5 Cara Orang Introvert Ketika Harus Beradaptasi dengan Lingkungan Baru

5 Cara Orang Introvert Ketika Harus Beradaptasi dengan Lingkungan Baru

tips beradaptasi dengan lingkungan, cara orang introvert beradaptasi dengan lingkungan baru, cara introvert menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, menyesuaikan diri dengan lingkungan, menyesuaikan diri dengan keadaan sekolah, menyesuaikan diri dengan tempat dan keadaan,

By: Stocksy via Quietrev

Lingkungan baru, tempat kerja baru, sekolah baru, partner baru, dan segala sesuatu yang baru biasanya membawa perubahan.

Perubahan… sesuatu yang tak bisa ditawar. Tak terhindarkan. Dan, perubahan mendorong kita untuk beradaptasi atau menyesuaikan diri. Aaargh!

Seorang ekstrovert saja kadang merasakan kecemasan ketika harus berhadapan dengan sesuatu atau seseorang yang lain dari biasanya. Lebih lagi bagi seorang introvert, yang mayoritas harus berjuang lebih panjang untuk bisa bersahabat dengan lingkungan baru. Kita juga tak memiliki opsi untuk menolaknya. Dengan kata lain, mau tak mau kita harus menerimanya.

Keadaan ini sendiri menawarkan tiga kemungkinan; bisa lebih baik, sama saja, atau malah lebih buruk dari lingkungan sebelumnya. Semuanya tak lepas juga dari sikap kita ketika menghadapinya. Kebetulan daku sudah memosting: 8 Tips Agar Cepat Beradaptasi dengan Lingkungan Baru.

Namun berikut ini beberapa tips atau cara, yang semoga bisa membantu seorang introvert ketika harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Jom!

#1. Tarik Napas Panjang Sepuas-puasnya

Tips yang cukup basi dan klise, tapi juga manjur. Sadar atau tidak, ketika memasuki lingkungan baru, kita pasti sempat “suudzon” terhadap keadaan yang serba asing. Kita mungkin akan membayangkan dan berpikir terlalu jauh. Oh daku pasti akan sering dibully, teman-temanku sepertinya akan jahat, tempat ini kemungkinan enggak akan bikin betah, dsb.

Ketika semuanya jadi kacau karena “ulah kita sendiri”, buatlah jeda. Kita bisa menarik napas panjang sepuas-puasnya. Rasakan bagaimana pikiran akan melakukan reboot atau restart sendiri. Rasakan bagaimana hati akan mulai legowo dan menerima kenyataan yang ada. Kita akan mulai mencernanya. Meski tak bisa sekaligus, namun kita akan lebih percaya diri untuk mengikuti proses ini.

#2. Fokus Pada Sisi Positifnya

Lingkungan baru memang mengundang banyak rasa. Ya takut, minder, khawatir, namun juga excited dan alive. Tak sabar rasanya menjalani kehidupan yang (diharapkan) bisa lebih seru, lebih baik, berkesan, dan bermakna dari sebelumnya.

Misalnya kita memang masih merasa kikuk dengan teman-teman di tempat kerja baru, tetapi tidak apa-apa, toh kita sudah berjuang keras untuk bisa diterima di tempat tersebut. Hal positif lainnya, kita juga bersyukur bisa mendapat pekerjaan dan penghasilan. Paling tidak, kita bisa menghidupi diri sendiri, bahkan membantu keluarga juga.

#3. Move On

Wajar kalau kita membanding-bandingkan sekolah lama vs sekolah baru, kosan lama vs kosan baru, teman sebangku lama vs teman sebangku baru, dsb. Namun bukan hal baik jika kita terus terkubur dalam masa lalu. Ya, kita harus move on. Bukan sekadar bergerak atau pindah secara fisik, namun juga memantapkan hati untuk lebih baik dan lebih bahagia.

Move on itu tak sebatas menghapus kenangan. Kita tak perlu berpura-pura kalau memori manis atau pahit itu tak pernah terjadi. Biarkan saja. Semua itu sudah menjadi bagian dari hidup. Hanya saja, tak perlu menyimpulkan yang tidak-tidak dulu pada segala sesuatu yang baru. Bagaimana pun kita belum mengeksplor dan menjalani semuanya.

#4. Eksplorasi

Banyak yang mengaku kalau lingkungan baru itu menimbulkan perasaan kurang nyaman di awal. Tetapi lama-kelamaan kita akan bisa beradaptasi dengan sendirinya. Hanya saja, waktu seseorang untuk berbaur ke dalam lingkungan baru itu beragam. Ada yang cepat, banyak juga yang butuh waktu lama.

Tak perlu dipaksa-paksa.

Pernahkah kamu bertemu dengan seseorang yang kesan pertamanya jutek dan “dingin”, tetapi setelah bergaul lama, kamu malah bisa akrab dengannya? Bahkan dia begitu gokil atau somplak. Hal tersebut baru dirasakan setelah kamu mengeksplor banyak hal dengannya. Mulai dari basa-basi, ngobrol tentang hal-hal umum, curhat tentang sesuatu yang privat, menghabiskan waktu bersama, dsb.

Atau ketika SD, pernahkah kamu ingin cepat-cepat SMP? Setelah di SMP, ingin cepat SMA? Setelah di SMA, ingin cepat kuliah? Tetapi di saat yang sama, kamu juga ketar-ketir. Bagaimana pun, kamu enggak akan lepas dari berbagai sangkaan. Bagaimana kalau jumlah siswanya sangat banyak? Bagaimana kalau pelajarannya terlalu memusingkan? Bagaimana kalau ekskul-ekskulnya menyeramkan? Bagaimana kalau biayanya enggak terjangkau? Bagaimana kalau guru-gurunya lebih galak? Bagaimana kalau memalukan? Dsb.

Semua pikiran-pikiran “hasil ciptaan sendiri” itu pun kadang pudar dengan sendirinya setelah kita masuk dan mengeksplor langsung. Entah dengan belajar di kelas, aktif dalam organisasi, berpartisipasi dalam kegiatan ekstrakulikuler, berinteraksi dengan warga sekolah, dsb.

#5. Tak Perlu Menjadi “Ekstrovert Setting-an”

Jika dibandingkan, pribadi ekstrovert lebih mudah bergaul dan berbaur, ketimbang dengan introvert. Namun kecenderungan tak harus membuat orang introvert panik, sampai-sampai merekayasa keadaan dengan berpura-pura sebagai orang ekstrovert.

Bagaimana pun, pura-pura itu menyiksa dan melelahkan. Apa yang ditampilkan di luar sangat tak sesuai dengan apa yang ada di dalam. Sebaiknya, bebaskan saja… merangkul kepribadian diri sendiri.

Introversi bukan sebuah aib yang perlu ditambal. Kita justru bisa menilai siapa orang yang menerima dan memahami kepribadian kita apa adanya. Maka orang itulah yang patut menerima apresiasi dan kepercayaan dari kita.

~

Tips atau cara-cara di atas memang sekadar tulisan. Tentu saja tak semua orang akan mudah menerapkannya. Namun kalau kita bersedia melakoninya, maka prosesnya juga akan semakin ringan. Semoga. 5 Cara Orang Introvert Ketika Harus Beradaptasi dengan Lingkungan Baru. #RD