10 Cara Menghadapi Haters Online

10 Cara Menghadapi Haters Online

menghadapi haters, kata kata bijak untuk para haters, cara menghadapi haters, cara menghadapi omongan orang yang menyakitkan, sindiran buat haters, kata kata sabar menghadapi hinaan orang

Cia: theeeshablog.com

Haters? Kayak selebritis saja punya haters? 😀

Di zaman sekarang, di mana mayoritas dari kita beraktivitas online, rasanya peluang untuk memiliki haters itu semakin besar. Ada yang menyindir, ada juga yang memberi komentar atau emoticon negatif pada postingan kita (poto selfie/ produk/ karya,dsb). Padahal seringkali mereka itu merupakan orang tak dikenal, yang entah tinggal di pojok mana. Sebagian lagi memang kita kenal, tapi tak habis pikir saja kalau mereka bakal memberi penghakiman, seolah-olah tahu segalanya.

Kadang-kadang kita sampai gemas, ingin bicara langsung dengan orang tersebut, atau sekadar meremas mukanya.

Tapi apa daya, sebagian dari mereka itu maya, tidak nyata ada di depan mata. Hanya nama akun samaran, dengan poto samaran juga. Mungkin hal itu juga yang membuatnya tega, tak memerdulikan perasaan siapa pun yang diserangnya.

Tetapi mau hengkang dari internet juga, rasanya sangat sulit. Apalagi kalau kita memiliki kepentingan semacam komunikasi, bisnis, promosi, dsb. Di sisi lain, secuek-cueknya kita, feedback negatif dari para haters itu kadangkala masih meninggalkan pengaruh juga.

Kita bisa saja mengatakan “kebal sama omongan orang”, tapi bukan berarti semuanya baik-baik saja. Hati kita tetap terusik. Tetap ada kekhawatiran kalau omongan-omongan negatif itu akan memengaruhi yang lainnya juga. Lalu, bagaimana? Jom!

kata kata untuk haters, cyber bullying, haters online, haters di media sosial, cara menghadapi haters, kata kata bijak untuk para haters

Via: FarrahGray.com

#1. Abaikan

Di akun-akun seleb (Fesbuk, Twitter, Instagram, dsb), sering kita jumpai orang-orang yang terus meninggalkan jejak berupa komentar negatif. Sebagian besar dari seleb tersebut tak menggubrisnya. Tak dibalas, tak dihapus, tak diblokir, tak diapa-apain. Para seleb malah terus update postingan, terus diikuti followers baru, terus dapat proyek, terus kebanjiran komen, dan semakin popular.

Kita semua sudah tahu, salah-satu hal yang diincar para haters itu adalah… perhatian. Kalau terlalu menanggapi, berarti kita sudah menyerahkan apa yang mereka mau secara cuma-cuma.

#2. Enyahkan

Eh, kedengarannya kejam, ya?

Tapi aksi tegas nan brutal ini bermanfaat juga. Apalagi kalau tindakan haters itu sudah keterlaluan, dan kita sedang malas berurusan dengan hukum atau undang-undang. Banyak yang menghapus, memblokir, membuat aturan “larangan komen-komen tertentu”, atau kalau dalam blog, kita bisa memilih untuk tidak “meng-approve” komentar yang masuk.

#3. Hindari “Baper”

Ketika blog ini menerima respons negatif, naluri sih memerintahkan untuk segera melakukan konfrontasi dan pembelaan. Susah untuk tak “bawa perasaan”. Maunya membalas dengan kata-kata yang sama nyelekitnya dengan mereka. Tetapi… capek juga kalau segala sesuatu harus bawa-bawa perasaan.

Kita bisa belajar untuk tidak melibatkan emosi pribadi. Ketika datang serangan haters, introspeksi diri dan diamkan saja dulu sampai hati yang panas bisa mereda. Jangan sampai terpancing. Dengan demikian, balasan kita akan lebih rasional dan tak emosional. Kita juga akan terhindari dari yang namanya down berkepanjangan.

#4. Jangan Balas Dendam

Memberi nasihat semacam ini memang mudah, tapi penerapannya begitu susah. Tetapi kita harus berpikir ulang sebelum bertindak. Apa mereka layak mendapat perhatian, waktu, dan energi kita?

Level kiyut seseorang akan menurun kalau dia mencoba menyerang haters dengan cara yang persis haters lakukan. Berarti kebencian yang mereka tebar justeru menular pada diri kita sendiri. Misalnya dengan mencemooh, berkata-kata kasar, mengancam, atau mempermalukan balik. Padahal tanpa itu semua, haters akan rendah dengan sendirinya.

#5. Identifikasi “Apa yang Mereka Protes”

Tidak bijak juga kalau kita hanya menerima pujian, dan membuang jauh-jauh kritikan. Ketika ada yang menghujat, penting juga untuk menelusuri apa yang mereka mau, sekaligus menjadi bahan evaluasi juga. Kalau beruntung, kita bisa merangkul suaranya, dan kemungkinan besar mendapat kepercayaannya kembali. Citera atau reputasi kita juga akan tetap baik di mata yang lainnya.

Seseorang pernah bersumpah-serapah dan mengatakan kalau blog ini rasis. Sahabatku menyarankan untuk menggali si komentator itu lebih dalam, termasuk menentukan postingan mana yang menyinggung hatinya. Dia menganggap kalau komentar tersebut harus dipertimbangkan, dan daku harus lebih hati-hati lagi ke depannya. Pada dasarnya feedback buruk itu bisa terjadi karena kesalahpahaman, pengalaman, error, atau iseng.

next-page-rd-300x100-1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *