Hindari Mengolok-olok atau Mencandai Anak-anak dengan 10 Hal Sensitif Ini

Posted on

Hindari Mengolok-olok atau Mencandai Anak-anak dengan 10 Hal Sensitif Ini

mengolok olok anak, apa dampak anak yang selalu diejek oleh kedua orang tuanya, dibully tapi bercanda, bullying bercanda, diejek orang terdekat, bercanda yang keterlaluan
Via: Canada.com

Ikut senang rasanya jika anak-anak tertawa lepas ketika bersenda-gurau dengan orang tuanya, kakaknya, omnya, tantenya, atau orang-orang dewasa lain di sekitarnya.

Bercanda memang bisa bikin hubungan jadi lebih akrab, hangat, dan kuat. Syaratnya cuma satu; candaan itu terasa fun atau seru bagi kedua belah pihak. Dengan kata lain, tak ada yang tersinggung atau tersakiti.

Tidak seperti aksi bullying terkutuk itu… di mana ada pihak yang tersiksa, terancam, dan direndahkan. Lalu ada pihak lain yang biadab, terbahak, merasa puas, dan merasa berkuasa. Tidak seperti itu!

Ceritanya, daku sempat menangkap reaksi yang berbeda dari dua keponakanku. Yang cowok, sekarang kelas 3 SD, kebetulan memiliki bobot badan berlebih. Dia pun menjadi “sasaran empuk” bagi orang-orang yang mengatainya.

Semakin tumbuh besar, dia jadi suka marah dengan olokan tentang berat badannya. Daku bahkan sempat tercekat ketika dia bilang ingin mengurangi makan agar tubuhnya kurusan dan tak diledek orang. Dia memang bisa terhindar dari ancaman obesitas. Tetapi daku perhatikan, dia adalah anak yang aktif bergerak, kok.

Lalu keponakan yang cewek, sama-sama kelas 3 SD, terlihat memalingkan wajah ketika ibunya menertawakan ‘selera’ sandalnya. Dia memang girly, dan suka yang blink-blink. Ibunya berkomentar kalau pilihannya itu norak, tetapi dia diam saja dengan wajah datarnya. Ketika daku tanya, dia bilang kalau pilihan ibunya itu terlalu simpel. Percuma belanja sesuatu yang dipakai olehnya, tetapi kemudian ditentukan oleh ibunya.

Aw~ ternyata dua keponakanku tidak nyaman diolok-olok begitu…

Dan daku membaca fakta mengerikan. Kim Fredericks menulis via RD, kalau beberapa topik bercandaan orang dewasa terhadap anak bisa memberikan efek fatal. Bahkan bisa menyebabkan rasa minder berlebih/ merasa rendah diri, depresi, was-was, dan marah.

Apa saja? Jom!

mengolok olok selera fashion anak, anak yang diejek orang tuanya sendiri, bercanda dengan anak, apa dampak anak yang selalu diejek oleh kedua orang tuanya, dibully tapi bercanda, bullying bercanda, bercanda yang keterlaluan dengan anak
Via: spring.st

#1. Berat Badan

Semakin tumbuh, mereka akan semakin sadar kalau berat badan berlebih itu ternyata akan jadi “pusat perhatian”. Ya, terpengaruh stigma masyarakat gitulah. Mereka juga sebenarnya mulai tidak pede atau minder. Kita tentu akan jadi sosok super jahat jika semakin mengolok-olok mereka, misal, ‘anak SD ‘kan, Dek? kok pake baju ukuran om-om?’. Ouch!

#2. Selera Fashion

Pelan tapi pasti, anak-anak akan mulai belajar mengenakan baju sendiri. Bahkan mereka mulai memilih outfit mana yang akan dipakainya. Ketika kita mengejek bahkan menertawakan selera pakainnya, bisa jadi harga diri mereka akan lecet. Perih juga.

Gaya berpakaian bisa menjadi ekspresi seseorang. Biarkan anak merasa diberi kesempatan dan kebebasan dalam memilih style, warna, motif, dll, sendiri. Jangan terlalu mengekang atau bahkan ‘membully’-nya. Kecuali, kalau mereka mulai menjatuhkan pilihan pada gaya yang provokatif. Misalnya ingin dari atas ke bawah serba hitam, warna terlalu cerah dan bertabrakan, atau terlalu mengumbar auratnya (apalagi muslim). Di saat itu, orang tua bisa hadir untuk mengarahkan dan menjelaskan secara gentle kenapa pilihan outfitnya keliru.

#3. Rasa Takut

Sudah banyak yang saling mengingatkan kalau kita sebaiknya tidak mempermainkan anak dengan ‘menakut-nakuti mereka’. Apalagi kalau sumber rasa takut itu tidak logis. Misalnya ‘hiiiy.. nanti ditangkap pak polisi loh!’, ‘awas kena suntikan dokter!’, ‘serem! di bawah ranjang ada monster!’, ‘di balik gorden ada hantu loh!’, dll.

Parahnya, ketika anak menjerit ketakutan, kita justeru akan terbahak-bahak. Lucu, sih, tapi juga sangat jahat. Sebab apa yang kita lakukan itu bukanlah solusi untuk mengatasi rasa takut mereka. Sebaliknya, kita harus memastikan kalau mereka merasa aman dan nyaman, bukan justeru seram dan terancam.

#4. Sikap Pemalunya

Karakter dasar seperti introvert dan ekstrovert, bisa mulai terbentuk ketika kecil. Begitu ada anak yang terlihat pendiam dan malu-malu, sebaiknya kita tidak menggoda anak tersebut. Apalagi di depan orang banyak.

Ajak mereka ke tempat umum, taman bermain, bergabung bersama teman-temannya yang lain, dll. Biasanya anak akan berbaur sendiri. Tetapi kalau tidak, kalau mereka tetap menyendiri seolah-olah memiliki dunianya sendiri, mungkin orang tua harus mengambil tindakan. Misalnya konsultasi dengan guru BP di sekolah, atau juga psikolog.

#5. Pendidikan atau Nilai Akademisnya

Ketika anak mendapat nilai kecil, bukan kita saja yang kecewa, mereka juga. Mereka lebih dahulu ‘marah’ terhadap dirinya sendiri karena tak bisa mendapat nilai besar, tak bisa membanggakan orang tua, atau jadi bahan tertawaan teman sebayanya. Kejam juga kalau kita langsung mengolok-olok mereka sebagai ‘anak ranking 1 dari urutan terakhir’.

Kita memang tak bisa membiarkannya begitu saja, melainkan memberi motivasi lembut. Kalau pun bercanda, pastikan candaannya lucu dan membuat mereka tertawa. Bukan malah sebaliknya. Selain, kita juga harus lebih peka pada segala kemungkinan yang membuat prestasi mereka kurang. Mungkin karena faktor bawaan, lingkungan, memiliki minat lain di pelajaran, stress, atau justru jadi korban bullying.

Selanjutnya: #6. Urusan Materinya


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *