Perbedaan Dasar Antara Penulis Baik dan Penulis Buruk, Ternyata Tidak Terletak Pada Bakat!

Perbedaan Dasar Antara Penulis Baik dan Penulis Buruk, Ternyata Tidak Terletak Pada Bakat!

penulis yang baik, penulis yang baik adalah, ciri penulis yang baik, penulis yang buruk, cara menjadi penulis online, tips menjadi penulis pemula, menjadi seorang penulis blog

Via: Pixabay

Penulis baik itu adalah kamu yang bertalenta, sudah punya buku sendiri, statusnya best seller, populer, dan karyanya diangkat ke layar lebar.

Alamak!

Kalau kriteria penulis yang baik itu seperti yang tertera di atas, berarti selama ini…

Ah sudahlah, maaf sudah langsung bercanda.

Ceritanya daku “nyasar” ke tulisannya Jeff Goins, yang punya Goinswriter. Dia membeberkan perbedaan dasar antara penulis yang baik dan penulis yang buruk. Ternyata perbedaan intinya tidak terletak pada bakat dan prestasi. Nah.

Apa saja, gitu? Jom!

Rupanya penulis baik itu…

  • Lebih suka melatih skill menulis dengan cara praktik langsung. Kamu sadar kalau untuk menghasilkan tulisan yang berkualitas itu tidak tinggal bersin. Perlu diasah.
  • Rendah hati; sekali pun sudah dikenal berbakat, tetapi kamu tetap menulis dengan profesional. Tidak asal-asalan.
  • Meluangkan waktu yang leluasa untuk menulis, merangkai-rangkai, mengedit, dan merevisi. Segalanya dikerjakan semaksimal mungkin sampai dirasa baik dan benar. Tidak grasa-grusu asal jadi.
  • Menerima kritik dengan legowo, bahkan berterima kasih kalau feedback-nya membangun
  • Kamu menulis karya sendiri, kamu juga bersedia membaca karya orang lain. Kedua aktivitas itu tekun dilakoni dan dinikmati. Malah tanpa sadar, tulisan kamu akan berangsur-angsur membaik.
  • Tidak menganggap kalau draft perdana pasti buruk, dan yang selanjutnya pasti cantik jelita. Kamu percaya kalau komitmen kuat terhadap suatu karya bisa membawa pengaruh positif.
  • Tidak menulis hanya karena inspirasi sesaat, lalu terus mengeluh dan berhenti menulis karena merasa kehabisan ide.
  • Bagi kamu, menulis tak sebatas job atau pekerjaan yang bisa mengundang uang. Menulis adalah panggilan, yang membuat kamu merasa tak utuh jika tak memenuhinya.
  • Memercayai kegiatan menulis itu sendiri. Kalau menulis sesuatu yang baik memang mendatangkan kebaikan. Tak harus berupa materi. Tetapi bisa menjadi kepuasan hati atau bahkan terapi tersendiri.
  • Tidak perfeksionis; enggak sempurna itu enggak apa-apa. Wajar, bukan masalah. Yang bermasalah itu kalau kamu sudah kepikiran untuk berhenti atau mundur menulis.
  • Paham menempatkan tulisan, tahu tulisan mana yang patut dirahasiakan dan mana yang bisa dibagikan. Kamu menyebarkan karya agar bisa bermanfaat bagi dunia. Kamu siap menerima pujian, siap juga menerima aneka hujatan.
  • Tekun dan terkesan ngotot

Kalau penulis buruk itu…

  • Menganggap diri sudah keren atau setara dengan penulis kece lainnya, sehingga tak perlu belajar dari apa atau siapa lagi. Hasil karya tulisnya juga cenderung njelimet, dengan tujuan agar pembaca menganggapnya hebat.
  • Menganggap kalau karya tulisnya sudah bagus dan sudah berpretasi, jadi tak perlu yang namanya editing atau revisi.
  • Selalu beralibi untuk menunda pekerjaan atau tidak melatih kemampuan. Inkonsisten.
  • Mereka terbuka pada pujian dan sanjungan, tetapi tertutup pada segala kritik atau masukan
  • Sebenarnya selalu dihantui ketakutan kalau karyanya itu akan buruk, dibenci pembaca, dan mendatangkan kegagalan
  • Langsung putus asa ketika menyadari kalau kemampuan menulisnya ternyata masih jelek
  • Merasa enggan dan gengsi untuk menjadi “buruh nulis” dengan fee awal yang rendah, bahkan gratisan. Kalau sudah mandiri, mereka semakin sulit menyeimbangkan segalanya dengan pekerjaannya sendiri.
  • Menyalahkan “nasib buruk sebagai penulis” pada bakat saja. Sehingga mereka jadi malas berkarya. Padahal kemampuan menulisnya masih berpeluang untuk lebih baik kalau memang mau berikhtiar.
  • Tidak menganggap kalau memiliki passion untuk menulis itu adalah anugerah, yang jarang ditemukan pada mayoritas penghuni bumi.
  • Enggak keukeuh untuk konsisten menulis sambil belajar, sambil mendengar masukan, sambil berubah ke arah yang lebih baik dan profesional.

Ah, senangnya sudah diingatkan…

Tak perlu menjudge siapa-siapa. Kita bisa mengevaluasi diri sendiri. Apakah kita memiliki ciri-ciri yang mengarah ke kategori penulis baik, atau justru penulis buruk?

Yang jelas Pak Goins merekomendasikan kita untuk menjadi berbeda. Di saat yang lain ogah-ogahan menulis, kita pilih untuk istikomah menulis. Di saat yang lain memanfaatkan waktu luang untuk berpesta, shopping, bertamasya, dll, kita pilih untuk belajar dan praktik menulis. Tetap gigih.

Kalau merasa kurang berbakat dan tidak seberuntung penulis lain, setidaknya kita memiliki keistimewaan berupa niat baik, kemauan keras, dan tekad untuk berusaha.

Kesimpulannya, penulis baik dan buruk tak dihakimi lewat skill dan penjualan saja, melainkan juga oleh kegigihan dan konsistensi.

Kalau penulis buruk memilih mengundurkan diri dari dunia menulis, maka penulis baik tetap bersikeras untuk bertahan. Keep going menulis. Perbedaan Dasar Antara Penulis Baik dan Penulis Buruk, Ternyata Tidak Terletak Pada Bakat! #RD

2 Comments
  1. Fi ananda
    • deeann