Ekspektasi Sih Hidup Bahagia Selamanya, Realitanya Hidup Enggak Selamanya Bahagia

Ekspektasi Sih Hidup Bahagia Selamanya, Realitanya Hidup Enggak Selamanya Bahagia

hidup bahagia selamanya, hidup tidak selamanya bahagia, hidup bahagia selamanya itu tidak ada, hidup bahagia selamanya itu tak akan pernah terjadi, ekspektasi dan realita kehidupan

Via: mandeephooda.wordpress.com

Apa selama ini kita sudah dibohongi?

“…finally they lived happily ever after” atau “…akhirnya mereka hidup bahagia selama-lamanya” ternyata tak akan pernah ada.

~

Kalimat penutup di atas kerap kita baca dalam cerita-cerita dongeng. Misalnya tentang seorang gadis yang menderita karena disiksa ibu tiri atau dibully saudara tirinya. Hatinya hancur. Air matanya membasahi bumi. Lalu dia bertemu dengan pangeran yang mencintainya. Kemudian mereka menikah dan hidup bahagia selamanya.

Atau tentang seorang laki-laki yang sering jadi bahan ejekan kawan-kawannya, sebab dia memiliki cita-cita yang terlampau tinggi. Tetapi pandangan rendah itu kemudian memantik semangatnya. Dia berjuang dan berdoa dengan kerasnya, sampai akhirnya bisa merengkuh impiannya sendiri. Dia pun sukses dan hidup bahagia selamanya.

Ah…

Cerita-cerita seperti di atas kadang menjadi penghibur tersendiri bagi kita, yang sedang menjalani “ujian hidup”. Kalau segala sesuatu akan indah pada waktunya. Kalau kita pun sedang dalam proses ‘bersakit-sakit dahulu’ dan pasti ‘akan senang-senang kemudian’. Pokoknya kita percaya kalau masa-masa sulit itu akan usai. Yang ada selanjutnya adalah kebahagiaan tak bertepi. Pasti. Tak akan pernah ada kegalauan lagi.

Dan, guess what, kenyataan memang ajaib; tidak punya tangan, tetapi bisa menampar. Biar kita sadar.

Pasangan yang tadinya romantis dan bikin iri banyak hati, tiba-tiba sering cek-cok dan bahkan mengakhiri hubungan dengan perceraian. Ada orang sukses nan populer yang dielu-elukan publik, tiba-tiba terjebak perangkap narkoba sampai nama harumnya tercoreng. Ada juga orang soleh yang membuat adem lingkungan, tiba-tiba berubah drastis pasca kematian orang tersayangnya. Dan masih banyak lagi, fenomena orang-orang yang seharusnya bisa hidup bahagia selamanya.

Padahal dia sudah menikah dengan orang pilihannya, padahal dia berhasil meraih cita-citanya, padahal hubungan dia dan keluarganya begitu harmonis, padahal dia sudah mampu beli rumah sendiri, padahal dia memiliki status sosial tinggi di masyarakat, padahal dia sudah jadi selebritis, padahal dan padahal lainnya. Semuanya tak menjadi jaminan kalau “hidup bahagia selamanya” akan terus digenggam.

harapan dan realita kehidupan, ekspektasi dan realita hidup, hidup bahagia selamanya, hidup tidak selamanya bahagia, hidup bahagia selamanya itu tidak ada, hidup bahagia selamanya itu tak akan pernah terjadi, hidup itu bukan dongeng

Via: desjen.com

Lalu, bagaimana?

Kita harus saling mengingatkan kalau kesempurnaan, termasuk bahagia yang sempurna dan kekal selamanya, itu tak akan pernah ada… di dunia. Apa yang ada bersifat fana atau bisa rusak. Kulit kencang bisa keriput, api cinta yang membara bisa melempem, kebahagiaan level atas bisa menurun, dsb.

Jika kita bisa merangkul kebahagiaan dari cinta pasangan, kita juga harus berani merangkul rasa sakit dari ketidaksempurnaan sang pasangan. Jika kita bisa merangkul kebahagiaan dari bayaran pekerjaan, kita juga harus berani merangkul rasa capek dan stress dari tugas-tugas pekerjaan itu. Jika kita bisa merangkul kebahagiaan dari orang tua dan sanak saudara, kita juga harus berani merangkul kesalahpahaman dan kemungkinan konflik yang ada.

Intinya, kita mesti sadar kalau segala sesuatunya memiliki cacat, yang sayangnya harus tetap diterima dan disyukuri.

Ya, hidup bukan cerita dongeng. Cinta yang ada tak selamanya manis, romantis, dan menggairahkan. Ada kalanya cinta tersebut begitu dramatis dan menjengahkan. Materi melimpah tak selamanya memudahkan dan dibanggakan. Ada kalanya materi itu justru menjadi penguji nyata yang sangat kejam.

Tak ada manusia yang tak berharap kebahagiaan permanen. Tetapi setelah dijalani, kita pun sadar kalau semua itu mustahil tergapai.

Kabar bahagianya; Kalau kita memiliki sandaran Maha Kuat di belakang, segala sesuatunya pasti akan terasa ringan. Serahkan suka dan duka padaNya. Dia Maha Kuasa, Maha Tahu yang terbaik bagi ciptaanNya.

Kalau masih bertahan pasca badai, kemungkinan semuanya akan berangsur-angsur membaik. Hanya saja, pastikan untuk terus melibatkan Tuhan YME di tiap suasana. Ekspektasi Sih Hidup Bahagia Selamanya, Realitanya Hidup Enggak Selamanya Bahagia. #RD