Apa Kita Sudah Termasuk Sebagai Anak Broken Home?

Posted on

Apa Kita Sudah Termasuk Sebagai Anak Broken Home?

broken home, broken home adalah, anak broken home, ciri anak broken home, broken home indonesia, cerita anak broken home, diary anak broken home, psikologi anak broken home
By: Rob Woodcox via Flickr

Mendengar istilah “anak broken home”, apa yang ada dalam pikiranmu?

Sebagian orang mungkin memandang kalau anak broken home adalah mereka yang orang tuanya sudah berpisah atau bercerai. Well, tak salah sih, tapi tidak saklek betul juga. Bicara tentang kondisi broken home sebenarnya simpel, tapi njelimet juga. Nah?

Apa Arti atau Makna Broken Home?

Dalam Bahasa Inggris, kita mengenal istilah home dan house, yang artinya sama-sama rumah. Tetapi terdapat perbedaan besar bagi keduanya. House itu lebih ke bentuk fisik atau bangunan rumahnya. Ada tembok, lantai, pintu, ruangan-ruangan, dll.

Sementara home lebih emosional. Lebih dari sekadar tembok, lantai, pintu, dan ruangan-ruangan belaka. Badan dan jiwa kita terlibat di dalamnya. Home ini menjadi tujuan kita pulang, tempat beristirahat, mengenyam pendidikan, dan mencari kenyamanan.

Di home… kita memiliki pengasuh, pelindung, guru atau teladan, dan sahabat. Di sana… kita memiliki keluarga. Mereka yang membentuk jati diri, memberi pendidikan, mengenalkan budaya, dan membuat kita begitu disayangi. Mereka menjadi dunia kita yang layak diperjuangkan dan dijadikan sebagai alasan utama untuk bertahan dalam kehidupan.

Ada orang yang house-nya di desa Y atau kota Z, dan home-nya juga di alamat yang sama.

Ada lagi yang house-nya di desa Y atau kota Z, tetapi home-nya bukan di sana.

Secara bahasa, broken home sendiri artinya rumah yang hancur. Rumah yang di dalamnya terdapat keluarga yang sudah retak, terbagi, atau bahkan pecah berantakan. Anak-anaknya hanya tinggal bersama ibu saja, bersama ayah saja, ditinggal keduanya, “diserahkan” pada keluarga, dititipkan pada panti asuhan, diadopsi orang lain, dll.

Akibat dari Kondisi Broken Home

akibat broken home, anak broken home, kata kata anak broken home, catatan anak broken home, ciri ciri anak broken home, anak broken home notes, cerita anak broken home, diary anak broken home
Via: akellythornphotography.blogs.lincoln.ac.uk

Kita tak bisa benar-benar mengerti bagaimana keadaan seorang anak broken home, kalau kita sendiri belum pernah mengalaminya. Yang jelas, keadaan ini sangat destruktif. Maksudnya, anak produk broken home begitu rentan akan kehancuran. Kecuali kalau dia memiliki prinsip atau pegangan yang kuat, serta seseorang yang bisa sabar dan paham keadaan.

Anak broken home memiliki keadaan dan perjuangan yang lebih keras serta pedih dari yang lainnya. Kita bisa saja tersenyum atau bahkan terbahak-bahak. Tetapi hati dan pikiran kita tak pernah sepi dari peperangan, kecemasan, hal-hal yang ingin dijeritkan, dan kejengahan yang tak tertahankan.

Kondisi Lain yang Memiliki Efek Sama dengan Broken Home

Banyak sekali keadaan, di mana orang tuanya masih bersama (tidak bercerai), namun anaknya justeru merasa kalau keluarganya begitu hampa. Tak ada motto ‘rumahku surgaku’ baginya. Yang ada justeru sebaliknya, ‘rumahku nerakaku’. Beberapa keadaan itu antara lain:

  • Kedua orang tua yang bermusuhan blak-blakan di hadapan anak-anaknya. Mereka tak segan-segan untuk cekcok, saling bentak, bahkan saling lempar peralatan rumah tangga.
  • Orang tua yang seharusnya menjadi pahlawan, justeru jadi pihak yang melakukan kekerasan atau pelecehan. Prihatin sekali ketika ada berita tentang orang tua yang menyiksa fisik anaknya, mengeksploitasinya, tidak memenuhi hak dasarnya, kerap bercanda berlebihan sampai diam-diam menyakiti perasaan, atau malah menghancurkan masa depan anak dengan kelakuan bejatnya.
  • Orang tua menjadi pecandu; obat-obatan terlarang, minuman keras, perjudian, dll. Sehingga sang anak hanya bisa merasa kesepian dan ketakutan di tengah keluarganya sendiri. Apalagi ketika menyaksikan orang tuanya tak sadarkan diri lantaran mabuk, ikut repot ketika orang tuanya hangover, menjadi bulan-bulanan orang tuanya yang tengah ngefly, gigit jari karena jatah uang sekolahnya dijadikan bahan taruhan, dll.

Menurut Adam Austyn, penulis The Last Broken Home, istilah broken home bisa memiliki makna luas. Yakni sesuatu atau seseorang yang memberi efek sangat negatif, padahal mereka diharapkan menjadi pihak yang membuat kita belajar hidup lebih baik. Nahasnya, merekalah yang justeru membuat hidup kita dipenuhi rasa sakit, takut, dan benci.

Well, keadaan rumah dan keluarga yang hancur memang sangat manjur memahat luka. Tetapi bukan berarti tak ada pintu kebahagiaan yang terbuka. Kita yang sudah lebih kuat karena ditempa ujian hebat, masih bisa menemukan banyak kunci bahagia.

Serahkan dan percayakan pada-Nya. Ciri-ciri Kalau Kita Sudah Termasuk Sebagai Anak Broken Home. #RD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

13 + 14 =