6 Sikap dan Respons Utama Ketika Ada yang Menghina, Merendahkan, atau Menjatuhkan Kita

6 Sikap dan Respons Utama Ketika Ada yang Menghina, Merendahkan, atau Menjatuhkan Kita

ketika ada yang menghina, ketika ada yang menghina kita, cara menghadapi orang yang menghina fisik kita, cara membalas ejekan orang lain, cara menghadapi hinaan fisik, cara menghadapi hinaan orang, cara menghadapi hinaan dan cacian, kaka kata sabar menghadapi hinaan orang

Via: emaze.com

Pernahkah kamu merasa begitu terhina? Masih ingatkah momen perih itu?

Hinaan memiliki banyak wujud. Ada yang menghina secara fisik seperti noyorin kepala, meludahi, menginjak, dsb. Ada yang menghina lewat gesture seperti mendengus, mendecak, memutarkan bola mata, pandangan dingin atau sinis, dsb. Ada yang memilih hinaan lewat kata-kata, baik secara langsung atau pun berbentuk sindiran. Ada juga yang merendahkan lewat tulisan atau via media sosial.

Mereka mencaci fisik atau penampilan, nasib atau keberuntungan, otak atau kepandaian, dsb. Jangankan orang biasa, para selebritis atau pejabat saja tak luput dari cacian. Yang cantik dibilang plastik, yang kaya dibilang (maaf) harta haram, yang berkedudukan tinggi dibilang hasil nyuap, dsb.

Ah zaman sekarang… mereka tinggal bikin akun abal-abal dengan data yang dimanipulasi di sana-sini. Lalu mereka bisa leluasa menyebar kebencian pada orang-orang yang memang sangat tidak disukai. Postingan kasar atau menjijikkan bisa ke luar tanpa saringan.

Mereka tertawa puas, puas sekali. Sampai berair mata. Sampai tak ingat ada pihak yang justru terisak dan menderita karena ulah mereka.

Apa pun itu, kita sepakat kalau hinaan bisa memberi dampak yang cukup hebat bagi seseorang.

Lalu kalau kamu sendiri yang berada di posisi itu, bagaimana? Berikut ini ada beberapa kemungkinan sikap atau respons kamu. Jom!

#1. Kamu Marah

“Jangan sok ngasih saran deh sama orang yang lebih tua. Kamu itu baru hidup berapa lama, sih?”

Kalau di dunia kartun, mungkin tanduk kemarahanmu sudah menonjol dari kepala. Sebenarnya wajar, ya. Kalau ada yang menghina, terus sempat merasa tersinggung, berarti kamu normal. Tak ada yang janggal.

Tetapi respons ini ternyata menjadi sikap paling lemah. Karena… kita sudah menelan hinaan itu bulat-bulat, kita secara tidak langsung mengakui isi hinaan itu, dan kita terperangkap pengaruhnya. Jadinya kita sangat kecewa, sangat sakit, dan kalau bisa ingin balas dendam.

#2. Kamu Hina Balik

“Dasar kumis lele!”

“Dasar duri mujair!”

Cara ini kayaknya cukup seru, ya? Tetapi rupanya sikap ini bukanlah senjata yang terbaik. Aksi ini justru membuat kamu setara dengan orang yang menghujankan hinaan.

Kecuali kalau kamu mempraktikannya dengan kawan-kawan dekat, yang sudah “memasabodohi” apa pun makianmu. Saling mengolok-olok diantara sahabat atau orang terdekat biasanya justru terpakai untuk menambah keakraban dan kegembiraan.

#3. Kamu Menerima Cemoohan Itu

Sekilas, sikap yang satu ini begitu payah. Tetapi ternyata yang satu ini bisa jadi tanda kekuatan kamu. Ketika makian itu muncul, kamu langsung introspeksi diri; apakah hinaan itu emang bener?, siapa itu yang menghina?, dan kenapa mereka sampai merendahkan begitu?

Kalau mereka bilang, ‘dasar enggak peka! Punya hati tapi udah karatan!’, kamu telisik saja faktanya. Kalau memang seperti itu adanya, sikap untuk menerima bisa jadi sangat bermanfaat.

Kalau mereka bilang, ‘batok kelapa saja bisa dipecah, lha batok kepalamu keras-keras amat, sih! susah bener dikasih masukan!’, kamu bisa melihat siapa yang berbicara. Jika mereka adalah sosok yang tahu kamu dan kamu menghormatinya, tentu kata-kata yang menyakitkan hati itu harus direnungkan.

Kalau mereka bilang, ‘Enggak bersahabat amat, enggak pantas dapetin satu sahabat pun di dunia ini’, kamu lihat dulu siapa mereka. Kalau hanya sekadar orang yang belum terlalu kenal, atau dari anak kecil, atau dari orang gila, tentu hinaan itu bisa diabaikan saja. Apalagi kalau memang tidak sesuai fakta.

#4. Kamu Malah Bercanda

Candaan bisa menjadi “cara ringan” untuk menurunkan tensi tinggi dari penghinaan. Candaan juga bisa dijadikan serangan halus yang menurunkan kualitas ejekan seseorang. Misalnya ketika ditampar seseorang, kamu merespons, ‘hmm… tamparannya sakit. Syukur deh berarti kamu mampu beli makan’. Atau ketika ada yang memberi hujatan karena outfitmu kurang matching, kamu bilang, ‘terima kasih atas perhatian dan sarannya ya, fansku’.

#5. Kamu Menghadapinya dengan Caramu

Ketika hinaan-hinaan awal kita cuekkan, lalu justru mereka semakin keenakan dan ketagihan menghina, apakah kita akan mengambil langkah tegas dengan melawan?

Ada masanya bagi kamu untuk tak tinggal diam. Mereka mungkin menganggapmu pengecut yang bahkan tidak bisa membela diri sendiri. Untuk itu mereka terus saja merendahkan. Di saat itu, kita bisa menghadapinya. Bukan dengan cara yang sama seperti mereka.

Beberapa pesohor yang jengah karena hinaan keterlaluan dari hatersnya, banyak yang memilih jalur hukum. Ada yang memilih mendamprat langsung para penghina itu. Ada juga yang merasa terhina oleh tuduhan atau fitnah, kemudian muncul ke publik untuk mengklarifikasi. Kamu juga bisa memilih sikap dengan meluruskan segalanya.

#6. Kamu Mengabaikan Hinaan Itu

Benar-benar tidak peduli terhadap makian orang menjadi langkah yang paling mudah, dan paling bikin kamu kuat. Mereka boleh saja berteriak, pakai toa, nulis dalam bentuk CAPS LOCK, dsb, untuk menghinamu. Tetapi selama kamu tidak terpengaruh atau bereaksi, hinaan itu akan gugur dengan sendirinya.

Kamu enggak bisa mengontrol mulut seseorang, dan apa pun yang menyembul dari mulut orang itu. Tetapi kamu masih bisa memegang kendali penuh atas reaksi dirimu sendiri.

~~~

Dihina, direndahkan, dijatuhkan, atau dipermalukan itu sangat sakit. Obatnya enggak dijual di apotik-apotik. Masa penyembuhannya juga lama, bahkan tak akan pernah sembuh total sama-sekali.

Kalau kita tidak mau merasakan pengalaman sesakit dan semenderita itu, tentu kita juga tak mau orang lain merasakannya juga. 6 Sikap dan Respons Utama Ketika Ada yang Menghina, Merendahkan, atau Menjatuhkan Kita. #RD