8 Pelajaran Dari Seorang Anak Laki-Laki Cikal, Tak Semuanya Menyulitkan

8 Pelajaran Dari Seorang Anak Laki-Laki Cikal, Tak Semuanya Menyulitkan

anak pertama, anak pertama laki-laki, anak cikal, anak cikal laki-laki, anak sulung, anak sulung laki-laki, pelajaran dari anak cikal, pelajaran dari anak pertama, pelajaran dari anak sulung

Via: huffingtonpost.com

“Do you have a brother or sister?” (apakah kamu punya saudara laki-laki atau perempuan?)

“I have two brothers.” (daku punya dua saudara laki-laki)

“Are you the youngest one?” (apakah kamu anak bungsunya?)

“No. I’m the oldest.” (bukan, daku anak sulung)

“Oh… Are you happy to have two brothers?” (apa kamu bahagia punya dua adik laki-laki?)

“Yes, they can be my friends too.” (iya, mereka bisa menjadi temanku juga)

“Ok… do you want to have a sister?” (oh… apa kamu pengin punya adik perempuan?)

“No.” (enggak)

“Why?” (kenapa?)

“(smiling while shaking his head)” (tersenyum sambil menggelengkan kepalanya)

~

Percakapanku dengan adik didik itu berlanjut pada motivasinya untuk mempelajari Bahasa Inggris. Rupanya dia berniat untuk bekerja ke luar negeri, sampai rela cuti lebih dahulu dari kuliahnya yang masih semester dua. Daku menanyakan kenapa sampai kepikiran begitu, dan dia mengaku melakukannya demi sang ibu.

Oh, penurut sekali…

Daku bilang, ‘kamu baik sekali, kamu bisa menjadi andalan keluarga’, dan ketika itu, daku lihat senyumnya memang berbeda. Ada rasa bangga, harapan, beban, ketakutan, kebingungan. Campuran. Ah, seberat itukah beban yang harus dipikul anak cikal?

Dari seorang laki-laki cikal ini, daku mencomot 8 pelajaran. Jom!

#1. Setidaknya, Kamu Mah Serba Pertama

Di sinilah sisi asyiknya. Kamu jadi anak pertama. Pakaian dan mainanmu serba baru. Begitu usiamu bertambah, pakaian dan mainan itu ikut di-upgrade. Barang-barangmu juga akan segera berpindah tangan ke adikmu. Mungkin kamu cuma menyeringai jahat di belakang.

#2. Kamu Menjadi Pengasuh Otodidak

Kalau orang tuamu pekerja, mungkin mereka akan menyuruh orang lain untuk mengurus kamu yang masih kecil. Tetapi ketika adikmu lahir, mereka tak lagi memanggil orang, sebab ada kamu yang “bisa dipekerjakan”. Gratis pulak! Kamu sendiri terjebak di dalam perasaan sebal sekaligus senang. Jauh dalam palung hati, ada keharuan dan keseruan tersendiri ketika bisa mengasuh sang adik, ikut jajan, atau mengerjai mereka sebagai hiburan.

#3. Kamu “Disudutkan” Menjadi Role Model

Sosok yang kamu teladani adalah orang tua. Lalu nanti ditambah dengan guru mengaji, guru sekolah, aktor favorit, penyanyi kesukaan, dsb. Di sisi lain, adikmu malah meneladanimu. Orang tua kamu pun memang mengarahkan skema seperti itu. Ketika bertikai, kamu yang akan disalahkan dan dinasihati berulang-ulang agar menjadi contoh. Kamu pun mulai merasa tengah menanggung beban. Drama hidup pun dimulai.

#4. Kesalahpahaman Sangat Sering Menunjukkan Kebrengsekannya

Bicara tentang mengawasi adik, mata dan kepekaanmu berfungsi sangat tajam. Begitu adikmu hendak mengambil daun sirih nenek, kamu segera menghalaunya. Adikmu kemudian menangis, dan orang tuamu memarahimu karena sudah membuat sang adik sedih. Kamu pun memilih cuek ketika adikmu terlihat mengunyah daun sirih nenek. Pas sang adik keselek, orang tuamu lagi-lagi marah karena kamu tak mencegahnya. Ah, begitulah…

#5. Apa yang Kamu Nikmati Akan Dimintai Pertanggung-jawabannya

Kamu masih normal ketika berharap kalau orang tuanya akan membelikan kendaraan pribadi, atau menyekolahkanmu ke kampus dan ke jurusan impian. Tetapi semua anugerah itu tak didapatkan “secara cuma-cuma”. Di balik kunci motor yang diserahkan orang tua, ada tanggung-jawab untuk mengantar adikmu kemana pun ia pergi. Di balik keleluasaan untuk sekolah, ada tanggung-jawab untuk segera bekerja dan giliran membiayai sang adik kelak.

#6. Kamu Sering Merasa Begitu Kolot

Usiamu sendiri kadang tak begitu dihiraukan. Tetapi begitu sadar kalau adikmu terus tumbuh, kamu pun jadi merasa sudah tua. Ketika adikmu bisik-bisik dengan temannya dan kamu kepo, adikmu bilang, ‘ini urusan anak muda, Kak! shooo…’.

#7. Kamu Protektif

Ya, adikmu memang sering menggiringmu pada masalah. Mereka suka mengadu, mengeluh ini-itu, mencuri perhatian orang tua, dan menjadi bebanmu. Tetapi kamu tak bisa menampik perasaan sayang yang tumbuh secara natural. Untuk itu, kamu tak akan rela melihatnya kehujanan, sakit, dibully orang, dsb. Kamu akan berupaya apa saja untuk membuat mereka jadi lebih baikan.

#8. Kamu hebat!

Tak perlu ada piala untuk mengapresiasi peranan besarmu sebagai anak sulung. Orang tua dan adikmu begitu berterima kasih untuk segala pengorbanan dan kesabaranmu. Kamu mungkin tak menyadari kehebatanmu sendiri, yang kamu dapat dengan mengalir begitu saja.

Tak ada bimbingan atau pendidikan khusus, tetapi kamu memang menjelma menjadi sosok yang mandiri, kalem, bijaksana, sabar, penyayang, dan bisa diandalkan. 10 Pelajaran Dari Seorang Anak Laki-Laki Cikal, Tak Semuanya Menyulitkan. #RD