Kita Hanya Bertugas Untuk Meminta Maaf, Bukan untuk Mendapatkannya

Posted on

Kita Hanya Bertugas Untuk Meminta Maaf, Bukan untuk Mendapatkannya

minta maaf, kata kata minta maaf kepada teman, meminta maaf tapi tidak dimaafkan, meminta maaf bukan berarti salah, kata kata minta maaf buat pacar yang tersakiti, kata kata minta maaf buat pacar yang kecewa, kata kata minta maaf karena telah mengecewakan
Via: rolereboot.org

Katakan, kesalahan-kesalahan apa yang tak layak mendapatkan maaf?

Kadang, ada kesalahan yang menurut kita sederhana, tapi ternyata orang sulit memaafkannya. Ada juga kesalahan yang menurut kita sangat fatal, namun orang malah memaafkannya secara cuma-cuma. Ada juga kesalahan yang seperti sumbu, seakan mengompori emosi yang terus berapi-api.

~

Masalahnya, kita sulit – bahkan tidak mungkin – untuk terus menjadi sosok sempurna selama 24 jam. Daya ingat kita bisa rusak, tindakan bisa semboro, ucapan bisa keceplosan, emosi bisa labil, dan parahnya, kesalahpahaman pun bisa datang. Dan itu semua ada di luar kuasa kita.

Ketika merespons dengan diam, kita malah dianggap tak peduli. Ketika merespons dengan bicara, malah dianggap terlalu cerewet. Atau ketika mencoba bijak sekali pun, selalu ada kata-kata yang dipelintir.

Yang ujung-ujungnya seperti dihunuskan pada diri kita sendiri.

Kita memang menjadi pihak yang salah, tapi dalam hati, kita juga marah karena terus disudutkan. Tak dibiarkan berkutik. Tak diberi kesempatan untuk meringankan beban.

Namun sebagai orang salah yang tahu diri, kita pun meminta maaf. Kita berharap segala ketegangan yang ada menjadi reda. Hubungan apapun bisa rusak dan retak, namun kita tak berharap hubungan itu hancur musnah.

Lagipula, kita sudah berbuat kesalahan, bukan “akan berbuat kesalahan”. Semuanya sudah terjadi. Meminta maaf dan menebusnya dengan aneka cara merupakan opsi terbaik yang tersedia.

Tetapi bagaimana jika niat baik kita malah diciderai?

Permohonan maaf kita seperti tak diacuhkan, atau seperti antara dimaafkan dan tidak, atau malah tak diterima sama-sekali.

Baca Juga:

Ketika Kata-kata “Aku Minta Maaf” Mendapat Penolakan

~

Di satu sisi, kita begitu lega karena berhasil merobohkan ego diri yang seperti raksasa. Kita sampai rela datang atau menghubungi duluan untuk mengutarakan maaf dan penyesalan. Namun di sisi lain, kita begitu terpukul lantaran permintaan maaf seolah-olah tak berhak dikabulkan.

Kita pun larut dalam perasaan bersalah. Bagai pendosa yang mendapat hukuman final, yang panjang dan menyesakkan.

Segala usaha seperti sia-sia.

Namun ketika mau melampiaskan amarah, kita takut malah menjadi bahan bakar di tengah api yang sedang besar. Bagaimana pun, kata-kata yang diucapkan atau diketikkan itu mengandung listrik, dan bisa menyetrum hati orang sampai kejang-kejang. Dan, orang tersebut akan memahatnya dalam-dalam.

Kita berusaha menghindari petaka itu.

Dan kalau kita sudah mampu menggapai tahap tersebut – bisa menahan amarah – setidaknya kita masih memenangkan permainan. Memang,kita tak memeroleh maaf, tapi kita bisa mengendalikan diri. Itu juga prestasi.

Selanjutnya, kita harus belajar melepas. Ikhlas.

Jeda itu hanya sementara.

Badai itu tak tinggal selamanya.

Hidup harus berlanjut.

Move on…

Setidaknya itulah pilihan yang paling bijak. Kita tak bisa terus-terusan mengiba di tempat. Jika segala upaya sudah dikerahkan, berarti tugas kita sudah selesai.

Kuasa sudah lepas dari tangan.

Biarkan.

Terlalu banyak hal lain yang perlu diperhatikan. Kita Hanya Bertugas Untuk Meminta Maaf, Bukan untuk Mendapatkannya. #RD


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *