11 Rahasia Anak Broken Home yang Sering Disembunyikan, Maaf Dibocorkan!

Posted on

11 Rahasia Anak Broken Home yang Sering Disembunyikan, Maaf Dibocorkan!

diary broken home, diary anak broken home, catatan hati anak broken home, kata kata anak broken home, curahan hati anak broken home, rahasia anak broken home, isi hati anak broken home
Via: magic4walls.com

Sebagai anak broken home, sebenarnya keluarga menjadi salah-satu topik yang paling tidak nyaman untuk dibicarakan.

Kami melewati serangkaian perjuangan, yang tingkat kesulitannya hanya akan dipahami oleh kami sendiri. Maaf. Tak ada yang benar-benar bisa mengerti perasaan kami, kalau memang belum mengalaminya sendiri.

Betapa tidak, kami harus menyaksikan perpisahan diantara dua orang terpenting dalam hidup. Kami harus menerima kenyataan super pahit, yang kata mereka menjadi jalan terbaik. Dan, sebisa mungkin kami harus tak terpengaruh… well, mana mungkin?

Rumit, ya?

Kalau menjelaskan secara langsung, seringkali kami bingung harus dari mana. Kami linglung harus menjabarkan apa. Di balik kepala dingin dan dinding hati yang tenang, pikiran dan perasaan kami mendidih. Semuanya serba bergejolak.

Tetapi berikut inilah beberapa poin yang kerap kami pendam. Jom!

tembok di hati, diary broken home, diary anak broken home, catatan hati anak broken home, curahan hati anak broken home, rahasia anak broken home, isi hati anak broken home
Via: rebelcircus.com

#1. Kami “Mendirikan Benteng”, Bukan “Membangun Jembatan”

Hal ini sebenarnya berlawanan dengan apa yang dibilang orang. Seharusnya kami membangun jembatan, agar bisa saling terhubung secara mudah dengan orang lain. Tetapi kami malah mendirikan benteng kokoh, agar orang lain tidak mudah mendekat dan menanam rasa sayang.

Bisa dibilang, kami trauma. Kami sudah menyaksikan orang tua, yang dikira akan bersama-sama seumur hidup, malah saling meninggalkan satu sama lain. Kami belum siap untuk terlalu cinta, untuk terlalu percaya, untuk terlalu berharap, untuk ditinggalkan, dan diberi jejak berupa kepedihan. Kami tak ingin mengulang momen pedih yang sama, yang dilakukan oleh orang-orang berbeda.

Untuk itu, kami sangat menghargai usaha orang-orang yang keukeuh mendekat dan menjalin hubungan akrab. Kalau kamu sudah diberi kesempatan untuk memasuki hati kami, dimohon untuk tidak membuatnya lebih pecah. Kami masih sangat rentan.

#2. Adik dan Kakak adalah Segalanya

Adik dan kakak kami mengalami nasib yang sama, dan tersungkur pada labirin perjuangan yang sama juga. Dengan kata lain, mereka bisa mengalami rasa kecewa dan sakit yang kami rasakan. Hal itu membuat koneksi kami sangat kuat.

Setidaknya, mereka juga yang membuat kami bertahan, dan tak melakukan apa yang dilakukan seorang pecundang (bunuh diri). Kalau ada masalah dan tak ada tempat untuk bersandar, kami masih memiliki mereka. Tanpa berkata-kata pun, mereka sudah paham dan saling menguatkan.

#3. Single Parent adalah Superhero Sejati

Yang hidup dengan salah-satu orang tua saja pasti tahu, bagaimana perjuangannya pasca perceraian. Kita ada di sana ketika senyumnya tetap mekar di tengah kesulitan, ketika dia merawat dan membesarkan anak… sendirian. Kami selalu memiliki keinginan terpendam untuk meringankan bebannya, menyeka air matanya, menciptakan senyumnya, dan membuatnya bahagia.

#4. Komitmen dan Kepercayaan adalah Hal yang Sakral

Perceraian orang tua atau keadaan broken home bukan sesuatu yang terjadi kemarin, lalu setahun kemudian bisa dipupus begitu saja. Pengaruhnya selalu menempel. Termasuk ketika kami mencapai titik siap untuk berkomitmen.

Bagi kami, komitmen bukan perkara remeh. Ada ketakutan kalau apa yang terjadi pada orang tua, bisa terjadi juga pada kami. Tak ingin rasanya untuk hidup dalam penyesalan mendalam.

#5. Kami Cemburu Pada Keluarga Harmonis

Senyum getir bisa tersungging ketika melihat keluarga yang lengkap nan bahagia. Rasa iri menyeruak ketika memandang poto keluarga, postingan liburan keluarga di media sosial, melihat dengan mata kepala sendiri, atau mendengar cerita orang tentang keluarga sempurnanya.

Kami ikut bahagia atas senyum ceria mereka, tetapi kami tak kuasa menyaksikannya lama-lama. Diam-diam ada doa yang terpanjat; semoga senyum keluarga yang pernah dirasakan itu tak memudar seperti yang kami alami. Kami juga menghaturkan asa agar lembaran masa depan bisa menghadirkan jalan cerita yang lebih bahagia.

Selanjutnya: #6. Kami Membenci Perselingkuhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

10 + 1 =