10 Pengalaman dan Momen Tak Terlupakan Bagi Anak Broken Home

Posted on

10 Pengalaman dan Momen Tak Terlupakan Bagi Anak Broken Home

pengalaman anak broken home, pengalaman hidup anak broken home, diary anak broken home, cerita anak broken home, kisah nyata anak broken home, cerita sedih anak broken home, catatan hati anak broken home
Via: womensforum.com

Angka perceraian dan potensi broken home di Indonesia terus naik!

Pernyataan memilukan ini dilansir dari Tribunnews.com (16/02/2017). Dari fakta ini, jelas sudah kalau jumlah anak-anak yang kena efek perceraian orang tua atau broken home pun meningkat. Hhh…

~

Selama tak terjadi gangguan apa pun, memori kita akan menyimpan banyak momen dengan baik. Mungkin ada yang sudah memudar, namun banyak juga yang masih jelas dan berpengaruh sampai sekarang. Mulai dari kenangan manis, sampai dengan yang sangat pahit.

Ironisnya, sesuatu yang manis namun sudah berstatus sebagai kenangan itu justeru menyesakkan. Sedangkan sesuatu yang pahit namun sudah berstatus sebagai kenangan itu, malah menjelma jadi lembaran kisah dan peti hikmah yang sangat berharga.

Orang bilang, tak apa nengokin masa lalu, asal jangan sampai balik lagi dan menetap di situ.

Nah, berikut ini beberapa momen dan pengalaman yang tak terlupakan oleh anak-anak broken home. Jom!

  1. Masa-masa Bahagia

Ada momen di mana kami seperti ‘terlempar’ ke keadaan keluarga yang baik-baik saja. Kami malah bisa berkumpul bersama kedua orang tua lengkap dan menjalani aktivitas seperti keluarga pada umumnya. Kami makan bareng, bercanda, nonton TV bersama, dimanjain, dll. Ah, semua itu sudah tak terjadi, tapi cuplikan-cuplikan itu tersimpan rapi dalam memori.

  1. Masa-masa ‘Ada yang Tidak Beres’

Ada orang tua yang bisa menyembunyikan perang mereka, ada yang ‘kebobolan’, dan ada juga yang terbuka begitu saja. Kami ingat ketika mereka perang dingin, terlibat cek-cok, saling melempar pandangan yang penuh kebencian, dll.

Di saat itu, kami juga ingat, betapa takut dan cemasnya diri ini. Suasana sudah tidak harmonis. Ada yang tidak beres dengan keluarga. Tapi mau bagaimana, kami memang tak berdaya.

  1. Masa-masa Perceraian itu Tiba

Anak, khususnya yang sudah paham, biasanya dilibatkan dalam rencana perceraian orang tua. Kami sudah tahu kalau aroma perceraian itu semakin menyengat, tetapi tetap saja ada perasaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata ketika keputusan bercerai itu datang. Kami masih ingat ketika mereka mengatakan, ‘mantan istri atau mantan suami itu ada, tetapi mantan anak itu enggak ada’, atau ‘kami tetap menyayangi dan bertanggung-jawab padamu’.

  1. Rasa ‘Yang Tak Sama’

Ada spot di mana ayah duduk bersila sambil nonton berita, ibu selonjoran di beranda sambil ngobrol dengan tetangga, lalu kami mengerjakan pekerjaan rumah di kamar atau ruang tengah. Pasca perceraian, pemandangan itu berubah jadi ilusi. Tak ada momen seperti itu lagi.

  1. Kebersamaan Dengan Salah-satu dari Orang Tua

Meski orang tua sudah bercerai, namun hak dan kewajiban pada buah hati tidaklah berubah. Kami masih menjadi anak yang legal bagi ayah atau ibu. Bedanya, kami harus terbiasa menghabiskan waktu dengan salah-satu dari mereka saja.

Sekarang dengan ayah, lalu nanti dengan ibu. Tak ada lagi momen menikmati waktu bersama keduanya di waktu yang sama.

Ketika bersama salah-satu dari mereka, ayah atau ibu lama-lama bertingkah seolah tak pernah terjadi apa-apa. Tetapi terasa sekali, mereka memeluk lebih lama. Mata mereka juga sering kepergok berkaca-kaca. Mereka benar-benar berusaha untuk pura-pura strong, tegar, dan tak terpengaruh. Lama-lama kami pun begitu…

diary anak broken home, diary depresiku anak broken home, catatan hati anak broken home, curahan hati anak broken home, isi hati anak broken home, anak broken home's notes, kata kata anak broken home
Via: shutterstock.com
  1. Perasaan Rumit Pasca Perceraian

Ada anak yang paham kalau perceraian orang tua itu merupakan keputusan bersama, dan jadi keputusan akhir terbaik yang jadi pilihan bersama juga. Kami paham kalau perpisahan lebih dipilih daripada orang tua hanya saling menyakiti, atau hanya saling melebarkan dosa-dosa. Misalnya perceraian dipilih karena ayah begitu kasar, ibu menjadi pecandu, ada pihak ketiga, dll. Alasan-alasan seperti itu membuat anak maklum atas perpisahan orang tua.

Ada perasaan lega, tetapi campur sedih, hampa, kecewa, dsb. Kompleks juga. Kami bahkan mungkin harus menahan air mata di depan orang tua, agar mereka tidak merasa bersalah atau terbebani. Tetapi kalau sedang sendirian, air mata pasti keluar dengan leluasa.

Faktor luar pun amat sangat berpengaruh. Kalau dikelilingi oleh orang-orang yang kurang tepat, kami pasti akan sangat mudah terjerembab. Kami sangat rapuh. Kami berpeluang untuk melanggar aturan, mabuk-mabukan, menggunakan obat-obatan terlarang, menghancurkan diri sendiri, dll. Sebaliknya, kalau kami bersama orang-orang yang supportive dan tepat, masa depan yang lebih cerah pasti mudah untuk didapat.

  1. Sempat Sangsi Akan Cinta dan Kepercayaan

Kami perlu waktu, bahkan mungkin terapi, untuk melalui masa-masa sulit ini. Ironis saja menyaksikan dua insan yang dulunya saling jatuh cinta, memiliki keturunan, lalu saling bermusuhan, dan kemudian berpisah. Hal ini pasti sangat berpengaruh terhadap kehidupan kami sendiri. Ada perasaan yang berkecamuk ketika mengenal cinta, merasakan jatuh hati, merencanakan pernikahan, atau membuat gambaran akan rumah tangga sendiri.

Orang tua yang sudah berpisah juga bisa ‘menjadi racun’ ketika mereka saling mengumbar kejelekan dan kebencian masing-masing. Apalagi kalau keduanya saling memprovokasi! Karena itu, peran keduanya sangat penting. Seyogyanya mereka masih bisa saling respect.

  1. Hadirnya ‘Orang Baru’

Aneh rasanya ketika ada wacana kalau kedua orang tua atau salah-satu diantara mereka memiliki kekasih, yang kemudian berstatus sebagai calon ibu atau ayah baru. Kami tentu tak bisa langsung menerimanya. Perlu waktu dan adaptasi yang tak sederhana. Ada pun sikap baik yang diperlihatkan, awalnya hanya sebagai norma sopan-santun belaka.

Belum lagi dengan olokan kawan-kawan atau orang lain. Mereka yang menjalin asmara, tetapi kami juga yang kena getahnya. Cukup annoying.

  1. Menyaksikan Transformasi Orang Tua

Masih hangat di ingatan ketika orang tua masih bersama. Mereka terlihat uring-uringan, sering melamun, menangis ketika solat atau beribadah, ekspresinya galau, konsultasi sana-sini, dll. Sampai kemudian mereka menetapkan langkah berat untuk berpisah.

Mereka kemudian berstatus duda/ janda, menjadi single parent, atau mungkin lebih jeli ketika hendak merajut hubungan yang baru. Tetapi mereka juga terlihat lebih lega, tenang, lepas, dan bahagia. Kehidupan yang sempat bergejolak pun berangsur-angsur reda.

  1. Adanya Titik Terang dan Berbagai Hikmah

Trauma akan masa-masa sulit perceraian memang selalu ada. Tetapi seiring berjalannya waktu, akan muncul kesadaran kalau perceraian sudah menghujankan banyak pelajaran. Perceraian memang menjadi keputusan yang paling dibenci Tuhan YME, tetapi cara ini bisa jadi solusi terbaik juga untuk mengatasi pernikahan yang tak bahagia. Lagipula tak ada sesuatu yang terjadi tanpa restu dari-Nya.

Pengalaman pahit ini bukan akhir dari segalanya. Kami bisa mulai menata kehidupan baru yang lebih bahagia dan bermanfaat. Kami bahkan harus bahu-membahu untuk saling membantu. Bagaimana pun, efek perceraian tak hanya menimpa anak, melainkan orang tua juga.

Masa lalu memang tak bisa diedit atau diubah lagi, tetapi bukan berarti kami tak ada kesempatan untuk hidup lebih baik. Kami masih memiliki kesempatan di masa sekarang dan masa yang akan datang. 10 Pengalaman dan Momen Tak Terlupakan Bagi Anak Broken Home. #RD

One thought on “10 Pengalaman dan Momen Tak Terlupakan Bagi Anak Broken Home

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

20 + 6 =