Ritual Belanja Besar-Besaran Jelang Hari Lebaran, Hati-hati Jebakan ini!

Posted on

Ritual Belanja Besar-Besaran Jelang Hari Lebaran, Hati-hati Jebakan ini!

jelang akhir ramadan, fenomena bulan puasa, belanja untuk lebaran, belanja berlebihan, konsumerisme jelangk akhir ramadan
Image: dpshots.com

Di akhir Bulan Ramadan ini, ada yang sudah nengok keadaan pasar, supermarket, atau mall?

Wuih… ikut senang, ya, orang-orang memadati pusat perbelanjaan. Tandanya sedang punya banyak uang, ‘kan? Mereka juga mengerubungi hampir semua barang. Ya baju, makanan, aksesoris, ponsel, alat make up, keperluan rumah tangga, dll.

Jalanan macet, motor berserakan, spot buat parkir susah, tarif angkutan umum naik (walau sekarang-sekarang tidak begitu padat), dan orang-orang berjalan ke sana-kemari mencari apa-apa yang dibutuhkan… atau mungkin diinginkannya.

Tetapi ngeri juga. Sebab, kita sudah terbawa arus konsumerisme, alias membeli atau mengonsumsi sesuatu secara berlebihan. Apa pun, barang yang tidak jadi kebutuhan pokok pun, dibeli. Kita begitu larut dalam euforia pasar yang menawarkan aneka barang, angka-angka diskon yang besar, ketersediaan uang (walau hasil pinjaman), dan orang yang berlomba-lomba menebus produk incarannya, seakan-akan takut kehabisan.

Jebakan di mana-mana. Beberapa diantaranya yaitu:

#1. Kebingungan

Katanya momen akhir ramadan itu harus ditangisi, kok malah seperti dirayakan? Katanya lebaran itu tak wajib membeli baju baru atau menghias rumah agar bisa dipuji-puji tamu, kok orang justru berbondong-bondong di pertokoan? Katanya yang harus diperbanyak itu sedekah dan zakat mal, malah bermewah-mewah dan nongkrongin mall?

Kebingungan akan persepsi di masa-masa akhir Ramadan ini memang bikin frustasi. Jauh dalam hati kita sadar, namun tetap saja dilakukan. Seringkali kita juga terjebak untuk membeli barang yang diinginkan, ketimbang barang yang dibutuhkan. Kita juga jadi nekad untuk menghabiskan semua persediaan uang. Mau menjual barang atau minjem, kek, yang penting ada dan bisa sama kayak orang-orang lainnya.

#2. Merasa Tertuntut

Melihat orang-orang pergi berbelanja, kita seperti tergerak untuk ikut belanja juga. Kalau tidak, rasanya tidak lengkap. Kita seakan begitu tertinggal. Padahal perasaan tertuntut ini tak harus dituruti.

#3. Godaan Iklan

Berbagai media massa menyerukan pada masyarakat untuk membeli produk mitra kerja mereka. Godaannya banyak, termasuk angka diskon atau potongan yang besar. Kadang kita langsung terhipnotis begitu saja.

#4. Anak-anak

Berbelanja bersama anak memang seru. Tetapi patut diwaspadai jika mereka adalah tipikal yang biasa dituruti, dan suka mengancam dengan tangisan atau scene memalukan di depan publik jika keinginannya tidak dituruti. Budget bisa bengkak, sebab seringkali mereka minta dibelikan barang-barang yang sebenarnya tidak begitu diperlukan.

#5. Ah, Cuma Setahun Sekali!

Sebenarnya kita mengaku kalau pola boros di akhir bulan puasa itu memang keliru. Tetapi kadang suka ada pembelaan sendiri, kalau fenomena ini tak terjadi tiap hari. Kita hanya akan shopping besar-besaran setahun sekali saja, jadi tak apa. Tetapi kita jadi lupa kalau ada pilihan yang lebih baik daripada menghambur-hamburkan duit. Entah itu sedekah, menabung, atau berbelanja sekadarnya saja.

Well, hati-hati, ya. Ritual Belanja Besar-Besaran Jelang Hari Lebaran, Hati-hati Jebakan ini! #RD


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *