Menulis Di Tengah Distraksi atau Para Pengganggu Konsentrasi

Posted on

Menulis Di Tengah Distraksi atau Para Pengganggu Konsentrasi

menulis, distraksi menulis, distraksi adalah, fokus menulis, konsentrasi menulis, gangguan menulis, menulis di tempat sepi, menulis di tempat ramai
Via: sena.lt

Menulis itu enaknya di tempat ramai apa sepi?

Daku pribadi cenderung sangat mudah terganggu jika suasananya berisik. Obrolan orang bahkan lagu yang memiliki lirik, dan kebetulan daku hapal sedikit-sedikit, juga bisa mengusik konsentrasi. Apalagi kalau mood-nya sedang sesuai dengan lagu tersebut.

Tetapi di sisi lain, musik justeru sangat membantu. Tanpa musik, proses menulis serasa hambar. Bahkan daku cenderung memutar musik keras dengan volume lumayan juga. Hehe…

~

Pernah membayangkan, tidak? kita berada di sebuah geladak yang cukup lapang. Lalu, di hadapan kita ada pantai. Eh, ganti. Daku enggak tinggal di area pesisir, soalnya.

Katakanlah geladak atau balkon tersebut berada di lantai 2, lalu di bawahnya banyak orang lalu-lalang. Sementara kita menulis di spot yang cozy, mejanya tertata rapi, terdapat secangkir kopi, sendirian, tanpa gadget, dan suasananya senyap. Tak ada distraksi atau pengganggu sama-sekali.

Ide mengalir dengan deras. Jari-jemari kita begitu lancar mengetik segalanya. Tumpah-ruah. Ah… sayang, semua itu sekadar bayangan. Sekali pun terjadi, paling sesekali. Tak akan setiap hari.

~

Pahit tapi nyata, kita tak akan pernah lepas dari yang namanya gangguan. Dalam momen-momen tertentu, mungkin kita bisa menikmati kondisi menulis yang diharapkan. Namun di momen lain, kita tak bisa memprediksi dan mengaturnya sesuka hati.

Di sekitar tempat menulis pasti selalu ada suara, anak-anak pasti akan jahil, orang-orang rumah pasti akan menginterupsi, pasangan menuntut  perhatian, kolaborasi internet dan media sosial terus ngasih “kode”, tamu seringkali datang tanpa pemberitahuan, tetangga kadang menghelat hajatan, atau sahabat juga bisa jadi berulah lagi.

Dunia ini seringkali enggak bisa diajak kompromi. Ketika kita bilang ‘sssttt…’, bukan berarti mereka akan langsung manut. Tiba-tiba diam setrilyun bahasa, gitu. Tidak. Mereka akan tetap ramai. Penuh dengan ingar-bingar.

Kitanya saja yang harus pandai-pandai bereaksi atau menyikapinya.

~

Masalahnya, apa kita hanya menyelesaikan tulisan ketika suasana sedang sepi saja? kalau sedang “ditodong” deadline dalam kondisi hectic, piye? Apa harus ditunda dulu, gitu?

Nanti, besok, lusa, atau kapan pun itu tak menjamin akan free-distraction. Lagipula, kemungkinan besar bakal ada ide atau tugas baru yang harus dieksekusi. Semakin ditumpuk, niat-niat yang ditunda, biasanya harus ditumbalkan beberapa.

Jadi, bagaimana? Musuh yang satu ini terlalu kuat dan lincah. Kita tak bisa menangkisnya dengan mudah.

Tapi menurut Gary Korisko, yang menulis “Becoming Someone Worth Following”, kita justeru harus memanfaatkan kekuatan distraksi yang ada sebagai kekuatan. Tak perlu terus mengutuk suara-suara berisik yang kita benci. Sebaliknya, coba dengarkan dan mulai peka. Siapa tahu di sanalah sumber ide kita.

Meski kita tak berdaya menghadapi godaan yang ada, bukan berarti kita tak memiliki pilihan sama-sekali. Tetap beraksi. Buat diri kita bisa menulis dalam setiap keadaan. Beradaptasi itu awalnya sulit, tetapi nantinya akan menjadi pondasi yang kuat.

Note to myself, nih.  Hehe… semangat! Menulis Di Tengah Distraksi atau Para Pengganggu Konsentrasi. #RD


One thought on “Menulis Di Tengah Distraksi atau Para Pengganggu Konsentrasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *