Alasan Kenapa Guru Harus Belajar Terbiasa dengan Senyum Palsu

Alasan Kenapa Guru Harus Belajar Terbiasa dengan Senyum Palsu

senyum palsu, guru tersenyum palsu, profesi yang mengharuskan kita untuk senyum palse, fake adalah, fake smile adalah

Viaa: uzer26.blogspot.com

Kata orang, senyum palsu itu lebih menyiksa ketimbang nangis beneran. Ekspresi yang sebenarnya sedih dan galau inside, malah harus dipotretkan bahagia dan baik-baik saja outside. Senyum palsu memaksa kita untuk pura-pura, tak menampilkan kondisi hati yang sebenarnya.

Sayangnya, banyak pihak yang justeru harus terbiasa dengan senyum palsu ini. Sebut saja orang tua, dokter atau perawat, guru atau tutor, dsb. Dan sesuai judul, daku akan fokus pada guru, trainer, tutor, dan para squad-nya.

Bisa kita bayangkan. Ketika bersedih, stress, banyak kerjaan, atau mungkin sedang sakit, lalu mood yang anjlok tersebut mengontrol diri seorang guru. Kemungkinan besar wajah, intonasi suara, atau auranya akan berubah masam. Kelas menjadi tegang. Semua pasang mata langsung siaga. Suara apapun, termasuk derit sepatu, bisa jadi sesuatu yang membuat jantung bertalu-talu.

Pada saat itulah, kita sudah menularkan emosi yang negatif…

Memang, tak selamanya kita masuk kelas dalam keadaan yang happy, tanpa problema sama-sekali. Bisa saja sebelum mengajar, kita menghadapi aneka kejadian yang membuat mood merosot. Entah itu bertengkar dengan seseorang, bingung menagih utang, naik ke angkot yang ngetemnya enggak kira-kira, kesal dengan print-an yang bocor, dsb.

Tetapi kita harus semampu mungkin untuk tetap tampil ceria. Seakan-akan tak terjadi apa-apa. Soalnya kita tak bisa menepikan fakta bahwa anak-anak kemungkinan besar bisa “mengendus” sesuatu dari gurunya. Apalagi kalau kita terlalu ekspresif ketika menunjukkan isi hati sebenarnya. Apa yang salah nih sama Ibu/ Bapak Guru hari ini?

Padahal anak-anak sendiri datang ke kelas untuk belajar banyak hal. Mereka belajar menjadi lebih stabil, dan tentu belajar menguasai materi. Kalau kondisi kita yang sedang tak stabil malah tak terkendali, bagaimana?

Sepertinya hal tersebut akan berpengaruh bagi anak. Mereka bisa ikut stress, sedih, khawatir, panik, dsb. Sebb, memang susah untuk tetap ceria di tengah-tengah mendungnya suasana. Kalau sudah begitu, penyampaian dan penangkapan materi bisa tersendat. Sebaliknya ketika siswa happy happy saja, mereka akan lebih siap dan terbuka menerima pelajaran.

Yang membuat tugas kita lebih berat, anak-anak atau remaja itu cukup mudah stress. Masalah seperti galau hendak jajan apa atau ngambek sama seorang teman pun kadang bisa membuat suasana hatinya keruh. Belum lagi, guru dipandang sebagai figur yang idealis, baik, murah senyum, penyabar, ceria, dsb. Hampir sempurna.

Jikalau guru memilih untuk mengekspresikan diri dengan jujur, siswa bisa apa untuk menghiburnya?

Pada dasarnya, tugas siswa terbatas pada materi sekolah, bukan pada emosi sang guru. Kalau anak-anak menunjukkan sikap positif, pasti hati ini akan terhibur secara tidak langsung. Sebaliknya, kalau mereka malah bersikap negatif, mood akan semakin pahit.

Boleh jadi ketika ia menampakkan wajah sedih atau marah yang sebenarnya, mereka akan ikut drop, semakin membuat kita frustasi. Mereka juga bisa “salah fokus”. Bukan pada pelajaran, melainkan pada sesuatu yang salah dengan kita. Kepo, begitu.

Bisa dibayangkan kalau kita ada dalam posisi sang anak. Apa kita bisa tetap berkonsentrasi? Apa kita bisa tetap cuek dan lanjut belajar?

Lagi-lagi, kita sudah terlanjur setuju menjadi pengajar, guru, trainer, tutor, dsb. Tugas kita tak sebatas mentransferkan materi. Kita juga semestinya menghadirkan suasana belajar yang nyaman dan positif. Ketika kita menampakkan sisi negatif, misi pembelajaran itu pun luruh. Apalagi bagi sebagian siswa, guru itu ibarat orang tua yang diharapkan bisa jadi figur teladan yang lebih lembut.

Sebab, kalau keadaan rumah sudah menumpukkan kemarahan, lalu gurunya juga malah melampiaskan emosi pada seorang anak, ke mana lagi dia bisa mengharap kenyamanan?

Momen negatif kita pada anak mungkin hanya berlangsung beberapa menit atau jam, tetapi semua itu sudah jadi kenangan yang terpahat dalam otak anak. Mereka akan mengingat semuanya, bahkan bisa menimbulkan persepsi dan trauma tersendiri. Mungkin mereka akan menyimpulkan. Oh Ms X itu orangnya moody kalau lagi PMS, Mr Y orangnya temperamen kalau ban motornya bocor, Miss W itu mudah didekati, dsb.

Phew! Guru dan Senyum Palsu. #RD

4 Comments
  1. Hastira
    • deeann
  2. onklik baca
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *