9 Cara Mengeluarkan atau Menghilangkan Racun Media Sosial

9 Cara Mengeluarkan atau Menghilangkan Racun Media Sosial

media sosial, dampak media sosial, racun media sosial, artikel tentang media sosial, cara berhenti main sosmed, cara mengatasi kecanduan media sosial, cara mengatasi pengaruh buruk media sosial, penyebab kecanduan jejaring sosial, cara mengatasi kecanduan internet

Via: betterworkingworld.ey.com

Dampak media sosial itu bisa berupa madu, bisa juga malah menjadi racun dan candu.

Meski cukup kontroversial, namun fakta menyebutkan kalau pengguna media sosial itu semakin banyak. Orang bisa telat makan atau beribadah, bahkan lupa untuk ke luar, hanya karena dunianya teralihkan oleh media sosial. Mayoritas hanya sekadar bermain-main, namun ada juga yang pekerjaannya memang berhubungan dengan media sosial.

Meski demikian, kita tak bisa menampik keberadaan toxic alias racun yang terkandung dalam media sosial. Untuk itu, semestinya kita “melakukan sesuatu” demi mengeluarkan atau menghilangkan racun tersebut. Nah, kebetulan seorang penulis sekaligus entrepreneur bernama Holly Chavez sudah pernah membahasnya. Apa saja? Jom!

#1. Jangan Menjadikan Media Sosial sebagai Media Pembanding

Orang-orang berlomba untuk sharing pencapaian-pencapaian terbaiknya. Dan tanpa sadar, kita sering larut dalam aneka postingan di media sosial. Sehingga kita pun terbawa arus untuk membandingkan hidup diri sendiri dengan teman-teman yang ada di media sosial. Hal ini tampak childish, namun ternyata memiliki efek serius bagi kepercayaan diri sendiri.

Misalnya Si X upload poto uang segepok, lalu kita merasa jadi orang paling tidak punya. Si Y upload poto sama keluarganya, lalu kita merasa jadi orang paling sebatang kara. Si Z upload poto di objek wisata ngehits, lalu kita merasa jadi orang paling kudet. Dsb.

Jika demikian, kita perlu taking a break dulu sama media sosial. Ada baiknya untuk menepikan segala kecemburuan yang tak perlu. Tak semua yang dibagikan di media sosial adalah potret nyata dari real life-nya.

#2. Tetap Lindungi Privasi di Tengah Godaan Over Sharing ini

Ketika orang berduyun-duyun memposting ini-itu, dari hal yang paling memorable sampai sesuatu tak penting sekalipun, ada hasrat untuk ikut-ikutan sharing juga. Apalagi aplikasi satu dengan yang lainnya masih saling berkaitan, dan membuka peluang bagi kita untuk membagikannya di berbagai media. Bahkan kita bisa mendapatkan data dengan mudah terkait lokasi dan nomor pribadi seseorang.

Ada baiknya untuk menahan diri. Apalagi kalau kita tak ingin membocorkan terlalu banyak informasi dan privasi atau kerahasiaan pribadi.

#3. Tak Perlu Merasa Sedang Bersaing dengan Pengguna Medsos Lain

Mungkin kita enggak ngeh, tetapi medsos rupanya sudah membentuk sisi yang kompetitif dalam diri kita. Sosmed menjadi ajang untuk “mencari perhatian”. Semua orang jadi peserta, semua orang juga jadi penonton dan jurinya.

Barangsiapa yang menggaet reaksi lebih ramai, dialah yang kerap disanjung dan dianggap kece. Dia dinilai sebagai sosok paling juara ketika bisa mengundang banyak likes, retweets, loves, atau komentar. Kecenderungan ini membuat kita “tega” memposting sesuatu yang “viral salah arah”. Demi respons ramai dari akun lain ada yang sampai memamerkan aset tubuh, menyebarkan berita mengejutkan nan hoax, membeberkan rahasia yang mestinya ditutup rapat, dsb.

#4. Jangan Sampai Media Sosial Menyetir Mood Keseharian

Semakin lama menghabiskan waktu dengan media sosial, semakin beragam juga emosi yang kita rasakan. Di satu waktu kita terbahak-bahak karena melihat postingan super lucu. Beberapa menit kemudian bibir kita cemberut lantaran jealous sama postingan keren seseorang. Lalu kita menggebrak barang yang ada di sekitar ketika ada akun yang tak suka atau mengkritik postingan kita. Begitu seterusnya. Mood kita terombang-ambing begitu saja.

Ada yang sampai merasa depresi, cemas, stress, dsb, hanya karena pengaruh dari media sosial. Kalau kita menyadari hal ini, sebaiknya menjauh dulu. Tak masalah untuk “hilang” dari lingkaran media sosial. Syukur-syukur kalau kita memiliki kesibukan yang bisa mengalihkan energi dan perhatian.

fomo, fomo adalah, media sosial, dampak media sosial, racun media sosial, artikel tentang media sosial, cara berhenti main sosmed, cara mengatasi kecanduan media sosial, cara mengatasi pengaruh buruk media sosial, cara mengatasi kecanduan internet, bahaya kecanduan internet

Via: entrepreneur.com

#5. Perangi Sindrom Fear of Missing Out alias FOMO

Media sosial bisa begitu adiktif atau ketagihan. Pernyataan ini tampaknya bukan sesuatu yang “lebay”. Faktanya, para pengguna medsos memang tak bisa terpisah lama-lama dengan medsosnya.

Bagi mereka, hotspot WiFi gratis adalah anugerah dan kuota habis atau sinyal buruk adalah musibah. Ada kecemasan tersendiri ketika tak update di media sosial. Takut ketinggalan, gitu. Kita juga mengenalnya sebagai FOMO.

Gejala tersebut bisa berdampak serius. Dan, sebaiknya kita segera meminimalisir efek tersebut. Tak perlu langsung “pensiun” sebagai pengguna medsos. Minimal kita mulai mengatur durasi penggunaannya. Tak perlu merasa bersalah jika tak update berita tentang sesuatu yang sedang viral atau ramai dibicarakan di media sosial. Enggak dosa, kok.

#6. Menjalin Hubungan yang Lebih Baik dengan Dunia Nyata

Ada orang yang memiliki “jiwa sosial tinggi” di media sosial. Mereka begitu mudah bergaul di dunia maya. Bahkan beberapa dari mereka juga begitu terkenal di sana. Tetapi begitu menilik real life-nya, ternyata dia bukan siapa-siapa… apakah mereka itu adalah kita?

Daku serasa sedang membicarakan diri sendiri dan beberapa introvert lainnya. Mohon maaf. Meski pahit, namun kita harus jujur, kalau seseorang yang “ceria” di media sosial tak menjamin keceriaan di dunia nyatanya. Bahkan bisa jadi dia tengah dilanda kesepian dan kehampaan.

Kita tak bisa menetap di media sosial. Coba atur jadwal untuk ke luar dan menemui orang-orang dengan wujud nyata. Bisa dengan kopdar bersama teman dunia maya, kumpul bersama sahabat, menghadiri reuni, menonton konser musisi favorit, pergi ke kedai kopi, mengunjungi saudara, dsb.

#7. Nikmati Apa yang Sedang Dijalani

Ketika sedang kumpul keluarga, temu-kangen teman sekolah, liburan, menjenguk, bahkan kencan pun, sebagian dari kita memilih untuk mengambil poto atau merekam video untuk dibagikan di media sosial. Lucunya, kadang kita menulis caption seolah-olah tengah menikmati momen tersebut. Padahal jelas-jelas kita sedang online, dan diam-diam lebih memilih menanggapi respons teman-teman dumay ketimbang memerdulikan yang ada di sekitar.

Tak ada salahnya untuk mendokumentasikan suatu momen, tetapi jangan dulu berurusan dengan media sosial. Nanti saja membanjiri beranda atau timeline-nya. Kita fokus dulu pada momen yang tengah dijalani agar semuanya jadi berkesan. Bagaimana pun, apa yang sedang dilalui itu adalah calon kenangan.

#8. Hilangkan Obsesi akan Masa Lalu Indah di Media Sosial

Memori indah yang sudah selesai dan diprediksi tak akan terjadi lagi selalu menjelma menjadi kenangan yang bittersweet. Kita akan terus menengok ke belakang, terpaku pada masa-masa indah yang sempat di-share ke media sosial. Jika sesekali mungkin tak apa. Namun kalau terkurung terus, efeknya bisa negatif.

Langkah tegas perlu kita ambil agar upaya untuk move on jadi lebih mudah dan lancar. Masih terlalu banyak hal yang berhak menerima perhatian kita, termasuk hati dan kebahagiaan sendiri.

#9. Lebih Lihai Mengatur Waktu

Sebelum kenal dan akrab dengan media, kita masih bisa meluangkan waktu untuk berolahraga, belajar ke pengajian, menamatkan buku kesukaan, silaturahim ke teman-teman, dsb. Tetapi kemudian medsos datang dan tanpa sadar sudah menyita waktu kita. Aktivitas fisiknya bukan lagi jogging atau beres-beres rumah, melainkan scrolling feeds yang ada di media sosial.

Padahal kalau dibanding-bandingkan, kita justru terperangkap pada kesia-siaan dan melupakan kegiatan-kegiatan lama yang justru lebih berguna. Setelah offline, kita baru sadar sudah lama tak olahraga, rumah kotor, cucian numpuk, dsb.

Di zaman sekarang, rasanya susah juga kalau orang mendadak putus hubungan dengan internet atau media sosial. Tetapi paling tidak, kita bisa berusaha untuk tidak terlalu larut. Atau, kita bisa berubah haluan dan memanfaatkan akses internet pada hal-hal yang lebih bermanfaat. Misalnya membaca berita online yang terpercaya, berlangganan konten blog pilihan, kursus online, menonton video-video edukatif, dsb.

Internet terlalu kaya dan luas untuk sekadar dipakai medsos-an. Demikian, 9 Cara Mengeluarkan atau Menghilangkan Racun Media Sosial. #RD

8 Comments
  1. Hastira
    • deeann
  2. Amrudly
    • deeann
  3. Ribka Larasati
    • deeann
  4. andrie kristianto
    • deeann