7 Musuh Dalam Selimut Ketika Menulis dan Cara Melawannya

7 Musuh Dalam Selimut Ketika Menulis dan Cara Melawannya

penulis, penulis freelance, musuh dalam selimut ketika menulis, langkah awal menjadi penulis, cara menjadi penulis online, menjadi penulis pemula, cobaan penulis

Via: eightladieswriting.com

“Daku tertarik belajar menulis…”

Well, daku sangat senang jika ada pembaca rosediana.net yang menulis kalimat seperti di atas. Entah via komentar, email, atau pun di media sosial. Soalnya daku bakal mendapat teman sharing baru. Sebab sampai sekarang, menulis itu jadi pelajaran abadi yang terus daku gali dan praktikkan.

Benar atau tidak, ya? Sebagian besar orang yang ingin menjadi penulis pernah menghayal kalau karyanya akan diminati penerbit mayor, nangkring di toko buku, memiliki banyak pembaca setia, dihujani pujian, bukunya best seller, populer, mendapat honor tinggi, diundang ke mana-mana, karyanya difilmkan, menjadi pahlawan bagi umat manusia, dan hidup bahagia selamanya.

Tetapi begitu menginjak – eh maaf – maksudnya mengetik sesuatu di keyboard, pikiran dan keyakinan kita sedikit oleng. Belum apa-apa, tapi sudah terasa; menulis kok susah banget? Semuanya tak sesuai konsep dan impian. Tak jarang, di momen-momen ini pun banyak yang terjungkal. Sekalipun bertahan, maka dia akan tertatih-tatih. Perjalanannya lebat dengan perjuangan.

Fiyuh… Senasib!

Tapi daku terhibur dengan tulisannya Bryan Collins tentang rintangan atau musuh menulis yang rupanya bisa kita tangkis. Nah, jom!

Musuh #1: Tak Ada Waktu

Menulis seringkali dijadikan hobi atau pekerjaan sampingan. Di sisi lain, waktu kita sama. Seminggu, 7 hari. Di waktu itu, semua seperti menuntut perhatian. Pekerjaan inti minta diselesaikan, pasangan minta diperhatikan, bisnis minta dimodali lebih besar, hewan peliharaan minta dirawat dengan benar, dsb. Kita pun berasumsi kalau menulis tak kebagian porsi.

Solusinya:

Tegas. Brutal. Tapi bukan dengan cara memutuskan pasangan, keluar dari pekerjaan, membung binatang atau gulung tikar. Tidak. Maksudnya, kita harus lebih selektif lagi dalam mengatur aktivitas. Sesibuk apapun, kadang ada saja waktu untuk bermain di media sosial, menonton tv, jalan-jalan, dsb. Kalau memang cinta sungguhan terhadap menulis, kita bisa memangkas semuanya. Utamakan kewajiban, setelah itu pastikan untuk tetap menulis. Sependek apapun itu.

Musuh #2: Kita Nulis Apaan?

Daku pernah “galau” akan hal yang satu ini. Suka bertanya-tanya sendiri, gitu. Kita ini nulis apaan?, genre apa yang cocok?, harus bagaimana gaya menulisnya?, dsb. Semua pertanyaan yang tertuju pada diri sendiri, dan seharusnya terjawab oleh diri sendiri juga, berubah jadi benang kusut yang membuat kita meringkuk. Belum juga menulis dan mengubah dunia menjadi lebih baik, semua pertanyaan itu malah menjadi penghalang awal.

Solusinya:

Semua penulis memiliki gaya tersendiri. Kita bisa saja meniru beberapa penulis favorit dulu di awal, namun lama-lama gaya khas sendiri juga akan terbentuk. Tetapi kita memang perlu waktu atau proses untuk mendisiplinkan diri dan terus praktik.

Musuh #3: Memulai Nulisnya Bagaimana?

Ada momen di mana kita membuka sebuah dokumen baru, lalu layarnya masih kosong melompong. Saat itu kita galau sendiri, mulainya gimana nih?

Keadaan itu mirip dengan para penyanyi junior yang baru berdiri di atas panggung, para guru pemula yang baru masuk kelas, atau para dokter yang baru mendapat pasien perdananya. Wajar. Semuanya akan grogi, kalut, atau cemas.

Solusinya:

Ketik saja. Tuliskan apa saja. Tak perlu ada yang disensor, dibatasi, atau ditahan dalam hati. Biarkan semuanya mengalir, sampai pikiran yang tadinya tegang bisa kendor. Biasanya ide pun akan bermunculan sendiri kalau kita sudah mulai rileks dan terbayang apa yang akan dituangkan dalam bentuk kata.

next-page-rd-300x100-1

3 Comments
  1. super fanboyz
  2. tia
  3. keninglebar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *