yang mulai kami ciptakan sendiri. Hal tersebut berawal ketika daku sedang menjelaskan materi, lalu memberi soal yang jawabannya sesimpel true atau false. Tetapi sebelum mengatakan salah-satu jawaban itu, mereka tentu saja berpikir keras, dan keberatan jika harus “tertipu” oleh jebakan yang sengaja daku tanam. Sampai kemudian salah-satu dari mereka mulai ngeh, dan daku pun mengapresiasinya.

“Nah… mulai peka, nih!”

Ungkapan yang terlontar tanpa sengaja itu sepertinya cukup nempel. Sampai sekarang, tiap kali selesai menjelaskan, mereka akan bilang “kami sudah peka, Miss”, sebagai tanda kalau mereka paham. Dan, tak ada yang ditanyakan.

mengajar remaja, peka, sudah peka, belajar bahasa inggris, mengajar anak MTs SMP

Via: flylanddesigns.com

Well, mengajar remaja itu gampang-gampang susah. Seperti yang disinggung di atas, konsentrasi mereka rentan terganggu. Untuk itu, kadang di sela-sela mengajar, daku bawa bercengkerama dulu. Kalau ada, lebih baik beri tayangan video. Baiknya sih yang berkaitan dengan materi pelajaran.

Kita sendiri harus peka, kalau mereka akan mulai mengobrol atau mengusili rekan-rekannya ketika mulai bosan dan jenuh. Kita tak bisa berharap mereka akan terus fokus dari mulai jam belajar sampai waktu pulang. Bagaimana pun, kita juga pernah remaja. Pernah merasakan, betapa susahnya membuat jiwa dan raga kompakan.

Kalau kata Pak H. Rhoma Irama, “darah muda darahnya para remaja”. Mereka memiliki semangat yang menggebu. Tetapi kita tak bisa menampik kalau mereka juga penuh dengan mimpi, yang membuat pikirannya kadang melayang-layang. Raga di mana, isi kepala di mana. Butuh skill tertentu juga agar mereka tetap peka. Kami Sudah Peka, Miss! #RD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *