9 Fakta Brutal Tentang Kehidupan

Posted on

9 Fakta Brutal Tentang Kehidupan, yang Mudah Baper Sebaiknya Tidak Membaca

hidup kehidupan, fakta tentang kehidupan, baper, fakta brutal tentang kehidupan

Hidup adalah…

Well, isinya pasti sangat beragam. Ada yang bilang kalau hidup itu panggung sandiwara, hidup itu arena permainan, hidup itu kejam, hidup itu ajaib, hidup itu perjuangan, hidup itu indah, hidup itu aneh, dll. Hampir semua hal ditawarkan oleh hidup, kecuali keabadian.

Dan, hidup memang penuh kejutan. Pelik dan penuh konflik.

Ada yang menganggap kalau hidup adalah perkara gampang dan harus dibawa santai. Tetapi diam-diam, orangnya juga merasa khawatir kalau hidup bisa menjelma menjadi sesuatu yang super tega. Hanya saja, dia terus-terusan mengelak dari kenyataan.

Jangan-jangan kita tertimpa musibah, atau ditinggal orang-orang tersayang dalam keadaan tak siap. Atau jangan-jangan, kita “dijemput” paksa dalam keadaan sedang betah-betahnya.

Sisi pahit hidup memang fakta. Kita tak bisa menghindar selamanya. Kita tak bisa terus berpura-pura kalau semua akan baik-baik saja, akan sempurna-sempurna saja. Kita juga harus mau belajar untuk menerima sunnatullah atau hukum alam yang tak bisa ditunda dan dibantah.

Apa saja? Jom!

#1. Semua Orang akan Meninggal

Tubuh dan napas kita serta manusia lainnya hanya sementara. Akan ada giliran untuk mati. Kamu tak pernah tahu kapan bertemu terakhir dengan orang tua, kerabat, pasangan, anak, sahabat, dll. Bahkan kamu juga tak tahu pasti kapan, di mana, dan sedang apa kamu ketika meninggal nanti. Ada yang disertai ciri atau aba-aba, banyak juga yang pergi mendadak.

Kurangnya kesadaran akan kematian sering membuat kamu lalai, yang kemudian berujung penyesalan. Kamu terlalu percaya diri kalau hari esok sudah pasti akan datang, terlalu percaya diri kalau kamu akan selalu berkesempatan mencium tangan orang tua secara langsung, terlalu percaya diri kalau kamu akan tertawa bersama sahabat selamanya, dan terlalu percaya diri kalau kematian itu tidak sedang membuntuti.

#2. Kita Bisa Memberi Makna (Kalau Lebih Peka)

Apa selama ini kehidupan dan eksistensi kita sudah memiliki makna?

Agar memiliki makna hidup, kita tak wajib memberikan seluruh harta untuk korban kelaparan, tak harus menjadi relawan di negara-negara konflik, tak wajib menjadi presiden di tanah air sendiri, dsb. Orang awam atau yang biasa-biasa saja juga bisa menjadi superhero. Mustahil Tuhan YME menciptakan makhluk-Nya hanya karena iseng atau sedang bosan belaka. Pasti ada tujuannya, tak akan sia-sia.

Masalahnya, kita seringkali terlalu fokus pada hal-hal yang tidak dimiliki. Sebaliknya, kita jadi cuek terhadap hal-hal yang sudah ada di genggaman. Sikap ini yang kerap membuat hidup jadi tertekan dan hampa. Kita terus-terusan merasa tak berguna, tak berpengaruh, dan tak bermakna.

#3. Pasangan yang Sempurna itu Tak akan Pernah Ada

Pasangan yang tampan/cantik, kaya-raya, dari keturunan baik, soleh/solehah, romantis, pengertian, tak pernah marah, dan sempurna itu TIDAK tersedia di muka bumi ini. Apa yang dicontohkan sinetron atau film-film hanya fiksi belaka. Bukan realita.

Kesadaran ini membuat kita lebih bijak dalam menerima kenyataan di samping ekspektasi yang didambakan. Hubungan apa pun, dan dengan siapa pun, memerlukan usaha bersama. Sama-sama saling menerima, sama-sama saling memaklumi, sama-sama saling melengkapi, dan sama-sama saling ada di segala suasana.

#4. Hidup adalah Permainan

Pernahkah mendengar ada seseorang yang dinyatakan sebagai pemenang, padahal orang itu tak pernah mengikuti permainan?

Hidup seumpama sebuah permainan. Kita menjadi pemain, ada Dzat yang memberikan peraturan permainan, kita menjalankan peraturan-Nya, kita melanggar peraturan, kita  bisa terkena hukuman, dan kita juga bisa naik level atau derajat. Kalau takut bermain, boro-boro kemenangan, kita tentu tak akan pernah mendapatkan apa pun.

#5. Segala Sesuatunya Akan Berakhir

Hidup sendiri bersifat sementara. Semua ada rusaknya, ada akhirnya. Kita mencecap masa muda selama beberapa tahun, lalu masa itu akan berakhir dan kita menjadi tua renta. Demikian juga dengan orang-orang sebelumnya. Mereka sudah pernah menjadi bayi, lalu remaja, lalu dewasa, lalu menjadi orang tua, lalu bahagia, lalu sedih, lalu sukses, lalu gagal, sampai kemudian meninggal dan dimakamkan.

Kita dan mereka sama saja.

Bedanya… ada yang apatis alias enggak peduli sama sekali, ada yang depresi atau terlalu cemas, dan ada juga yang bersyukur dan termotivasi. Pasti tidak spesial jika segala sesuatunya bersifat kekal. Intinya, kita harus mengapresiasi segala hal, terutama waktu.

#6. Perlu Peka dan Lebay Juga Terhadap Hal-Hal Kecil

Ketika merenungi kalau segalanya akan fana dan tiada, kita cenderung akan semakin belajar untuk menghargai segala hal. Tak jarang kita juga akan lebay dan merasa puitis. Misalnya ketika meluangkan waktu untuk mengapresiasi embun pagi, menghirup aroma pasca hujan, memerhatikan awan yang berarak, meresapi air yang mengalir di tenggorokan, merenungkan penciptaan sayap serangga yang mungil, merenungkan fungsi kedipan mata, dll.

Rasanya begitu magic!

Kita langsung sadar betapa kerdilnya diri ini, kita langsung bersyukur karena sudah diberi kenikmatan tak terhingga, tetapi kita juga langsung ciut karena sering terlena dan lupa bersyukur.

#7. Optimis, Tetapi Realistis

Banyak yang bilang agar kita memelankan ambisi untuk menjadi yang terdepan dalam hidup. Sebab, hidup adalah perlombaan dalam hal kebaikan, bukan dalam hal pencapaian.

Banyak yang bilang agar kita mengendorkan keseriusan untuk menjalani kehidupan. Sebab, hidup hanyalah permainan belaka. Semua akan indah pada waktunya.

Meski demikian, kita tak seharusnya berpangku tangan dan terlalu berharap pada keajaiban. Ada syarat dan ketentuannya. Sebelum menjadi blogger yang sukses, seseorang harus mengerahkan ikhtiar terbaiknya. Harus menulis, mengedit, memosting, mempromosikan, mengasah kualitas, memiliki pengetahuan tentang blogging dan menerapkannya.

Dan tak perlu khawatir, semua jerih payah akan selalu berbalas. Bentuknya bisa apa pun.

#8. Bukan Mengeluh, Tetapi Mencari Solusi

Bagaimana reaksi kita ketika menghadapi seseorang yang gemar berkeluh kesah?

Mayoritas dari kita pasti akan merasa sebal, risih, frustasi, dan tidak suka. Tetapi sebelum jauh pada orang lain, kita bisa introspeksi diri sendiri. Apakah selama ini kita juga lebih sering mengeluh ketimbang dengan memecahkan masalah?

Padahal keluhan sendiri jarang mengubah keadaan. Malah, keluhan selalu menjadi penghalang dan membuat keadaan semakin runcing. Kita pun menjelma menjadi sosok negatif.

#9. Harus Bangga Menjadi Budak Tuhan YME

Hamba, budak, abdi, atau sahaya kedengarannya begitu hina. Tetapi itulah peranan kita sebenarnya, khususnya pada Tuhan YME. Dialah yang mengamanahkan tubuh sehat, akal, udara, air, pekerjaan, kendaraan, tempat tinggal, popularitas, dan nikmat lain yang tak akan pernah bisa dihitung atau disebutkan.

Kalau kita tak mensyukurinya dan malah sombong karena semuanya, mudah saja bagi Allah Swt untuk mencabut semua itu. Celaka! Celaka juga jika kita menghamba pada sesuatu selain Allah Swt. Sampai-sampai kita begitu tunduk pada nafsu, materi, dan hamba lainnya.

Posisi kita sama semua di hadapan-Nya. Demikian juga dengan tugas kita, yakni untuk beribadah pada-Nya. Semua perbuatan dilakukan hanya karena-Nya. Kita berdoa dan berharap hanya pada-Nya, kita mencintai dan membenci hanya karena-Nya, kita solat hanya untuk-Nya, dlsb. Jika semua itu bisa ditunaikan, niscaya kita memiliki status sebagai hamba yang mulia di hadapan-Nya. Aamiin…

~

Hidup di dunia kadang membuat kita terbahak, kadang juga membuat kita terisak. Tak sempurna, sebab dunia memang bukan syurga.

Apa pun itu, tetap jaga keyakinan pada-Nya. Dia yang Maha Tahu skenario terbaik untuk semua hamba-Nya. 9 Fakta Brutal Tentang Kehidupan. #RD


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *