Resensi Kumpulan Cerpen “Apa yang Terjadi Adalah Sebuah Kisah”

Resensi Kumpulan Cerpen “Apa yang Terjadi Adalah Sebuah Kisah”

resensi buku, resensi buku kumcer, resensi kumpulan cerpen, resensi kumcer, Resensi Kumpulan Cerpen Apa yang Terjadi Adalah Sebuah Kisah, resensi Apa yang Terjadi Adalah Sebuah Kisah, resensi buku bamby cahyadi

Via: bambydanceritanya.blogspot.com

Kita adalah Kisah yang Penuh Ketidakpastian dan Kemungkinan

Judul               : Apa yang Terjadi Adalah Sebuah Kisah

Jenis                : Fiksi/ Kumpulan Cerpen

Penulis             : Bamby Cahyadi

Proofreader     : Dang Aji

Desain Buku   : Wirasatriaji

Penerbit           : UNSA Press

Cetakan           : I, Desember 2016

Tbal/ Halaman Buku: vi + 141 hlm.; 13 cm x 19 cm

ISBN               : 978-602-743-934-4

“Apa yang Terjadi Adalah Sebuah Kisah” adalah kumpulan cerpen keempat milik Bamby Cahyadi yang terbit melalui penerbit mayor. Bamby Cahyadi sendiri merupakan cerpenis unik kelahiran Manado, 05 Maret 1970. Disebut unik, karena beliau tidak memiliki latar-belakang yang berkaitan dengan sastra. Beliau justru memiliki gelar sebagai bachelor of hamburgerology dari Universitas Hamburger McDonald’s di Sydney, Australia. Daku baru tahu ada gelar semacam ini, lho!

Namun kecintaan akan membaca dan kepekaan akan segala sesuatu di sekitarnya menempa Bamby Cahyadi sampai menjadi seorang penulis cerpen yang andal.

Tiga kumpulan cerpen alias kumcer beliau yang lain yaitu Tangan untuk Utik (Koekoesan, 2009), Kisah Muram di Restoran Cepat Saji (Gramedia Pustaka Utama, 2012), dan Perempuan Lolipop (Gramedia Pustaka Utama, 2014). Untuk yang keempat ini, UNSA Press menerima dan menerbitkan ke-13 judul cerpennya. Adapun judul-judul dalam kumcer ini yakni sebagai berikut:

  • Gemerincing Hati
  • Pertaruhan Besar Seorang Suami
  • Perempuan Pencerita Kejayaan
  • Sepenggal Kisah di Antara Prolog dan Epilog
  • Surat yang Tak Pernah Sampai
  • Ketika Saya Mengundurkan Diri
  • Curhat Dua Generasi
  • Pitekantropus Erektus
  • Acta Est Fabula
  • Filosofi Ayah
  • Saya, Ibu, dan Kisah Pembunuh
  • Jalan Pulang
  • Tidak Mudah Menjadi Hantu

Judul bukunya, Apa yang Terjadi Adalah Sebuah Kisah, diambil dari cerpen Acta Est Fabula (halaman 69-77). Rupanya frasa tersebut berasal dari bahasa latin yang berarti “Apa yang Terjadi Adalah Sebuah Kisah”. Cerpen ini juga yang sukses membuatku tepuk jidat. Bikin terlena, pelanga-pelongo, tegang, lalu menganga dan membelalakkan mata karena sudah menjadi “korban penipuan”. Haha… sungguh manipulatif!

Cerpen-cerpen lainnya tak kalah menarik. Semuanya memiliki tema dan sisi-sisi unggulan. “Sepenggal Kisah di Antara Prolog dan Epilog” (halaman 29-38), misalnya, yang meniupkan ruh pada sebuah kisah cinta usang sehingga bangkit kembali di tengah kecemasan akan kematian. Lalu “Saya, Ibu, dan Kisah Pembunuh” (halaman 87-96)  yang manis, miris, dan tragis. Sebab  isinya berupa pengakuan cinta seorang anak terhadap ibunya. Saking cintanya, dia sampai menghabisinya! Belum lagi dengan “Jalan Pulang” (halaman 97-103), yang awalnya seperti tak berpotensi mendatangkan kegundahan. Sampai kemudian di tengah jalan, ceritanya mengalirkan ketegangan, kemarahan, dan rasa kasihan.

resensi buku, resensi buku kumcer, resensi kumpulan cerpen, resensi kumcer, Resensi Kumpulan Cerpen Apa yang Terjadi Adalah Sebuah Kisah, resensi Apa yang Terjadi Adalah Sebuah Kisah,kutipan cerpen, tanda tangan penulis, catatan penulis, kutipan bamby cahyadi

Catatan dan tanda-tangan Pak Bamby Cahyadi – sudah daku upload di fesbuk pribadi, Dee Ann Rose

Kalau semakin terpancing, bisa-bisa daku bocorkan semua isi cerpennya. 😀 Intinya, penulis sukses mengemas penggalan-penggalan kisah – yang rupanya bersifat tak pasti dan mengundang segala kemungkinan. Sesuatu yang terkesan biasa pun jadi terasa sensasi fantastisnya. Tak ayal kalau pembaca bisa sering-sering terkesiap ketika menikmati karya-karya di dalamnya.

Proses membaca kumcer ini terbilang cepat, sebab kita tak perlu meminta “perpanjangan waktu” untuk mencerna kata-kata yang njelimet. Proses menikmatinya begitu mengalir dan mulus. Bamby Cahyadi sendiri mengakui kalau dia kerap diberi “label” sebagai penulis yang terlalu lugas, miskin diksi, dan kekurangan metafora. Namun menurutku, materi kritikan itu justru bisa menjadi senjata ampuh.

Karyanya bisa dinikmati oleh orang-orang awam, yang tak perlu khawatir dahinya kusut untuk bisa paham. Atau oleh penulis-penulis lain, yang tak perlu khawatir hatinya menciut untuk bisa sebanding. Namun ada beberapa cerita yang terkesan vulgar dan kinky, sehingga kurang cocok disantap oleh pembaca di bawah umur.

Layout bukunya begitu simpel, hanya ada tambahan ilustrasi di setiap judul cerpen. Namun kesederhanaan itu malah menambah khusyuk. Tak akan ada distraksi ketika melumat ceritanya. Hanya saja font color cokelat pada judul buku sepertinya kurang cocok dengan background buku yang biru keputih-putihan.

Sedikit keberatan tersebut tak lantas mengurangi pesona kumcer ini. Karya Bamby Cahyadi ini tetap jadi rekomendasi, referensi, dan inspirasi. Apalagi ditambah bonus besar yang diberi tajuk “Saya dan Cerita-cerita Tentang Saya”. Sungguh terlalu disayangkan untuk dilewatkan! Demikian, Resensi Kumpulan Cerpen “Apa yang Terjadi Adalah Sebuah Kisah”. #RD