Godaan Kekinian: Menjadi Makmum Dalam Hoax atau Fitnah Berjamaah

Posted on

Godaan Kekinian: Menjadi Makmum Dalam Hoax atau Fitnah Berjamaah

fitnah, fitnah lebih kejam dari pembunuhan, bahaya fitnah, ghibah dan fitnah, fitnah dan hoax, fitnah media sosial, fitnah ulama, fitnah umat islam, fitnah kekinian
Via: Google Africa (Youtube)

Si A selingkuh, Si B korupsi, Si C mau mendirikan negara baru, Si D membunuh, Si E menjadi orang ketiga, Si F menjadi memelihara tuyul, Si G menjadi sugar baby, Si H menjadi sugar daddy, Si I memakai ijazah palsu, Si J operasi plastik, bakso Si K mengandung daging babi, dsb.

~

Fitnah… hoax… gosip…

Mereka ada di mana-mana…

Semua itu menjadi senjata lama yang terus terasah dan semakin berbahaya. Cara kerja senjata ini biasanya dengan mengungkapkan sisi lemah, sisi buruk, sisi memalukan, atau aib seseorang, lalu menyebarluaskannya. Tak ayal kalau orang dengan citera baik bisa memiliki posisi terbalik.

Ketika orang sholeh yang kena fitnah, lalu publik memercayai fitnah tersebut, maka sang orang sholeh akan menjelma jadi sosok yang dipandang paling hina di alam semesta. Cemoohan dan sumpah-serapah yang dihujankan padanya lebih deras ketimbang apresiasi atas amal-amal baiknya.

Korbannya bisa siapa saja. Mulai dari orang biasa, atau juga para pesohor yang ada. Entah yang berasal dari tokoh masyarakat, tokoh politik, sampai pemuka agama.

Sasaran utama dari serangan senjata ini adalah nama, imej, kehormatan, dan rasa percaya orang banyak terhadap dirinya. Diusahakan sampai benar-benar hancur lebur. Dampaknya muncrat ke mana. Tak hanya keluarga atau orang-orang terdekat, simpatisan dan orang lewat pun bisa sampai “berperang”.

Kenapa harus ada fitnah?

Di zaman serba ingin eksis ini, fitnah bisa terjadi karena banyak motif. Sebagaimana yang kita tahu, beberapa diantaranya yaitu:

  • Benci karena alasan tertentu
  • Enggak tahu, benci saja
  • Terbawa benci
  • Dendam
  • Iri, sampai jadi hasud
  • Mengejek
  • Hiburan belaka
  • Terlalu kepo dan over-sharing, sehingga sibuk mencari info dari mana saja dan membagikannya tanpa saringan.
  • Mengkambinghitamkan untuk menutupi pihak-pihak jahat yang sebenarnya.

Bahaya Fitnah

  • Dosa, agama apa pun tak memberi dukungan akan fitnah
  • Menumbuhkan prasangka-prasangka
  • Berpotensi membuat keadaan semakin carut-marut
  • Lebih kejam daripada pembunuhan
  • Membuat hidup tak tenang, bahkan tetap merasa bersalah setelah sadar dan bertaubat
  • Bisa menjadi penghalang doa
  • Bisa menciderai amal baik
  • Bisa menggugurkan pahala
  • Bisa dijauhkan dari perlindungan Allah Swt
  • Bisa diakrabkan pada perangkap setan
  • Bisa dipotretkan sebagai “pencuri” hak Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Menghakimi segalanya
  • Bisa dipotretkan sebagai “pencuri” hak manusia yang ingin aibnya tertutupi dan namanya tetap baik.
  • Merusak persatuan dan kesatuan

Tulisan ini memang agak emosional, terinspirasi dari fenomena fitnah atau hoax yang merajalela dan sampai meratulela.

Zaman media sosial membuat segala sesuatunya semakin menggoda. Kita semua seakan digerakkan untuk tampil narsis, terlalu berbagi, malas bergerak, enggan berinteraksi ala tempo dulu, menjadi penguntit, sampai tergabung dalam kelompok haters atau mungkin sekadar korban dalam deretan penyebar fitnah dan hoax.

 

Lebih lagi, menurut kita, semua aksi itu sulit terendus.

Ah, apakah kita bisa bersikap sebaliknya terhadap semua godaan itu?

Daku rangkai postingan ini sebagai peringatan untuk diri sendiri. Semoga bermanfaat. Demikian, Godaan Kekinian: Menjadi Makmum Dalam Hoax atau Fitnah Berjamaah. #RD


2 thoughts on “Godaan Kekinian: Menjadi Makmum Dalam Hoax atau Fitnah Berjamaah

  1. artikelnya makjleb banget niih..
    pun demikian dengan aura emosi yang begitu terasa 😀
    nice reminder, sista..
    aku pun kadang dengan mudahnya tergoda untuk ikutan narsis dan ‘terlalu berbagi’..
    tapi masih bersyukur setidaknya tetap rajin berinteraksi offline seperti jaman dulu, tidak menjadi penguntit apalagi haters, penyebar fitnah dan hoax..
    thanks for share ^^

    1. Makjleb ya, Brother? Soalnya sedang cukup menghayati. Hehe…
      Narsis dan terlalu berbagi itu jadi sindiran buat diri sendiri juga. Haha…

      Sama-sama. Terima kasih banyak, as always, Brother! ^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *