11 Cara atau Tips agar Tak Merasa Menjadi Penulis Gagal dan Mengenaskan

Posted on

11 Cara atau Tips agar Tak Merasa Menjadi Penulis Gagal dan Mengenaskan

menulis, penulis, penulis gagal, merasa gagal menjadi penulis, kegagalan, kegagalan penulis
Via: goteenwriters.blogspot.com

Suatu hari ada seseorang yang berusaha menyelesaikan karya novelnya. Dia melakukan research, menulis, berpikir keras, menghabiskan banyak kopi (atau mungkin rokok), curi-curi waktu (atau fokus full), begadang, mengedit, menawarkan pada media atau penerbit dengan penuh harap, menunggu sangat lama, gemetaran menerima jawaban, lalu langsung lunglai ketika membaca penolakan disertai kritik tajam.

~

Kegagalan dan keadaan ngenes memang menyakitkan, ya?

Semua itu, jujur saja, kadang-kadang daku alami juga. Nyesek saja ketika kita memiliki passion yang kuat, mengorbankan banyak hal, bekerja keras, memohon yang terbaik, lalu kemudian hasilnya ternyata nihil. Kita kecewa dan dunia mengabaikannya. Ugh!

Di suatu momen, daku merasa tulisanku malah semakin buruk. Ditambah dengan teman yang bilang kalau penulis itu hanyalah sosok yang suka ngeles. Lalu ada dosen yang bilang kalau tulisanku bukan apa-apa dan tak akan dibaca jika daku “tak punya nama”. Teman yang lain mengompori, kalau daku ini hanyalah pengetik, bukan penulis. PENGETIK, BUKAN PENULIS.

Uh, momen itu memang nyelekit. Kalau saja larut dalam suasana baperan dan semua kata-kata buruk itu ditanam di relung hati, mungkin sampai sekarang daku tak akan menulis apa-apa lagi. Pensiun dini. Sia-sia semuanya. Tamat sudah.

Tetapi sebelum mengambil keputusan yang riskan itu, alangkah baiknya untuk memperbaiki cara pandang kita dulu. Berikut ini 10 tips atau cara agar kita tak merasa menjadi penulis gagal dan tak berguna yang sempat dibagikan oleh Laura Tong via Writetodone. Jom!

menulis, penulis, penulis gagal, penulis frustasi, penulis dan kopi, penulis minum kopi, merasa gagal menjadi penulis, kegagalan, kegagalan penulis
Via: Pinterest

#1. Jangan Menganggap Kalau Kegagalan Adalah Musuh Bebuyutan

Kegagalan tak tercipta untuk membuat kita hancur total. Ditolak penerbit, dikritik keras oleh editor, atau ditertawakan oleh pembaca tak lantas menyudahi hasrat menulis kita. Semua kegagalan itu justru merupakan sekelompok sahabat yang terlalu jujur menilai karya kita. Nah, karakter sahabat memang suka vulgar alias blak-blakan, ‘kan?

Kegagalan itu membisikkan pesan yang harus kita dengar. Bahwa ternyata harus ada yang dihapus, harus yang ditambah, harus ada yang diedit, harus ada yang didalami, harus lebih kreatif lagi, dsb.

#2. Kegagalan Bukan Kamus yang Mendefinisikan Kualitas Kita

Jangan sampai kita memiliki pikiran, kalau tak juara dalam sebuah lomba menulis berarti kita ini tak bisa menulis sama-sekali. Jangan juga kita biarkan perkataan orang semacam, tulisan kamu kayak sampah, merasuk dalam hati yang kemudian kita yakini.

Sebelum mengabaikan perkataan buruk orang lain, kita harus menghentikan pikiran negatif diri sendiri. Tak perlu meremehkan kemampuan yang dimiliki. Sikap ini selalu mensabotase proses kreatif kita. Mau mengerjakan apa-apa akan langsung terhalang oleh rasa minder dan ketidakyakinan pada diri sendiri.

#3. Kegagalan VS Kelemahan

Mungkin kita sudah bosan dengan contoh yang satu ini; tentang bayi yang belajar berjalan. Dia jatuh berkali-kali, tapi dia juga bangkit berkali-kali. Banyak proses yang ia lalui sebelum akhirnya bisa melenggang dengan ringan. Dia harus terus mencoba, latihan, mengulang-ngulang, membentuk otot kaki, dan menjaga keseimbangan.

Semua ada tahapnya. Gagal di upaya perdana tak serta-merta mengakhiri segalanya. Seyogyanya, kegagalan demi kegagalan membuat kita introspeksi diri; mungkin karena belum berpengalaman, mungkin kurang bahan bacaan, mungkin jarang latihan, dsb. Semua itu bukan ciri-ciri dari kelemahan yang tak bisa diperbaiki. Kita hanya harus beradaptasi lagi.

Keberhasilan yang indah biasanya didapat dari perjuangan yang keras.

#4. Kegagalan Bukan Utusan yang Memerintahkan Kita untuk Menyerah

Kalau J.K Rowling menyerah karena novel fantasinya ditolak beberapa penerbit, mungkin Harry Potter tak akan pernah eksis. Namun dia tak melihat kalau kegagalan itu didatangkan untuk menghentikan mimpi dan harapannya. Tak ayal kegagalan separah apa pun tak akan pernah menggoyahkan passion-nya.

Ketika didera kegagalan, menyerah adalah pilihan yang lebih mudah ketimbang dengan mempertahankannya. Namun kalau bisa lulus bertahan dan berkembang, tentu kepuasan dan kesuksesan yang direngkuh pun akan lebih akbar.

joel robison, writer surreal, writer photo manipualtion, menulis, penulis, penulis gagal, penulis frustasi, dihantui kegagalan masa lalu,
Potografer: Joel Robison

#5. Kegagalan Tak Pernah Membisikkan, Kamu Sudah Terlambat

Tak usah merasa terlalu tua untuk mulai menulis. Tak usah merasa kalau asa sudah terpuruk ketika kita begitu sibuk. Tak usah merasa kalau pintu kesuksesan sudah tertutup rapat ketika penerbit menolak. Tak usah merasa kalau dunia mendadak gelap ketika kreasi menulis tak memberikan bayaran yang manis.

Selama masih bernapas dan terus mencoba, selama itu kesempatan untuk lebih baik (dalam segala hal) masih terbuka lebar.

#6. Jangan Mau Dihantui Kegagalan Masa Lalu

Poin ini seringkali mengecoh perjalanan kita. Hanya karena kegagalan masa-lalu, kita lalu trauma untuk mencoba. Kita pun menjadi tahanan di sebuah penjara yang bernama “penyesalan”. Energi dan waktu bisa terkuras tanpa hasil positif.

Pikiran positif dan niat baik untuk mencoba bisa kita andalkan sebagai senjata move on. Sebisa mungkin kita kabur saja dari penjara itu, dan mulai merealisasikan harapan yang baru. Masa lalu sudah berlalu, semestinya tak bisa mengusik apa yang sedang dijalani hari ini.

#7. Tak Menjadi Segalanya Bagi Semua Orang Bukanlah Suatu Kegagalan

Yang satu ini menyangkut idealisme; apakah kita menulis karena kehendak sendiri atau berdasarkan keinginan pasar?

Ada momen di mana penulis harus menulis sesuatu yang tak ia kuasai atau cintai. Entah itu karena permintaan klien atau pun request pembaca. Daku kerapkali mengalaminya. Dulu sempat ingin mewujudkan apa pun yang diminta pembaca. Namun lama-lama lelah juga. Untuk itu, mohon maaf ada beberapa usulan yang tak bisa dihadirkan.

Di sisi lain, kita bisa membuka diri, dan menjadikan segala sesuatu yang baru sebagai media belajar. Itu pun kalau kita mau. Tak perlu dipaksakan.

#8. Kesuksesan Seringkali Tak Jadi “Harga Mati”

Siapa yang tak ingin… baru pertama kali menulis novel, lalu langsung diterima penerbit mayor, dan menjadi best seller sekaligus?

Tetapi realita memang senang bermain-main dulu, ya. Kita seringkali berpapasan dengan hambatan dan kegagalan. Tetapi keberhasilan atau kesuksesan yang mengesankan biasanya tak bersifat spontan. Lagipula, sukses seperti apa yang kita inginkan? Apakah yang berorientasi ke materi? Popularitas? Kepuasaan?

Sebelum terjun ke dunia menulis blog, seseorang sempat memberi peringatan. Daku sebaiknya ke luar alias berhenti saja kalau niat awalnya hanya untuk uang. Pasalnya, tak ada jalan otomatis yang serba cepat dan praktis. Doa dan usaha merupakan harga mati, tetapi hasil yang sesuai keinginan (sayangnya) bukan.

penulis muda, penulis tak pantang menyerah, passion menulis, penulis dan kopi, penulis minum kopi, merasa gagal menjadi penulis, kegagalan, kegagalan penulis, kita tak gagal sendirian
Via: rainydaysandlattes.com

#9. Kita Tak Pernah Gagal Sendirian

Di masa-masa jatuh, kita memang cenderung dramatis. Rasanya begitu hilang arah, bingung, dan merasa menanggung semuanya seorang diri. Padahal posisi seperti kita sudah atau sedang dialami orang-orang lainnya, namun dengan versi yang berbeda-beda.

Kita tak sendirian. Banyak pemula, bahkan mungkin yang sudah sukses sebelumnya, harus menelan kegagalan. Tetapi yang berjiwa pemenang tetap bangkit dan mengevaluasi apa yang keliru.

#10. Kegagalan Bukan Akhir dari Segalanya

Kedengaran basi, namun memang benar, kegagalan itu bukan babak final. Justru kegagaan itu menjadi awal dari semua serangkaian cerita perjuangan kita. Tetap menulis, tetap belajar.

#11. Rayakan Kegagalan

Kegagalan sudah lama “mengerjai” kita, ngebully, bikin kita murung, dan hampir menjebak pada keputusan untuk berhenti saja. Tak ayal kalau pun mulai meragukan diri sendiri; kita ini bisa nulis enggak, sih? Well, itulah misi dari sebuah ujian. Keyakinan kita sendiri jadi goyah.

Wajar kalau kita berpikir demikian. Namun kita bisa mengubah reaksi, yakni dengan merayakan kegagalan. Setiap momen buruk itu pasti hadir dengan oleh-oleh berupa pengalaman dan pelajaran. Semuanya menjadi guru yang terus memapah jalan kita. Sementara menyerah bukanlah pilihan utamanya.

Kata orang, menulis adalah perjuangan yang sangat sepi. Tak sembarang orang bisa bertahan. Jadi, mari terus belajar dan menulis? Demikian, 11 Cara Tips agar Tak Merasa Menjadi Penulis Gagal dan Mengenaskan. #RD


4 thoughts on “11 Cara atau Tips agar Tak Merasa Menjadi Penulis Gagal dan Mengenaskan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *