Ulang Tahun Ke-2: 18 Pelajaran yang Didapat Sebagai Blogger Pemula

Ulang Tahun Ke-2: 18 Pelajaran yang Didapat Sebagai Blogger Pemula

menulis, penulis, pelajaran dari blog, menjadi blogger, blogger pemula, penulis pemula, gambar komputer dan kopi, penulis dan kopi

Via: pixabay.com

Terjun ke dunia blogging, apalagi sebagai pemula sepertiku, memang harus siap menerima risikonya. Salah-satunya yaitu belajar terus-menerus. Kalau lebih peka, maka guru yang memberi pelajaran ternyata sangat banyak. Ilmu melimpah di mana-mana.

Pokoknya daku sering dibuat melongo di jagat internet ini. 😀

Sebelumnya, daku sudah menceritakan secara detail bagaimana perjalanan rosediana.net sampai sudah beroperasi selama dua tahun. Barangkali ingin membaca, semuanya daku ungkap dalam postingan setahun lalu: Selamat Ulang Tahun yang Pertama Blog Rosediana.net; Selamat Menjalankan Apa yang Sudah Dimulai.

Sejauh ini banyak sekali hal-hal yang masih sedang diselami. Berikut ini top 18 pelajaran yang benar-benar daku camkan. Jom!

#1. Judul itu Penting!

Konten tulisan itu sangat penting, namun ia akan kehilangan pembacanya jika kita tak lihai merangkai judul. Lebih lagi kalau kita belum punya “nama besar”, di mana calon pembacanya sudah memiliki kepercayaan kalau tulisannya bakal bagus.

#2. Tulisan Juga Butuh Teman

Selain menyajikan kata-kata, sangat dianjurkan kalau kita menyisipkan gambar atau video. Dengan demikian, postingannya tak akan bikin bosan. Lagipula kita memerlukannya sebagai thumbnails dalam media sosial. Tetapi jangan lupa untuk memberikan kredit jika sisipannya kita “cubit” dari orang.

#3. Kita Tidak Bisa Memuaskan Semua Pembaca

Nasib menulis di blog “gado-gado”, sehingga daku pun tak fokus pada sebuah tema. Untuk itu, kini rosediana.net lebih mempersempit ruang gerak. Tidak semua hal harus dibahas, dan tidak semua permintaan harus dikabulkan. Kecuali kalau request itu memang bisa dipertimbangkan. Daku mohon maaf, tetapi kita memang tak bisa membuat pembaca suka SEMUANYA.

#4. Ketika Membahas Topik Kontroversial

Kontroversi berpeluang menjadi viral dan “ramai”. Misalnya kontroversi memilih calon pemimpin beda agama, kontroversi Mimi Peri, kontroversi WhatsApp Status/ Story/ Snapchat, dsb.

Tetapi tema ini bisa jadi boomerang juga. Kalau kita membahas sesuatu yang mengundang pro-kontra, apakah kita akan pro? atau kontra? atau, kita memilih untuk memancing pembaca agar berpendapat? Sebaiknya kita mempelajari atau cari referensi dulu, biar pendapatnya kuat dan berisi.

blogger, blogger perempuan, tulisan di blog, bahasa tidak terlalu formal, penulis pemula, blogger pemula, blogger tersenyum

Via: blogzest.com

#5. Postingan Tidak Terlalu Formal

Daku tak tahu apakah selama ini tulisanku “ringan” atau “berat”. Daku hanya berusaha menulis seolah-olah tengah bercakap-cakap saja. Yang penting istilah asing atau gaul harus diberi tanda. Dan selama ini, daku juga masih terus mempelajari kata baku dan tidak baku yang seringkali tertukar.

#6. Berjiwa Sosial (Di Internet dan Media Sosial)

Sepertinya kita tak bisa mengandalkan Google  atau mesin pencarian saja agar orang-orang mampir ke website sendiri. Kita sebaiknya “bersosialisasi”. Entah itu bergabung dengan komunitas, mempromosikan postingan di semua akun media sosial, membuat fanspage sendiri, blog walking ke blog orang lain, dsb.

#7. Bikin Daftar dan Menyebutkan Angka Bisa Jadi Postingan Andalan

Misal ada dua judul tulisan; Selebgram Mantap Jiwa dan Sakit Jiwa sama 24 Selebgram Mantap Jiwa dan Sakit Jiwa, biasanya pembaca akan tertarik membaca yang kedua (ada angkanya). Kalau memang ada poinnya, daku tetap memakai cara ini. Termasuk postingan sekarang ini! 😀 Tetapi sesekali sih boleh-boleh saja memosting tulisan yang tidak berformat top X, ya.

#8. Komentar Membludak

Ketika menjalankan sebuah blog, komentar-komentar asli dan palsu datang menyerbu. Untuk yang spam, mentorku bilang kita harus rajin-rajin membasminya. Kalau untuk yang asli, sebaiknya direspons semua. Daku ingin sekali melakukan hal itu, apalagi pada komentar yang mengandung unsur pertanyaan atau protes. Tetapi ternyata sulit juga.

Lebih lagi ketika pembaca meninggalkan jejaknya di postingan-postingan lama, yang kadang sudah daku lupa isinya apa. Untuk itu, mentor menyarankan agar kolom komentar di postingan lama diblok saja. Pembaca bisa memberi komentarnya di postingan yang masih segar. Kalau memang sangat urgent, pembaca masih bisa menghubungi via email.

#9. Komentar Negatif

Kita tak bisa memaksa semua pembaca untuk suka, sepakat, dan memuji semua tulisan yang ada. Daku pun sudah cukup kebal akan komentar pembaca yang tidak setuju, bahkan ada yang menyatakan kebenciannya.

Semua komentar itu hadir karena berbagai faktor. Bisa jadi orangnya tidak membaca seluruh tulisan dari awal sampai akhir sehingga salah-paham, atau isi tulisan kita menyinggungnya, atau memang ingin memberi kritik membangun, dsb.

4 Comments
  1. Nadha
    • deeann
  2. Mukhsin Pro
    • deeann